darah?
waktu istirahat belum usai, oleh karena itu sehabis dari kantin hazel memutuskan untuk pergi ke halaman belakang sekolah, yang mana di sana terdapat sebuah gudang usang, tempat dimana hazel, yasa, dan cila melarikan diri dari bisingnya suasana sekolah, dulu.
sudah lama hazel tidak menjenguk gudang usang tersebut sejak satu tahun yang lalu, dimana dirinya, yasa, dan cila mengalami kejadian aneh di dalam gudang itu.
saat hazel tengah berjalan sambil memperhatikan depan, tanpa sengaja ia melihat sesosok laki-laki berseragam yang tengah duduk sambil bersandar di tembok. hazel penasaran dengan sosok laki-laki tersebut, namun saat hazel ingin melangkahkan kakinya menghampiri laki-laki itu, ponsel yang ia genggam bergetar. hazel mendapat pesan dari temannya yasa. sejenak hazel membalas pesan dari temannya tersebut, setelah itu ia kembali fokus pada laki-laki yang jaraknya lumayan jauh dari posisinya saat ini.
“permisi...” hazel menghampiri laki-laki itu dan menyamakan posisinya dengan laki-laki di depannya.
terlihat bahwa laki-laki didepannya ini terus menundukkan kepalanya meski tahu bahwa ada orang didepannya. kini hazel tengah berusaha untuk melihat siapa laki-laki yang sedari tadi hanya menunduk tanpa mendongak ke arahnya. namun dilain itu, hazel tanpa sengaja melihat tembok di depannya atau bisa dikatakan tembok yang digunakan untuk bersandar laki-laki ini penuh dengan darah. hazel seketika panik dan ketakutan setelah melihat darah yang kini menempel pada tembok didepannya.
grep...
tiba-tiba tangan kanan laki-laki itu memegang lengan kiri milik hazel. hazel yang mengetahuinya terkejut bukan main, pasalnya tangan yang kini tengah memegang lengannya ini dipenuhi oleh darah.
hazel mencoba melepaskan tangan laki-laki itu dari lengannya.
“kenapa?” laki-laki itu akhirnya membuka suara dan mendongak ke arah hazel.
hazel melongo mengetahui siapa laki-laki yang kini tengah duduk di depannya dengan tangan penuh darah.
“kaget?” cakra tertawa pelan melihat ekspresi kaget hazel.
“l-lo ngapain disini?” tanya hazel dengan nada gagap nya.
“harusnya gue yang nanya gitu ke lo” bukannya menjawab, cakra malah membalikkan pertanyaan itu kepada hazel.
“gue cuma mau cari udara segar biar gak sumpek di dalem...”
“oh”
“tangan lo kenapa?”
cakra yang menyadari pertanyaan hazel mengarah pada darah di tangannya segera melepaskan genggamannya dari lengan hazel.
“lo gak habis mukul itu tembok kan?” tanya hazel sambil melirik ke arah tembok di samping cakra.
tak menggubris pertanyaan dari hazel, cakra memilih untuk berdiri dan segera meninggalkan tempat ini.
“gue minta maaf...” hazel meminta maaf perihal kejadian tadi pagi, dimana ia sudah salah melayangkan tuduhan kepada cakra.
cakra terdiam sejenak, namun tak selang beberapa saat ia sudah pergi meninggalkan hazel sendiri tanpa memperdulikan permintaan maafnya barusan.
hazel yang melihatnya hanya menghela nafas pasrah, mengingat orang yang tengah ia mintai permohonan maaf ini adalah cakra, bukan malaikat. terlepas dari permintaan maaf, hazel dibuat bingung oleh darah di tangan cakra. mungkin benar adanya bahwa darah yang ia lihat di tembok saat ini adalah ulah dari cakra.
sebelum meninggalkan tempat ini dan kembali ke kelas, sekilas hazel terus memperhatikan darah yang saat ini masih menempel kuat di kulit lengannya.
...
– quersnda