sorry

hazel segera berlari dari taman menuju cafe untuk menemui cakra disana. namun saat ia tiba di sana, matanya menangkap sesosok wanita yang sangat lekat di ingatannya. hazel sempat berfikir siapa dia, namun dari postur tubuh dan rambutnya, ia bisa menebak dengan cepat siapa wanita itu, meski hanya dari kejauhan. langkah demi langkah ia ambil, berjalan mendekati kerumunan, yang sudah ia pastikan bahwa mereka semua tengah menonton aksi antara cakra dan bagas.

hazel menerobos kerumunan, dan betapa terkejutnya ia melihat seluruh wajah cakra sudah dipenuhi oleh luka lebam. hazel segera berlari dan menghentikan perkelahian tersebut. diibaratkan kucing yang masuk ke dalam kandang singa.

hazel menerobos ke tengah-tengah antara cakra dan bagas. hal ini juga yang membuat seisi cafe terdiam, begitu juga cakra dan bagas.

“minggir.”, cakra berujar kepada hazel dengan suara lantang.

“lo ngapain sih cari masalah sama orang lain?”...“ngaca cak, muka lo udah babak belur gini masih mau lanjut?”

“gue bilang jangan masuk”

“jadi, lo nyuruh gue buat tunggu di luar, supaya lo bisa baku hantam sama orang lain!?”

cakra seketika membisu.

“tau gini gue gak bakal masuk”...“sekarang lanjut aja kalo mau berantem, gue bakal pergi dan gak bakal ganggu lo lagi”

hazel berbalik membelakangi tubuh cakra, ia ingin segera pergi dari cafe ini, namun ada hal yang menahannya untuk tidak pergi dari sini. hazel melihat dengan jelas wajah wanita yang ia maksut tadi. selangkah ia maju, semakin dekat juga ia dengan wanita itu.

betapa terkejutnya hazel mendapati sahabat yang akhir-akhir ini sangat ia tunggu dan rindukan malah jalan bersama dua orang laki-laki, bahkan dua laki-laki ini adalah orang yang hazel benci.

“cil?”, hazel menghampiri cila dan menatap netra hitam miliknya.

cila yang dipanggil malah mengelak, dirinya ingin segera pergi dari hadapan hazel, namun hazel segara menahan tangannya. alhasil usaha cila untuk kabur gagal.

“jawab gue cila!”

“gue harus jawab apa!?”

“kenapa lo ngelak dari gue akhir-akhir ini?!”

cila terdiam.

“jawab gue cil...”

sorry”, gumamnya pelan.

“jelasin semuanya ke gue”

“seminggu yang lalu gue jadian sama cila”, sahut cakra.

“dan tiga hari lalu dia jadian sama gue.”, imbuh bagas.

hazel tidak bisa berkata-kata lagi. hatinya tidak bisa menahan rasa sakit yang diberikan oleh cila. begitu besar rahasia yang disembunyikan olehnya kepada dirinya, sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. ingin rasanya hazel menampar pipi cila sekarang juga, namun hazel tau, menampar bukanlah hal yang bisa menyelesaikan masalah ini, yang ada masalah akan menjadi tambah rumit jika ia bermain menggunakan kekerasan.

hazel menghela nafas berat, beberapa tetes air mata mulai membasahi kedua pipinya.

“pilih antara kita bertiga.”, hazel menatap lekat wajah cila sembari menahan tangisnya.

“bagas, ayo kita pergi dari sini”

bukannya menjawab, cila malah memilih untuk pergi dari cafe bersama dengan bagas. namun dengan ini juga, hazel sudah bisa menebak jawaban cila, bahwa dirinya lebih memilih bagas ketimbang persahabatannya.

“lo benar-benar udah nge hancurin kepercayaan gue selama ini, cuma gara-gara satu orang cowok?”

tanpa menjawab, cila segera menarik tangan bagas dan membawanya pergi keluar dari cafe.

kini pandangan seisi cafe tertuju pada hazel dan cakra. hazel yang tadi hanya diam menahan rasa sakitnya, kini ingin sekali menangis dan meluapkan rasa sakitnya.

disisi lain, cakra melihat bagaimana gerak gerik hazel dari belakang. dirinya menghampiri hazel dan segera menarik tangannya pelan untuk membawanya keluar dari dalam cafe. hazel yang menyadarinya pun hanya diam dan mengikut saja.

cakra membawa hazel ke taman belakang cafe. suasana angin malam mungkin akan membuat keadaan hazel menjadi lebih tenang, pikir cakra.

“nangis aja”, ujar cakra.

hazel hanya menunduk dan diam tak menggubris perkataan cakra. dadanya terasa sesak saat dirinya mencoba menahan air mata.

cakra melihat sekilas ke arah hazel.

“gue tau lo bingung sama situasi ini”...“sama halnya kayak lo, gue juga bingung sama semua ini.”

hazel mendongak, menatap lekat wajah cakra yang sedang berbicara dengannya. begitu juga dengan cakra, ia menatap balik wajah hazel dengan lekat, hingga membuat mereka berdua melakukan kontak mata dan terbawa dalam suasana malam.

“gue pacaran sama cila, seminggu yang lalu”...“awalnya gue cuma pura-pura”

“mak-maksut lo?”

cakra kembali melihat ke depan dengan pandangan kosong, “cila minta bantuan gue buat jadi pacarnya, seminggu”.

“jadi kalian?”

“kita cuma pura-pura”

“tapi...”

“gue jatuh cinta sama cila dalam sekejap, dan gue lupa akan semuanya”...“semakin gue larut dalam kisah cinta ini, semakin dalam juga rasa sayang gue ke dia”, cakra kini mulai membongkar sedikit demi sedikit rahasia cila dan dirinya kepada hazel, tanpa ada beban sedikit pun yang mengganjal di hatinya. rasanya cakra ingin meluapkan semua isi hatinya sekarang juga dihadapkan hazel, entah hazel itu orang asing atau bukan baginya. namun yang pasti kini ia tengah membutuhkan teman bicara.

“cak...”, hazel memanggil nama cakra dengan lemah lembut, tidak seperti hazel yang biasanya.

cakra menoleh ke arah hazel.

“muka lo lebam semua, apa gak sebaiknya lo obati dulu?”

“rasa sakit di muka gue gak ada apa-apanya, ketimbang rasa sakit di hati gue”

hazel kini bingung harus menjawab apa. sebenarnya tidak cuma cakra yang terluka dalam situasi ini, namun hazel juga.

“kalo mau nangis jangan ditahan, gue disini gak keberatan buat denger rasa sakit lo”, cakra tersenyum sekilas ke arah hazel dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan.

hazel sebenarnya ingin sekali menangis, tapi ia tidak bisa. entah apa yang membuatnya tidak bisa menangis kali ini.

“cak, gue pergi bentar, lo jangan kemana-mana”, tanpa menunggu jawaban dari cakra, hazel segera pergi dan berlari meninggalkan cakra sendirian di tengah gelapnya malam.

read more...