kantin

yasa kembali ke dalam kantin tanpa ditemani oleh hazel. pandangannya mulai menelusuri seluruh isi kantin. kini ia tengah mencari keberadaan cakra dan antek-anteknya. beberapa menit ia berdiri dan mencari, akhirnya yasa menemukan keberadaan teman-teman cakra. sesaat dirinya menyadari, yang ia temukan saat ini bukanlah cakra, namun hanya teman-temannya yang tengah makan sambil berbincang santai.

“gue boleh join?” tanya yasa kepada naren yang kini posisinya tengah bermain ponsel.

naren mendongak mendengar suara yasa, begitu juga dengan teman-temannya.

“duduk aja” naren menarik kursi di sebelahnya dan meminta yasa untuk duduk.

thanks” yasa berterimakasih kepada naren dan segera duduk di sebelahnya, “gue mau minta tolong sama lo semua” imbuhnya.

candra, jidan, haksa dan naren yang tadinya tidak peduli kini langsung fokus kepada yasa.

“minta tolong apaan?” tanya candra.

“sebenarnya bukan gue yang mau minta tolong, tapi hazel”...“dia mau minta maaf sama cakra, tapi dia gak tau harus minta maaf gimana” jelas yasa kepada teman-teman cakra.

“minta maaf?” tanya naren, haksa, jidan, dan candra serentak.

yasa mengangguk.

“gue baru tau hazel punya salah sama si cakra” ucap jidan sambil tertawa hambar.

“dia ada salah apa?” tanya naren.

“udah nuduh cakra sembarangan”...“menurut gue masalah ini gak terlalu berat, tapi buat hazel sendiri ini udah keterlaluan”

haksa yang tengah meminum teh anget hampir tersedak karena mendengar pertanyaan yasa.

“salah nuduh doang sampek bikin lo kesini?”...“ck..ck..ck” candra berdecak heran.

yasa mengangkat kedua bahunya.

“cakra udah pergi dari tadi, kalo mau suruh aja hazel minta maaf lewat chat. ini gak jadi masalah kan?” usul naren.

“mungkin gak.”

“atau mau gue titipin permintaan maaf ini sama cakra?” tawar haksa.

“boleh juga. tapi lebih baiknya hazel sendiri yang minta maaf sama cakra”

sebenarnya yasa tidak keberatan dengan tawaran haksa, malah ia pikir bahwa tawaran haksa cukup baik untuk hazel, namun dirinya sempat berfikir sejenak, jika orang lain yang mengungkapkan permintaan maafnya kepada cakra, mungkin hazel tidak akan puas dengan ini dan akan terus merasa bersalah kepada cakra.

“oke aja sih gue”...“kalo lo berubah pikiran bisa hubungi gue” ucap haksa.

“yoi”...“kalo gitu gue pergi dulu, thanks buat bantuannya.” setalah urusannya selesai, yasa memilih untuk segera pergi dan meninggalkan teman-teman cakra.

“lo gak mau makan dulu?” tanya naren kepada yasa.

“gue udah, lo lanjut aja” jawab yasa.

naren mengangguk pelan lalu kembali fokus ke ponselnya.

...

– quersnda