quersnda

setelah terlalu banyak drama dijalani oleh hazel dan yasa, mereka berdua memutuskan untuk segera ke area. saat mereka sampai ternyata suasana disana masih sepi, sepertinya belum di mulai?.

yasa yang biasanya ikut tanding kini lebih memilih untuk menonton saja, dirinya sedang sangat malas ntah itu karena apa hazel tidak tahu, karena hazel penasaran dengan itu dirinya pun kembali nyeloteh kepada yasa, “sa”...“kok lo gak ikut tanding sih?” imbuhnya.

“dih ngatur lo”

bukannya mendapat jawaban yang pasti, hazel malah dibuat kesal dengan jawaban yasa.

“gue nanya goblok, lo jawab yang bener dong”

“lah itu udah gue jawab”

“tau ah.”

kesal dengan yasa, hazel memutuskan untuk pergi dan duduk sendiri menjauh dari dirinya. saat hazel baru meletakkan bokongnya di rerumputan dekat arena, telfonnya bergetar, alhasil dia harus berdiri lagi dan pergi mengangkat nya. di sekitarnya sangat ramai anak-anak muda sedang duduk bergerombol atau sekedar bermain game online dan bercanda ria.

saat ia baru ingin mengangkat panggilan telefon, ia dibuat geram sendiri dengan nama yang tertera pada layar ponselnya, tanpa menunggu lagi dirinya mengangkatnya.

“kalo lo disini cuma buat mamerin ke bego–”

“gue mau masuk arena bentar, lo jangan kemana-mana”

“eh ngapain?. gue ditinggal?”

“lo duduk aja disitu, jgn ngilang-ngilang ntar gue susah nyarinya”

“jangan lama-lama, ntar kalo gue diculik om-om gimana?”

“gue jamin gak bakal. om-om juga milih-milih kali, yg pinter bukan yang bego kek lo”

“sialan yanto.”

“udh gue mau tutup”

“eh–”

tut...tut...tut...

sabar, seperti itulah yang harus dilakukan oleh hazel.

daripada ia memikirkan temannya terlalu lanjut, lebih baik ia duduk dan merilekskan pikirannya. sesekali melihat sekitar, dirinya melihat bahwa disekitarnya tidak terlalu banyak orang yang berdatangan, mungkin memang belum semuanya datang, pikir hazel.

merasa sangat bosan menunggu mulainya pertandingan, ia lebih memilih untuk bermain ponsel, dirinya membuka aplikasi yang memiliki icon burung dan didominasi warna biru. membuka, lalu menggulir nya ke bawah, banyak berita-berita terhangat dan lucu yang bisa dapatkan dari “twitter”, ia tertawa dalam saat melihat apa yang ada dalam layar ponselnya, penuh dengan lelucon membuatnya tergeletak.

orang-orang yang ada di sampingnya pun memandanginya dengan tatapan seolah berkata bahwa dirinya aneh. hazel yang merasa tak enak dengan tatapan tersebut menundukkan tubuhnya lalu meminta maaf pelan. hazel tersenyum canggung.

“hazel?”

hazel mendongak ketika ada yang memanggilnya, melihat dua pemuda yang terlihat masih seumuran dengannya.

“eh iya?”, hazel sedikit terkejut dengan keberadaan dua pemuda itu, darimana dua pemuda itu tau namanya?. apakah mereka teman yasa?.

“mau ikut kita gak?” tawarnya.

ikut?, ikut kemana, masa iya gue mau ikut balapan?, pikirnya.

“emang kemana?, terus lo berdua siapa?”

“oh kenalin, kita temennya yasa.”

nah kan apa gue tebak, pasti mereka temen yanto, hazel terus saja menggerutu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“terus sekarang yasa kemana?”, hazel menanyakan keberadaan temannya itu kepada dua pemuda di depannya, namun tidak ada sama sekali yang menjawabnya.

mereka berdua hanya diam.

“ngapain kalian diem?. kalian temen yasa kan?. pasti kalian tahu yasa kemana barusan”

“lo butuh lowongan kerja gk?”

tiba-tiba?. lowongan pekerjaan, hazel melongo mendengar mereka menawarkan pekerjaan kepadanya. dirinya kembali berfikir, selama dua minggu terakhir keuangannya dengan sang bunda sedikit terganggu karena masalah pribadinya dengan keluarga besar, dan satu-satu harapan sang bunda adalah dirinya. jika di pikir-pikir lagi tidak ada salahnya menerima tawaran dari mereka berdua.

“kerja apaan?”

“ikut kita dulu”

hazel sebenarnya sedikit ragu dengan tawaran tersebut, namun bagaimana lagi?, jika ada rejeki di depan mata apakah dirinya harus menolak?. hazel berfikir, jika pekerjaan ini tidak berpengaruh pada pendidikan dan keluarnya dia masih fine saja.

“oke.”, hazel berdiri lalu memasukkan ponselnya pada saku celana miliknya.

dua pria tersebut mulai pergi meninggalkan dirinya tanpa memberi aba-aba, namun hazel lebih memilih untuk mengikutinya.

...

– quersn

baru saja hazel membicarakan yasa dengan cila lewat ponsel, namun ternyata orang yang dibicarakan sudah berada di depan pagar rumah hazel. hazel yang melihatnya segera bergegas keluar kamar dan menemui temannya itu, namun saat dirinya ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang.

“hazel?” panggil seorang wanita dibelakangnya, “mau kemana malem-malem?” tanyanya.

“eh bunda?” yup benar. suara itu berasal dari bunda hazel.

“kamu mau kemana keluar diem-diem?”

“aku mau keluar sama yasa bun”

“kemana?”

“eh itu, aku mau ngerjain tugas sama yasa”

“cila ikut?”

“cila lagi pergi sama keluarnya”

“WOII ZELL” terdengar teriakan dari luar rumahnya, benar saja itu suara yasa. “JADI KE ARENA GAK?” yasa berteriak cukup keras hingga membuat suaranya terdengar sangat jelas sampai ke dalam rumah hazel.

sang bunda yang mendengar kata “arena” itu menyeringai bingung, “arena?”

yasa sialan, gue sumpahin motor lo kejebur got besok berangkat sekolah, mungkin umpatan itu yang di lontarkan hazel dalam hatinya.

“eh itu bun maksudnya yasa mau ngajak nobar balapan di rumahnya, kan kalau balapan latarnya harus pake arena yang luas” hazel terpaksa berbohong kepada sang bunda, jika tidak mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah.

“hazel?” sang bunda menatap teduh netra hitam hazel.

hazel yang melihat dalam tatapan bundanya itu tidak bisa berbohong, dirinya menundukkan kepala karena merasa bersalah telah membohongi bundanya, “maaf” ucap hazel.

“kalo kamu emang mau ke arena sama yasa bunda gak bakal larang...” sang bunda kembali berbicara, “tapi kalau kamu bohong sama bunda, bunda bakal marah sama hazel” lanjutnya.

hazel yang mendengar itu pun merasa sangat bersalah, walau bundanya sudah berkali-kali menginginkannya jangan pernah berbohong kepadanya, namun dirinya tidak bisa. selalu ada hal yang tidak bisa ia katakan kepada sang bunda, entah itu urusannya pribadi atau dengan orang lain.

“lain kali jangan bohongin bunda ya?” bunda mengelus pelan pucuk rambut hazel lalu pergi meninggalkan dirinya.

“huft...” helaan nafas pelan terdengar dari diri hazel.

teringat janjinya dengan yasa beberapa jam yang lalu hazel segera membuka pintu rumahnya dan bergegas menghampiri yasa yang sedari tadi sudah menggedor-gedor pagar rumahnya dengan menggunakan palu. kebiasaan yang aneh namun nyata, yasa selalu membawa palu di jok motor nya untuk menggedor-gedor pagar rumahnya jika saja ia tidak segera keluar saat ia panggil, ngeselin banget gk sih?.

hazel segera membuka pintu gerbang rumahnya dan saat itu juga ia melihat diri yasa dengan wajah kusut dan palu di tangannya.

“sorry saa” hazel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “tadi ada masalah dikit”.

“lo liat ini jam berapa?!” yasa meninggikan suaranya kepada hazel, mungkin saking kesalnya yasa dengan hazel.

“baru juga jam delapan sa”

“tau gini gue berangkat duluan” yasa sudah bersiap menyalakan motornya, namun dihentikan sejenak oleh hazel.

“ngapain?”

“gue belum naik anjg, jangan main tinggal-tinggal”

“siapa sih zel yang mau ninggalin lo?, belum juga gue nyalain motor” hanya ada senyum paksaan di wajah yasa, “buruan naik, mau gue tinggal!?”, yasa terlihat geram sendiri dengan tingkah laku hazel, sepertinya malam ini akan panjang jika dirinya tidak mengakhiri semua ini dengan cepat.

“eh iya ini mau naik” baru saja hazel ingin naik dan yasa menyalakan motor, “eh bentar sa” seketika suara hazel mengentikan aktifitas yasa untuk segera menyalakan mesin motornya.

“lo mau gue tinggal apa lempar ke kali sih zel?!, bawel banget tinggal naik” kesabaran yasa sudah diambang batas, mungkin kini dirinya sudah tertinggal satu putaran karena temannya ini.

“helm gue mana?!” tidak disangka, ternyata yasa melupakan prioritas keselamatan dalam berkendara, helm milik hazel.

“zel...”

“jangan bilang lo lupa bawa helm gue?!” hazel menebak dengan tepat.

“gue lupa zel” kali ini bukan yasa yang geram, melainkan hazel yang geram dengan ulah lalai yasa.

“kok bisa sih?!”

“ya mana gue tau”

“terus gue gimana dong?!”

“rumah lo gak ada helm?”

“ya kali gue masuk lagi?”

“lo mau ketilang polisi?”

“ini udah malem, mana mungkin ada polisi”

“lo kira polisi cuma muncul pas siang doang?” tanya yasa, “polisi kembarannya kunti kali, mau muncul pagi, siang, sore, malem kek serah dia” lanjutnya.

benar juga yang dikatakan yasa, polisi akan terus berjaga selama 24jam di negara hukum, jika dirinya melanggar dan tertangkap pasti akan sangat merepotkan orang tuanya. “yaudah gue ambil helm bentar ke dalem” hazel meninggalkan yasa di depan rumahnya sendiri dan segera bergegas masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil helm.

“telat dah gue, abis dah permainannya. nyesel gue iyain ajakan lo” gumam yasa.

...

– quersnda

baru saja hazel membicarakan yasa dengan cila lewat ponsel, namun ternyata orang yang dibicarakan sudah berada di depan pagar rumah hazel. hazel yang melihatnya segera bergegas keluar kamar dan menemui temannya itu, namun saat dirinya ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang.

“hazel?” panggil seorang wanita dibelakangnya, “mau kemana malem-malem?” tanyanya.

“eh bunda?” yup benar. suara itu berasal dari bunda hazel.

“kamu mau kemana keluar diem-diem?”

“aku mau keluar sama yasa bun”

“kemana?”

“eh itu, aku mau ngerjain tugas sama yasa”

“cila ikut?”

“cila lagi pergi sama keluarnya”

“WOII ZELL” terdengar teriakan dari luar rumahnya, benar saja itu suara yasa. “JADI KE ARENA GAK?” yasa berteriak cukup keras hingga membuat suaranya terdengar sangat jelas sampai ke dalam rumah hazel.

sang bunda yang mendengar kata “arena” itu menyeringai bingung, “arena?”

yasa sialan, gue sumpahin motor lo kejebur got besok berangkat sekolah, mungkin umpatan itu yang di lontarkan hazel dalam hatinya.

“eh itu bun maksudnya yasa mau ngajak nobar balapan di rumahnya, kan kalau balapan latarnya harus pake arena yang luas” hazel terpaksa berbohong kepada sang bunda, jika tidak mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah.

“hazel?” sang bunda menatap teduh netra hitam hazel.

hazel yang melihat dalam tatapan bundanya itu tidak bisa berbohong, dirinya menundukkan kepala karena merasa bersalah telah membohongi bundanya, “maaf” ucap hazel.

“kalo kamu emang mau ke arena sama yasa bunda gak bakal larang...” sang bunda kembali berbicara, “tapi kalau kamu bohong sama bunda, bunda bakal marah sama hazel” lanjutnya.

hazel yang mendengar itu pun merasa sangat bersalah, walau bundanya sudah berkali-kali menginginkannya jangan pernah berbohong kepadanya, namun dirinya tidak bisa. selalu ada hal yang tidak bisa ia katakan kepada sang bunda, entah itu urusannya pribadi atau dengan orang lain.

“lain kali jangan bohongin bunda ya?” bunda mengelus pelan pucuk rambut hazel lalu pergi meninggalkannya begitu saja di depan pintu rumahnya.

“huft...” helaan nafas pelan terdengar dari diri hazel.

teringat janjinya dengan yasa beberapa jam yang lalu hazel segera membuka pintu rumahnya dan bergegas menghampiri yasa yang sedari tadi sudah menggedor-gedor pagar rumahnya dengan menggunakan palu. kebiasaan yang aneh namun nyata, yasa selalu membawa palu di jok motor nya untuk menggedor-gedor pagar rumahnya jika saja ia tidak segera keluar saat ia panggil, ngeselin banget gk sih?.

hazel segera membuka pintu gerbang rumahnya dan saat itu juga ia melihat diri yasa dengan wajah kusut dan palu di tangannya.

“sorry saa” hazel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “tadi ada masalah dikit”.

“lo liat ini jam berapa?!” yasa meninggikan suaranya kepada hazel, mungkin saking kesalnya yasa dengan hazel.

“baru juga jam delapan sa”

“tau gini gue berangkat duluan” yasa sudah bersiap menyalakan motornya, namun dihentikan sejenak oleh hazel.

“ngapain?”

“gue belum naik anjg, jangan main tinggal-tinggal”

“siapa sih zel yang mau ninggalin lo?, belum juga gue nyalain motor” hanya ada senyum paksaan di wajah yasa, “buruan naik, mau gue tinggal!?”, yasa terlihat geram sendiri dengan tingkah laku hazel, sepertinya malam ini akan panjang jika dirinya tidak mengakhiri semua ini dengan cepat.

“eh iya ini mau naik” baru saja hazel ingin naik dan yasa menyalakan motor, “eh bentar sa” seketika suara hazel mengentikan aktifitas yasa untuk segera menyalakan mesin motornya.

“lo mau gue tinggal apa lempar ke kali sih zel?!, bawel banget tinggal naik” kesabaran yasa sudah diambang batas, mungkin kini dirinya sudah tertinggal satu putaran karena temannya ini.

“helm gue mana?!” tidak disangka, ternyata yasa melupakan prioritas keselamatan dalam berkendara, helm milik hazel.

“zel...”

“jangan bilang lo lupa bawa helm gue?!” hazel menebak dengan tepat.

“gue lupa zel” kali ini bukan yasa yang geram, melainkan hazel yang geram dengan ulah lalai yasa.

“kok bisa sih?!”

“ya mana gue tau”

“terus gue gimana dong?!”

“rumah lo gak ada helm?”

“ya kali gue masuk lagi?”

“lo mau ketilang polisi?”

“ini udah malem, mana mungkin ada polisi”

“lo kira polisi cuma muncul pas siang doang?” tanya yasa, “polisi kembarannya kunti kali, mau muncul pagi, siang, sore, malem kek serah dia” lanjutnya.

benar juga yang dikatakan yasa, polisi akan terus berjaga selama 24jam di negara hukum, jika dirinya melanggar dan tertangkap pasti akan sangat merepotkan orang tuanya. “yaudah gue ambil helm bentar ke dalem” hazel meninggalkan yasa di depan rumahnya sendiri dan segera bergegas masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil helm.

“telat dah gue, abis dah permainannya. nyesel gue iyain ajakan lo” gumam yasa.

...

– quersnda

baru saja hazel membicarakan yasa dengan cila lewat ponsel, namun ternyata orang yang dibicarakan sudah berada di depan pagar rumah hazel. hazel yang melihatnya segera bergegas keluar kamar dan menemui temannya itu, namun saat dirinya ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang.

“hazel?” panggil seorang wanita dibelakangnya, “mau kemana malem-malem?” tanyanya.

“eh bunda?” yup benar. suara itu berasal dari bunda hazel.

“kamu mau kemana keluar diem-diem?”

“aku mau keluar sama yasa bun”

“kemana?”

“eh itu, aku mau ngerjain tugas sama yasa”

“cila ikut?”

“cila lagi pergi sama keluarnya”

“WOII ZELL” terdengar teriakan dari luar rumahnya, benar saja itu suara yasa. “JADI KE ARENA GAK?” yasa berteriak cukup keras hingga membuat suaranya terdengar sangat jelas sampai ke dalam rumah hazel.

sang bunda yang mendengar kata “arena” itu menyeringai bingung, “arena?”

yasa sialan, gue sumpahin motor lo kejebur got besok berangkat sekolah, mungkin umpatan itu yang di lontarkan hazel dalam hatinya.

“eh itu bun maksudnya yasa mau ngajak nobar balapan di rumahnya, kan kalau balapan latarnya harus pake arena yang luas” hazel terpaksa berbohong kepada sang bunda, jika tidak mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah.

“hazel?” sang bunda menatap teduh netra hitam hazel.

hazel yang melihat dalam tatapan bundanya itu tidak bisa berbohong, dirinya menundukkan kepala karena merasa bersalah telah membohongi bundanya, “maaf” ucap hazel.

“kalo kamu emang mau ke arena sama yasa bunda gak bakal larang...” sang bunda kembali berbicara, “tapi kalau kamu bohong sama bunda, bunda bakal marah sama hazel” lanjutnya.

hazel yang mendengar itu pun merasa sangat bersalah, walau bundanya sudah berkali-kali menginginkannya jangan pernah berbohong kepadanya, namun dirinya tidak bisa. selalu ada hal yang tidak bisa ia katakan kepada sang bunda, entah itu urusannya pribadi atau dengan orang lain.

“lain kali jangan bohongin bunda ya?” bunda mengelus pelan pucuk rambut hazel lalu pergi meninggalkannya begitu saja di depan pintu rumahnya.

“huft...” helaan nafas pelan terdengar dari diri hazel.

teringat janjinya dengan yasa beberapa jam yang lalu hazel segera membuka pintu rumahnya dan bergegas menghampiri yasa yang sedari tadi sudah menggedor-gedor pagar rumahnya dengan menggunakan palu. kebiasaan yang aneh namun nyata, yasa selalu membawa palu di jok motor nya untuk menggedor-gedor pagar rumahnya jika saja ia tidak segera keluar saat ia panggil, ngeselin banget gk sih?.

hazel segera membuka pintu gerbang rumahnya dan saat itu juga ia melihat diri yasa dengan wajah kusut dan palu di tangannya.

“sorry saa” hazel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “tadi ada masalah dikit”.

“lo liat ini jam berapa?!” yasa meninggikan suaranya kepada hazel, mungkin saking kesalnya yasa dengan hazel.

“baru juga jam delapan sa”

“tau gini gue berangkat duluan” yasa sudah bersiap menyalakan motornya, namun dihentikan sejenak oleh hazel.

“ngapain?”

“gue belum naik anjg, jangan main tinggal-tinggal”

“siapa sih zel yang mau ninggalin lo?, belum juga gue nyalain motor” hanya ada senyum paksaan di wajah yasa, “buruan naik, mau gue tinggal!?”, yasa terlihat geram sendiri dengan tingkah laku hazel, sepertinya malam ini akan panjang jika dirinya tidak mengakhiri semua ini dengan cepat.

“eh iya ini mau naik” baru saja hazel ingin naik dan yasa menyalakan motor, “eh bentar sa” seketika suara hazel mengentikan aktifitas yasa untuk segera menyalakan mesin motornya.

“lo mau gue tinggal apa lempar ke kali sih zel?!, bawel banget tinggal naik” kesabaran yasa sudah diambang batas, mungkin kini dirinya sudah tertinggal satu putaran karena temannya ini.

“helm gue mana?!” tidak disangka, ternyata yasa melupakan prioritas keselamatan dalam berkendara, helm milik hazel.

“zel...”

“jangan bilang lo lupa bawa helm gue?!” hazel menebak dengan tepat.

“gue lupa zel” kali ini bukan yasa yang geram, melainkan hazel yang geram dengan ulah lalai temannya.

“kok bisa sih?!”

“ya mana gue tau”

“terus gue gimana dong?!”

“rumah lo gak ada helm?”

“ya kali gue masuk lagi?”

“lo mau ketilang polisi?”

“ini udah malem, mana mungkin ada polisi”

“lo kira polisi cuma muncul pas siang doang?” tanya yasa, “polisi kembarannya kunti kali, mau muncul pagi, siang, sore, malem kek serah dia” lanjutnya.

benar juga yang dikatakan yasa, polisi akan terus berjaga selama 24jam di negara hukum, jika dirinya melanggar dan tertangkap pasti akan sangat merepotkan bagi orang tuanya. “yaudah gue ambil helm bentar ke dalem” hazel meninggalkan yasa di depan rumahnya sendiri dan segera bergegas masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil helm.

“telat dah gue, abis dah permainannya. nyesel gue iyain ajakan lo” gumam yasa.

...

– quersnda