salah sangka
hazel berjalan menyusuri lorong sekolah untuk segera menuju ke ruang bk. suasana yang hazel rasakan ditengah perjalanannya saat ini hanyalah keheningan. kelas lainnya tengah melakukan ujian, mungkin ini juga yang membuat keadaan menjadi sepi dan hening, tidak seperti hari biasanya yang sangat berisik dan rusuh karena ulah murid-murid.
saat hazel sampai di depan kantor kepala sekolah, tanpa sengaja ia melihat beberapa guru tengah berbincang-bincang santai dengan pemilik sekolah ini. bukannya segera pergi dari sana hazel malah dibuat salah fokus oleh laki-laki yang kini tengah duduk di samping pak direktur. jika dilihat-lihat lebih intens, wajah itu tidak asing dimata hazel, sepertinya itu adalah anak pak direktur yang dulu sempat menjadi kakak kelasnya.
beberapa saat hazel berdiri di depan kantor kepala sekolah, tiba-tiba ia teringat akan niatnya pergi meninggalkan kelas. hazel teringat akan panggilan dari pak bimo, dirinya segera bergegas pergi ke ruang bk untuk menemui pak bimo.
“permisi, pak”, ucap hazel sopan sambil berdiri di depan pintu.
“masuk zel”, perintahnya.
mendengar perintah dari pak bimo hazel segera masuk dan menemui laki-laki yang kini tengah duduk di kursi guru.
“maaf pak, kalo boleh tau kenapa saya di panggil kesini?”, hazel bertanya kepada pak bimo perihal panggilan mengenai dirinya ini. sebenarnya hazel sudah menebak, kenapa ia bisa berada disini, pasti ini semua ulah seorang cakra. namun agar lebih jelasnya lagi, hazel memilih untuk menanyakannya kembali.
“saya manggil kamu kesini cuma buat minta tolong, tolong kamu kumpulin lembar ujian anak-anak yang udah selesai ngerjainnya—dan ya, kalo udah kamu bawa lagi kesini.”
mata hazel melotot mendengar penjelasan dari pak bimo, kenapa pak bimo malah menyuruh nya?, bukannya ia disini untuk dihukum bersama dengan cakra?.
“bapak cuma mau nyuruh saya?”, hazel kembali memastikan apa yang dikatakan oleh pak bimo itu benar atau malah hazel yang tadi salah dengar.
“iya HAZEL. kamu mau saya ngomong sambil teriak biar tambah jelas?!“, ucap pak bimo sembari menekan kata “hazel”.
“eh ngga pak. siap laksanakan pak. kalo gitu saya permisi dulu pak...”
hazel segera meninggalkan ruangan setelah mendapat penjelasan dari pak bimo untuk segera kembali ke kelas.
saat dalam perjalanan kembali ke kelas, hazel merasa ada yang janggal dalam ruangan tadi. ia tidak melihat sama sekali sosok seorang cakra yang sudah ia tuduh karena panggilan ini.
hazel merasa sangat bersalah karena telah menuduh cakra tanpa bukti apapun, mungkin dirinya harus meminta maaf kepada cakra saat jam istirahat nanti, pikirnya.
...
– quersnda