ajarin gue buat lupain kejadian ini

“darimana?”, cakra bertanya kepada hazel yang akhirnya kembali ke hadapan cakra setelah beberapa menit yang lalu ia pergi meninggalkannya sendiri.

tanpa menjawab hazel langsung menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi obat-obatan kepada cakra.

cakra mengambil kantong plastik yang diberikan oleh hazel kepadanya. ia membuka dan melihat apa isi di dalamnya. cakra melihat ada beberapa obat-obatan seperti salep dan anti septik.

“makasih”, ucap cakra.

bukannya menjawab ucapan terimakasih dari cakra, hazel malah menunduk dan segera melangkahkan kakinya pergi. namun sebelum dirinya pergi, tangan kekar cakra segera menahannya untuk tidak pergi.

“duduk”, cakra menahan tangan hazel dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

hazel menggeleng, dirinya tidak ingin duduk di samping cakra untuk saat ini.

“gue tau lo habis nangis”

hazel terkejut mendengar pernyataan yang dikatakan oleh cakra.

“sini duduk, gue gak keberatan kalo lo mau nangis di depan gue”

“gue gak nangis, jangan sok tau.”

kebenaran saat ini adalah, memang benar hazel baru saja menangis saat perjalanan menuju ke apotek, namun bukannya jujur kepada cakra ia malah mengelak dengan menunduk dan menutupi mata sembap nya. tapi disisi lain, ada sesuatu yang membuat hazel curiga. bagaimana cakra tau kalo dia habis nangis?, apakah cakra mengikutinya dari tadi?, pikirnya.

“jangan nunduk”

“gak.”

“lo yakin mau nunduk terus sambil berdiri sampek bulan ganti jadi matahari?”

oke fine, kini hazel harus segera duduk. kakinya mulai terasa pegal, begitu juga dengan telinganya yang sudah panas mendengar celotehan dari cakra.

“dari tadi kek”, cakra melepaskan genggamannya dari tangan hazel dan membiarkan hazel duduk di sampingnya. namun bukannya melihat ke arahnya, hazel tetap menunduk ke arah bawah.

“yang tadinya cuma main-main, sekarang malah dimainin”...“dari kepercayaan, jadi penghianatan”, ujar cakra sembari melihat ke arah hazel.

hazel yang mendengarnya pun langsung mendongak, dan menatap intens wajah cakra.

“maksut lo?”, hazel bertanya kepada cakra, apa maksut dari perkataannya barusan.

“obati dulu muka gue”, cakra malah meminta hazel untuk mengobati lebam di wajahnya daripada menjawab pertanyaan darinya.

“jawab gue.”

“obati dulu, jawabnya bisa ntar”

“cakra.”

“buruan, muka gue bonyok semua”

dengan sangat terpaksa akhirnya hazel memutuskan untuk membantu cakra mengobati luka lebam di wajahnya. ia mengambil kantong plastik yang berisi obat-obatan di sampingnya dan segera mengoleskan salep ke wajah cakra yang terdapat luka dan lebam.

saat hazel tengah meniup luka di wajah cakra, matanya tanpa sengaja saling menatap antara satu sama lain, hingga membuat hazel menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap netra hitam cakra. sama halnya dengan cakra, ia juga menatap lekat netra hitam hazel. satu hembusan angin yang lewat diantara mereka membuat tatapan itu buyar seketika, dan membuat mereka berdua saling membelakangi antara satu sama lain.

“ud-udah gue obati”

“thanks”

kejadian barusan mengantarkan mereka berdua pada kecanggungan sesaat.

“gue dulu cuma main-main sama perasaan cewek, dan dalam sekejap gue bisa naroh perasaan sama cila. tapi perasaan itu dibuang begitu aja sama dia, tanpa mikirin perasaan yang masih gue simpen dan jaga sampek sejauh ini”, gak ada petir gak hujan, tiba-tiba saja cakra menjelaskan panjang lebar perihal kisah cintanya dengan cila kepada hazel.

setelah mendengar cerita panjang lebar yang keluar dari mulut cakra, hazel mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cakra. ia benar-benar menaruh hati kepada sang sahabat, cila. namun apa yang cila lakukan kepada cakra, dirinya malah tega menduakan perasaan yang telah ia jaga mati-matian demi dirinya.

“ternyata gak selamanya orang yang kita percayai, bisa tulus ngejaga kepercayaan ini”

“gak seharusnya lo percaya sama setiap orang yang lo anggep baik”

“kenapa lo bisa ngomong gini?”

cakra yang ditodong pertanyaan itu seketika bungkam.

“cak?”

“ajarin gue buat lupain kejadian ini”

“cakra...”

“gue cuma gak mau nginget sosok wanita yang udah nge duain perasaan gue sama laki-laki lain”

sorry cak, gue beneran gak mau ikut campur urusan lo sama cila”

“kontrak...”

please stop bicarain ini cak. jangan bahas masalah ini di depan gue lagi. kalo perlu gue bakal bayar semau lo, asal kita udahin taruhan ini.”

“gue gak bisa.”

...

– quersnda