bareng

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak bersahabat, terlebih lagi di sma neo yang kini tengah diguyur hujan lebat.

semakin berjalannya waktu, siswa & siswi di sma neo mulai meninggalkan sekolah, hanya menyisakan beberapa murid yang kini tengah meneduh, tak terkecuali hazel. dirinya menunggu hujan reda agar bisa berjalan pulang. bukannya menunjukkan tanda-tanda hujan akan berhenti, malah kini hujan semakin bertambah deras, dugaan hazel salah besar. saat hazel tengah berdiri sambil menatapi langit, tiba-tiba saja kilat menyambar hingga membuat dirinya terkejut setengah mati.

“ngapain disini?”, kejut cakra.

hampir saja hazel dibuat jantungan karena suara petir, kini dirinya malah dikejutkan dengan kedatangan seorang yang tak ia harapkan keberadaannya.

“harusnya gue yang nanya, ngapain lo disini?!”

bukannya menjawab pertanyaan cakra, hazel malah bertanya balik kepada cakra.

“gue anterin pulang”, ajak cakra.

tawaran dari seorang cakra kepada hazel berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata.

“niat gue baik”, imbuhnya.

“gak perlu”, tolak hazel.

“lo mau disini sampek beku?”

sejujurnya yang dikatakan oleh cakra ada benarnya juga. namun hazel tetaplah hazel, seorang gadis keras kepala. hazel tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap menolak ajakan cakra.

“tinggal jawab iya apa susahnya?”

cakra sudah bersiap ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapan hazel. beberapa langkah ia ambil dan...

“gue mau”

ajakannya diterima oleh hazel. cakra tersenyum sarkas dari balik tubuhnya.


“makasih.”, hazel turun dari jok motor cakra dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada cakra, karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat.

“makasih doang?”...“di dunia ini gak ada yang gratis”, imbuh cakra.

hazel sudah menebak dari awal, seorang cakra tidak mungkin mempunyai niat baik terhadap dirinya, pasti di balik niat baik itu terdapat lubang yang bisa cakra gunakan untuk menariknya masuk ke dalam.

“terus?”, tanya hazel.

“kontrak gue sam—”

“stop!”

belum sempat cakra melanjutkan kalimatnya, hazel sudah memotongnya lebih dulu, hal itu pula yang membuat seorang cakra geram terhadap hazel.

“sopan santun lo dimana pas orang ngomong?”, cakra turun dari motornya dan berdiri tepat di depan hazel.

tidak peduli dengan posisi cakra yang kini tengah berdiri di depannya, hazel menatap netra hitam cakra dengan tajam, “gue tau lo mau bicara soal taruhan tadi malem, tapi sorry, gue sekarang udah berubah pikiran. gue gak bakal mau lo jadiin babu buat setahun, mau lo bayar gue semahal apapun gue gak akan nerima tawaran lo”...“dan satu lagi, bukannya lo tadi pagi marah-marah gak jelas sama gue ya?, kenapa tiba-tiba sekarang jadi baik sama gue?”, timpal hazel.

selesai berbicara panjang lebar, hazel pergi begitu saja meninggalkan cakra seorang di depan gerbang rumahnya.

cakra menatapi punggung hazel yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. setelah hazel benar-benar hilang dari hadapannya, ia memilih untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman hazel dengan perasaan campur aduk, antara marah dan bingung.

read more...