bareng pt²

hari yang cukup melelahkan bagi seorang hazel, mulai dari bangun pagi, bantuin masak bunda, sekolah dari pagi sampek sore, pulang, mandi, makan, belajar, lalu hal yang paling ia nantikan adalah tidur. setiap hari pun juga sama seperti ini, mungkin ini sudah menjadi roda kehidupan bagi hazel.

berjalan gontai dari meja belajar menuju kasur yang sangat ia rindukan. tanpa aba-aba lagi hazel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. merebahkan tubuhnya sambil melihat langit-langit kamarnya, mencoba untuk menenangkan sejenak pikiran dan melupakan semua masalah yang ia lewati hari ini.

saat hazel tengah memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat, ponsel di sampingnya bergetar, alhasil ia harus bangun dan melihat siapa yang menelfon nya malam-malam seperti ini.

*cakra is calling...

terkejut?, pasti. panggilan dari nama yang tertera di layar ponselnya itu membuat mood hazel menjadi buruk.

hazel tidak mengangkat panggilan tersebut, ia lebih memilih untuk mendiamkannya. mau berapa kali nomernya terus di panggil, ia tetap tidak akan menggubrisnya. beberapa menit setelahnya tidak ada getaran sama sekali dari ponselnya, mungkin laki-laki itu sudah tidak menelfon nya lagi, pikir hazel.

“hazel...”, panggil sang bunda dari balik pintu kamarnya.

mendengar itu hazel segera bergegas dari atas tempat tidur untuk segera membukakan pintu kamarnya.

cklek...

“kenapa bun?”, tanyanya kepada bunda.

“temen kamu nyariin dari tadi di bawah”

terdiam sejenak, hazel berfikir siapa teman yang datang ke rumahnya malem-malem seperti ini tanpa mengabari dirinya. apakah itu yasa?.

“turun dulu zel, kasian dia nunggu kamu dari tadi”, bunda menyuruhnya untuk segera turun, “zel, kamu kok gak pernah bilang sama bunda kalo punya temen cowok selain yasa”, imbuhnya.

“bun, temen aku cowok cuma yasa doang...”

mendengar itu bunda menaikkan kedua bahunya, seperti memberi isyarat bahwa dirinya juga tidak tahu.

hazel penasaran dengan laki-laki yang di maksud bundanya itu, akhirnya ia segera bergegas turun dari kamarnya menuju ruang tamu agar bisa melihat siapa orang yang di maksud sang bunda, dan saat dirinya tiba di bawah...

“cakra?”, gumamnya.

cakra yang tengah menunduk sambil bermain ponsel, mendongak melihat sosok hazel di depannya.

“lo ngapain anjg di rumah gue!?”, hazel berjalan mendekat ke arah cakra dan menatapnya dengan tajam.

“numpang makan”, cakra balik menatap netra hitam hazel dengan tatapan datar, seolah tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh hazel.

hazel yang mendengar jawaban cakra sempat ingin menonjok wajahnya, namun usahanya gagal karena sang bunda tiba-tiba turun dan menemui mereka berdua.

“kalian kenapa berdiri?, ayo duduk dulu, bunda bikinin minum”, titah sang bunda.

“maaf tante, niat saya kesini cuma mau ngajak hazel pergi”, cakra to the point dengan urusannya kali ini. dirinya ke rumah hazel karena ada niatan, bukan sekedar ingin bertamu.

hazel yang mendengarnya melongo, matanya melotot menatap cakra.

“kalian mau pergi kemana malem-malem gini?”, tanya bunda kepada hazel dan cakra.

“bun—”, baru saja hazel ingin menjawabnya, namun cakra sudah lebih dulu buka suara.

“ngajak makan ke cafe!”, sahut cakra.

hazel menatap cakra lalu mengerutkan keningnya. tak berselang lama cakra balik menatap dirinya dan tersenyum penuh arti, seolah dirinya harus meng-iyakan perkataan cakra.

“kalau gitu kalian pergi aja sekarang, nanti keburu malem”

mendengar persetujuan dari sang bunda, hazel rasanya ingin mencabik-cabik mulut cakra. bisa-bisanya dia berbohong kepada bundanya, dan bodohnya lagi kenapa bunda harus percaya kepada cakra.

lain hal nya cakra, dirinya tersenyum manis kepada bunda hazel, seolah sangat berterimakasih karena telah mengizinkannya untuk membawa hazel pergi dengannya malam ini.

“bunda...”, hazel merengek kepada sang bunda agar tidak jadi mengizinkannya pergi dengan cakra.

“sana ganti baju, kasian temen kamu udah nungguin”

namun nihil, usahanya merengek kepada sang bunda sia-sia, ia tetap harus pergi dengan cakra. cowok paling nyebelin yang pernah ia temui, lebih nyebelin dari yasa.

“buruan, waktu gue mepet”, cakra berbisik kepada hazel.

hazel berdecak kesal.

“kalau gitu bunda pergi dulu ke kamar, kalian hati-hati di jalan”

bunda pergi meninggalkan hazel sendiri di bawah bersama cakra seorang.

“buruan ganti”

“gak.”

“zel”

“najis, jangan manggil nama gue.”

“sok suci”

“daripada lo sok iya”

“waktu gue mepet”

“bukan urusan gue”

“belagu banget lo jadi cewek”

“daripada lo, jadi cowok sombong banget”

cakra menghela nafas pendek, ternyata tidak mudah untuk mengajak seorang hazel pergi keluar dengannya.

“sekali ini aja lo tolongin gue. gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo, apalagi minta lo buat jadi babu gue”, jelas cakra.

“pokoknya gue gak mau.”, hazel tetaplah hazel, ia menolak mentah-mentah ajakan cakra. dirinya berfikir bahwa cakra hanya berkata manis di awal dan akan berakhir pahit di belakang.

“gue bayar”

“gue bilang gak mau.”

cakra sudah hampir menyerah untuk mengajak hazel pergi, namun ia teringat dengan tujuannya. dirinya tidak boleh pergi sebelum bisa membawa hazel ikut dengannya.

tidak ada cara lain, kini hanya ada satu cara di benak cakra, yaitu, menarik paksa hazel keluar rumah.

tanpa berfikir dua kali, cakra menarik salah satu pergelangan tangan hazel keluar rumah hingga membuat sang empu berteriak supaya melepaskan tangannya.

“eh anjg lo mau bawa gue kemana!?”

“diem.”

sesampainya di luar rumah cakra melepaskan pergelangan tangan hazel. namun kini hazel malah memaki-maki dirinya.

“sakit anjg main tarik tangan orang”, protes hazel.

“harusnya tadi lo nurut, kalo iya gak bakal gue tarik-tarik tangan lo”

cakra menatap datar hazel, dirinya tidak lagi ingin berdebat dengannya.

“naik.”, cakra sudah memberi isyarat agar hazel segera ke atas jok motornya. namun sayang, hazel tetap diam di tempat dan tak menggubris dirinya.

kembali menghela nafas, cakra hanya bisa sabar kali ini menghadapi hazel. untung saja cuma satu malam ini.

cakra menghampiri hazel yang berada di belakangnya dan langsung memakaikan helm di kepalanya. hal ini juga yang membuat hazel menatap kaget dirinya.

“muka gue seganteng itu?”

suara dari cakra berhasil membuyarkan tatapan hazel.

“dih pede banget!”, hazel mencoba terlihat untuk tetap calm dihadapan cakra, walau kini jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

cakra terkekeh sekejap melihat ekspresi wajah panik hazel yang dirinya anggap lucu.

“lo ketawa?”

“buruan naik, waktu gue hampir habis”

“lo beneran ketawa?”

“zel.”

“jangan manggil nama gue!”

“terus?”

“panggil aja mbak, kan bisa”

“gue seumuran”

“intinya jangan manggil gue hazel, mau disini apa dimana aja”

“serah”

“lo mau ajak gue kemana, sih?”

“banyak bacot lo, buruan naik atau gue tinggal!?”

“tinggal aja gapapa”, hazel menjawab dengan melampirkan senyum manisnya.

terlalu lama bagi cakra menunggu hazel berkata iya. jika dirinya tidak segera bertindak, mungkin hazel tidak akan pernah naik ke atas jok motor nya.

cakra sudah berdiri di depan hazel. dengan sangat terpaksa, dirinya mendekat ke arah hazel. jarak antara mereka berdua hampir tidak memiliki celah. saat cakra ingin maju selangkah lagi...

stop. lo mau ngapain!?”

hazel berhasil menahannya.

“gendong, kenapa?”

kini hazel dibuat bungkam oleh cakra, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi. entah apa yang membuatnya bungkam kali ini. namun intinya hari ini ia tengah dibuat shock oleh seorang cakra.

“lo mau naik apa lanjut gue gendong?”

“hah?”...“eh iya ini mau naik”

akhirnya, setelah usaha yang cukup panjang bagi cakra untuk bisa mengajak hazel pergi dengannya.

...

– quersnda