arena

baru saja hazel membicarakan yasa dengan cila lewat ponsel, namun ternyata orang yang dibicarakan sudah berada di depan pagar rumah hazel. hazel yang melihatnya segera bergegas keluar kamar dan menemui temannya itu, namun saat dirinya ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang.

“hazel?” panggil seorang wanita dibelakangnya, “mau kemana malem-malem?” tanyanya.

“eh bunda?” yup benar. suara itu berasal dari bunda hazel.

“kamu mau kemana keluar diem-diem?”

“aku mau keluar sama yasa bun”

“kemana?”

“eh itu, aku mau ngerjain tugas sama yasa”

“cila ikut?”

“cila lagi pergi sama keluarnya”

“WOII ZELL” terdengar teriakan dari luar rumahnya, benar saja itu suara yasa. “JADI KE ARENA GAK?” yasa berteriak cukup keras hingga membuat suaranya terdengar sangat jelas sampai ke dalam rumah hazel.

sang bunda yang mendengar kata “arena” itu menyeringai bingung, “arena?”

yasa sialan, gue sumpahin motor lo kejebur got besok berangkat sekolah, mungkin umpatan itu yang di lontarkan hazel dalam hatinya.

“eh itu bun maksudnya yasa mau ngajak nobar balapan di rumahnya, kan kalau balapan latarnya harus pake arena yang luas” hazel terpaksa berbohong kepada sang bunda, jika tidak mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah.

“hazel?” sang bunda menatap teduh netra hitam hazel.

hazel yang melihat dalam tatapan bundanya itu tidak bisa berbohong, dirinya menundukkan kepala karena merasa bersalah telah membohongi bundanya, “maaf” ucap hazel.

“kalo kamu emang mau ke arena sama yasa bunda gak bakal larang...” sang bunda kembali berbicara, “tapi kalau kamu bohong sama bunda, bunda bakal marah sama hazel” lanjutnya.

hazel yang mendengar itu pun merasa sangat bersalah, walau bundanya sudah berkali-kali menginginkannya jangan pernah berbohong kepadanya, namun dirinya tidak bisa. selalu ada hal yang tidak bisa ia katakan kepada sang bunda, entah itu urusannya pribadi atau dengan orang lain.

“lain kali jangan bohongin bunda ya?” bunda mengelus pelan pucuk rambut hazel lalu pergi meninggalkannya begitu saja di depan pintu rumahnya.

“huft...” helaan nafas pelan terdengar dari diri hazel.

teringat janjinya dengan yasa beberapa jam yang lalu hazel segera membuka pintu rumahnya dan bergegas menghampiri yasa yang sedari tadi sudah menggedor-gedor pagar rumahnya dengan menggunakan palu. kebiasaan yang aneh namun nyata, yasa selalu membawa palu di jok motor nya untuk menggedor-gedor pagar rumahnya jika saja ia tidak segera keluar saat ia panggil, ngeselin banget gk sih?.

hazel segera membuka pintu gerbang rumahnya dan saat itu juga ia melihat diri yasa dengan wajah kusut dan palu di tangannya.

“sorry saa” hazel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “tadi ada masalah dikit”.

“lo liat ini jam berapa?!” yasa meninggikan suaranya kepada hazel, mungkin saking kesalnya yasa dengan hazel.

“baru juga jam delapan sa”

“tau gini gue berangkat duluan” yasa sudah bersiap menyalakan motornya, namun dihentikan sejenak oleh hazel.

“ngapain?”

“gue belum naik anjg, jangan main tinggal-tinggal”

“siapa sih zel yang mau ninggalin lo?, belum juga gue nyalain motor” hanya ada senyum paksaan di wajah yasa, “buruan naik, mau gue tinggal!?”, yasa terlihat geram sendiri dengan tingkah laku hazel, sepertinya malam ini akan panjang jika dirinya tidak mengakhiri semua ini dengan cepat.

“eh iya ini mau naik” baru saja hazel ingin naik dan yasa menyalakan motor, “eh bentar sa” seketika suara hazel mengentikan aktifitas yasa untuk segera menyalakan mesin motornya.

“lo mau gue tinggal apa lempar ke kali sih zel?!, bawel banget tinggal naik” kesabaran yasa sudah diambang batas, mungkin kini dirinya sudah tertinggal satu putaran karena temannya ini.

“helm gue mana?!” tidak disangka, ternyata yasa melupakan prioritas keselamatan dalam berkendara, helm milik hazel.

“zel...”

“jangan bilang lo lupa bawa helm gue?!” hazel menebak dengan tepat.

“gue lupa zel” kali ini bukan yasa yang geram, melainkan hazel yang geram dengan ulah lalai temannya.

“kok bisa sih?!”

“ya mana gue tau”

“terus gue gimana dong?!”

“rumah lo gak ada helm?”

“ya kali gue masuk lagi?”

“lo mau ketilang polisi?”

“ini udah malem, mana mungkin ada polisi”

“lo kira polisi cuma muncul pas siang doang?” tanya yasa, “polisi kembarannya kunti kali, mau muncul pagi, siang, sore, malem kek serah dia” lanjutnya.

benar juga yang dikatakan yasa, polisi akan terus berjaga selama 24jam di negara hukum, jika dirinya melanggar dan tertangkap pasti akan sangat merepotkan bagi orang tuanya. “yaudah gue ambil helm bentar ke dalem” hazel meninggalkan yasa di depan rumahnya sendiri dan segera bergegas masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil helm.

“telat dah gue, abis dah permainannya. nyesel gue iyain ajakan lo” gumam yasa.

...

– quersnda