quersnda

“telat”

belum juga hazel bernafas dengan lega setelah sampai di kantin, dirinya sudah mendapatkan ocehan dari seorang cakra.

“balik sono”...“kelamaan lo jalannya”...“harusnya gue sewain pesawat buat lo tadi, gimana?”, cakra tertawa remeh.

“udah mending gue mau dateng, hargain kek perjalanan gue dadi kelas ke kantin”

“btw, siapa yang nyuruh lo kesini?”, cakra bertanya kepada hazel sambil menaikkan satu alisnya, tidak lupa dengan wajah datarnya.

“lo gak lagi mainin gue kan?”...“lo sendiri yang nyuruh gue ke kantin!”, emosi hazel saat ini sedang di permainkan oleh laki-laki yang tengah duduk depannya.

“siapa?”

“ya lo lah!”

“bego banget jadi cewek”...“udah keliatan kenapa dia bisa nipu lo”, cakra berdiri, berjalan mendekati hazel yang menatapnya datar. saat cakra tiba tepat di depan wajah hazel, dirinya tersenyum remeh, seolah dia tengah memberitahu bahwa hazel sangat rendah dimatanya.

hazel yang tadinya tidak ingin menanggapi omongan cakra, kini tidak terima jika harga dirinya tengah diremehkan “lo ngatain gue bego?”...“mau gue beliin kaca?, bisa-bisanya lo mau diajak mainin perasaan cewek”...“harga diri lo sebagai laki-laki kemana!?”...“lo cowok paling egois yang pernah gue temuin.”, hazel meluapkan semua amarah dan isi hatinya kepada cakra.

cakra diam, tidak berkutip sama sekali.

“kenapa diem?”...“dimana cakra yang sombong barusan?, kini giliran hazel yang tersenyum remeh kepada cakra.

“lo...”, belum sempat cakra menyelesaikan kalimatnya, bel istirahat telah lebih dulu berbunyi. perlahan murid-murid dari kelas lain berdatangan ke kantin hal itulah yang kini membuat pasang mata menyaksikan mereka berdua, tak terkecuali teman-teman cakra.

“cakra.”, salah satu dari teman cakra yang melihat mereka berdua maju dan menghampiri keduanya, ia adalah naren.

belum sempat naren berbicara kepada cakra, dirinya sudah pergi meninggalkan kantin begitu saja, hingga membuatnya menjadi bahan omongan siswa & siswi yang melihatnya.

hazel yang tidak peka dengan situasi ini hanya diam dan menatap bingung naren.

“gue naren, temen cakra”...“gue minta maaf kalo cakra udah nyakitin hati lo sama kata-katanya.”

ini ketos bukan sih?, hazel teringat dengan wajah laki-laki ini, bukankah dia ketua osis yang sudah lama menjabat di sekolah ini. jadi laki-laki yang ia temui di arena tadi malam adalah?, ketos sekolahnya sendiri. ini tidak salah lagi.

“gak masalah sih”...“btw, tadi mal–”

“bubar.”, naren sudah paham, hazel ingin berbicara apa kepadanya, pasti ini mengenai taruhan tadi malam. sebelum ia berbicara lebih lanjut mengenai tadi malam, naren segera menghentikannya dengan membubarkan kerumunan siswa & siswi yang sedari tadi menyimak mereka berdua.

siswa & siswi yang mendengar perintah naren pun segera bubar. ada yang benar-benar meninggalkan kantin dan ada yang masih berada di kantin untuk memesan makanan.

...

– quersnda

jarak antara rumah hazel dan sekolah sebenarnya cukup dekat, namun hazel tetap memaksa ingin nebeng haksa untuk hari ini. suasana kota jakarta yang cukup panas membuatnya enggan untuk berjalan kaki.

“ongkos gue mana?”, yasa menyodorkan tangan tepat di depan wajah hazel yang membuat hazel menyeringai bingung.

“ongkas ongkos, makan noh bensin.”

yasa hanya tertawa melihat wajah kesal sahabat nya itu. yasa memang senang membuat hazel kesal karena ia menganggap ini seru dan lucu.

hazel sudah pergi dulu meninggalkan yasa yang masih berada di belakang. saat hazel berjalan melewati beberapa kelas, dirinya melihat wajah yang tidak asing di kepalanya, rasanya ia mengenal dengan jelas wajah itu, tapi siapa?.

“bentar, dia kan?”, hazel mencoba mengingat siapa dibalik wajah itu, dan ya. “itu cowok yang menang taruhan kemarin gak sih?.”, tanpa berfikir panjang hazel langsung menghampirinya.

“lo cakra kan?!”, ya, laki-laki yang di maksud hazel adalah cakra.

“sokap banget.” jawabnya kaku.

“gue gak mau basa-basi, berhubung lo udah disini gu–”, belum sempat hazel melanjutkan kalimatnya, salah satu tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh cakra, menjauh dari pasang mata yang sedari tadi mengamati mereka berdua. cakra membawa hazel ke belakang sekolah agar tidak ada yang mengetahui keberadaan keduanya.

“lepasin gak!”, hazel berusaha melepaskan genggaman yang kini tengah mencengkram erat pergelangan tangannya.

“udah gue bilang, jangan sokap selain di arena”, cakra membebaskan pergelangan tangan hazel sembari menjelaskan perihal taruhan tadi malam. “jangan sampe satu sekolah tau kalo lo jadi taruhan gue.”...“ini rahasia kita berdua.”, jelas cakra pada hazel.

“oke.”, hazel yang paham dengan maksud cakra pun hanya mengiyakannya.

setelah cakra mendengar jawaban hazel, ia pergi meninggalkan hazel sendiri begitu saja tanpa memberikan sepatah kata pun.

“gue sumpahin itu cowo ketiban sial satu hari.”, hazel menyumpahi cakra agar dirinya ketiban sial seharian, namun dirinya tidak berfikir bagaimana jika sumpah serapah itu akan berbalik kepadanya.

...

– quersnda

jarak antara rumah hazel dan sekolah sebenarnya cukup dekat, namun hazel tetap memaksa ingin nebeng haksa untuk hari ini. suasana kota jakarta yang cukup panas membuatnya enggan untuk berjalan kaki.

“ongkos gue mana?”, yasa menyodorkan tangan tepat di depan wajah hazel yang membuat hazel menyeringai bingung.

“ongkas ongkos, makan noh bensin.”

yasa hanya tertawa melihat wajah kesal sahabat nya itu. yasa memang senang membuat hazel kesal karena ia menganggap ini seru dan lucu.

hazel sudah pergi dulu meninggalkan yasa yang masih berada di belakang. saat hazel berjalan melewati beberapa kelas, dirinya melihat wajah yang tidak asing di kepalanya, rasanya ia mengenal dengan jelas wajah itu, tapi siapa?.

“bentar, dia kan?”, hazel mencoba mengingat siapa dibalik wajah itu, dan ya. “itu cowok yang menang taruhan kemarin gak sih?.”, tanpa berfikir panjang hazel langsung menghampirinya.

“lo cakra kan?!”, ya, laki-laki yang di maksud hazel adalah cakra.

“sokap banget.” jawabnya kaku.

“gue gak mau basa-basi, berhubung lo udah disini gu–”, belum sempat hazel melanjutkan kalimatnya, salah satu tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh cakra, menjauh dari pasang mata yang sedari tadi mengamati mereka berdua. cakra membawa hazel ke belakang sekolah agar tidak ada yang mengetahui keberadaan keduanya.

“lepasin gak!”, hazel berusaha melepaskan genggaman yang kini tengah mencengkram erat pergelangan tangannya.

“udah gue bilang, jangan sokap selain di arena”, cakra membebaskan pergelangan tangan hazel sembari menjelaskan perihal taruhan tadi malam. “jangan sampe satu sekolah tau kalo lo jadi taruhan gue.”...“ini rahasia kita berdua.”, jelas cakra pada hazel.

“oke.”, hazel yang paham dengan maksud cakra pun hanya mengiyakannya.

setelah cakra mendengar jawaban hazel, ia pergi meninggalkan hazel sendiri begitu saja tanpa memberikan sepatah kata pun.

“gue sumpahin itu cowo ketiban sial satu hari.”, hazel menyumpahi cakra agar dirinya ketiban sial seharian, namun dirinya tidak berfikir bagaimana jika sumpah serapah itu akan berbalik kepadanya.

...

– quersnda

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak meyakinkan, cuaca yang tadinya sangat panas kini berubah menjadi sangat gelap, bahkan terdengar beberapa kali suara kilat yang cukup keras. hazel yang berdiri sendiri di depan kelas miliknya sambil bermain ponsel dibuat terkejut saat ada notif pesan dari seseorang. dirinya menoleh ke belakang, tepat di belakang terdapat sebuah tangga, dan di tangga itu terdapat sesosok laki-laki yang sangat ia benci keberadaannya. hazel kembali membuang muka.

laki-laki itu turun dari tangga dan menghampirinya, “gue anterin”, tawar cakra kepada hazel.

namun tidak dengan hazel, saat cakra mendekatinya, wajahnya malah terlihat sangat sepet. hazel tidak peduli dengan keberadaan cakra di sampingnya.

“tinggal iyain aja, gengsi bener lo” ledek cakra.

hazel tetap tidak peduli, dirinya lebih memilih melihat ponsel daripada melihat wajah cakra.

“yaudah kalo emang gk mau. gue tinggal”...“btw, katanya ini sekolah kalo pas ujan banyak suara-suara sama penampakan aneh ya?”, cakra berusaha menakut-nakuti hazel, namun naas, usahanya tetap tidak berhasil, hazel tidak menggubris dirinya.

“bisa diem gk?.”, muak dengan celotehan cakra, hazel memilih untuk buka suara dan menyuruhnya diam.

tak ingin menjawabnya cakra lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan hazel sendirian di depan kelasnya dengan keadaan langit yang gelap, dan diperkirakan akan turun hujan lebat sebentar lagi.

hazel menghembuskan nafas pelan. suasana sekolah kini mulai cukup sepi, semua murid dan guru perlahan sudah mulai menghilang dari pandangannya, namun masih ada beberapa anak yang berlalu lalang. satu jam masih setia menunggu di depan kelas dengan keadaan langit yang mulai meneteskan air sedikit demi sedikit.

“masih disini?”

tanya seorang yang entah dari mana tiba-tiba berada di belakang punggungnya. suara yang tidak cukup asing, baru saja ia mendengarnya beberapa saat yang lalu. hazel menoleh ke belakang melihat sosok pria yang memanggilnya barusan. ternyata benar dugaannya, itu adalah suara cakra.

cakra terlihat tengah bersender santai di tembok tepat belakang hazel. hazel yang melihatnya tetap tidak memperdulikannya, ia lebih memilih untuk diam dan mendengarkan suara derasnya air hujan yang kini tengah turun membasahi bumi.

“pulang bareng gue?”, cakra memberi tawaran kembali kepada hazel agar dirinya mau untuk diajak pulang.

“maksa banget sih lo!?”, hazel sudah muak dengan keberadaan cakra di dekatnya, akhirnya dirinya kembali membuka suara, “pergi gak.”, bukannya menjawab dan pergi, laki-laki di depannya itu hanya diam dan menatapnya dengan tatapan malas. hazel yang melihatnya memilih untuk pergi meninggalkan cakra sendiri di depan kelasnya.

sialan banget, ngapain juga sih harus gue yang jadi taruhannya, seperti itulah isi hati hazel saat ini. sepanjang jalan hazel hanya menggerutu tidak jelas tanpa memperhatikan depan, dirinya hanya fokus pada lantai hingga pada akhirnya dia menabrak seorang tepat di depannya hingga membuat hazel terjatuh.

“aduh..”...“siapa sih yang mangkal depan gue?!”, hazel memegangi bokongnya yang terbentur lantai, ditambah dengan kondisi lantai licin karena air hujan yang menggenang. hazel mendongak melihat atas, berapa terkejutnya saat dirinya mendapati cakra lah yang menabrak dirinya.

“jalan yang fokus, gak usah pakek ngedumel gak jelas.”, ucap cakra dengan santai lalu pergi meninggalkan hazel yang terjatuh karena ulahnya tadi begitu saja tanpa meminta maaf atau menolongnya.

hazel tidak menyangka cakra akan melakukan ini kepadanya, rasanya detik ini juga hazel ingin menonjok muka sombong laki-laki itu, namun sayang cakra sudah pergi terlebih dahulu, alhasil hazel hanya bisa menyumpahinya dalam hati dan berusaha untuk berdiri sendiri.

“sukurin, tinggal ngikut aja susah”, sementara itu, jauh dari keberadaan hazel, di belakang sekolah terdapat cakra yang juga ikut ngedumel tidak jelas karena hazel. sebenarnya cakra juga ogah untuk mengajak hazel pulang bereng, tapi karena taruhan itu dia terpaksa.

“sialan bagas, gue harus ke basecamp dia.”, ucap cakra dengan sedikit emosi. dirinya langsung menyambar helm yang ada di spion motornya dan segera menyalakan motor untuk segera bergegas pergi dari sekolah.

...

– quersnda

permainan telah berakhir, arena kini sudah mulai cukup sepi dengan penonton/pengunjung. hazel yang merasa ini sudah cukup malam segera memutuskan untuk berdiri dan segera meninggalkan tempat yang sedari tadi hanya di penuhi dengan suara kenalpot motor. baru saja hazel ingin melangkahkan kaki pergi, terdengar suara yang menahan langkah kakinya.

“hazel”, hazel menoleh dan melihat satu orang laki-laki yang tap asing di kepalanya, baru saja ia menemuinya barusan.

“bagas?”, ternyata bagas lah yang memanggil namanya, hazel tidak tahu kenapa laki-laki itu menghentikan langkahnya disaat ia ingin pergi, “eh iya, mau bicarain soal kerjaan?”, tebak hazel.

“ikut gue.”, ajaknya.

hazel sebenarnya tidak yakin dengan ajakan ini, namun siapa tau jika Bagas m mengajaknya untuk membicarakan tentang pekerjaan, jadi tidak ada salahnya jika dirinya ikut. hazel mencoba berfikir positif.

bagas berjalan memunggungi dirinya, hazel hanya mengikuti bagas saja.


basecamp?, hazel dibuat terkejut saat dirinya di bawa ke basecamp, dirinya tidak tahu jika ternyata di dekat arena ini terdapatbasecamp sebuah geng motor.

bagas berhenti di dalam basecamp dan mengajak hazel masuk. hazel hanya menurut dan dirinya mengikuti bagas untuk masuk ke dalam. saat hazel masuk ke dalam basecamp, terdapat empat laki-laki yang sudah ia kenali wajahnya, namun dua laki-laki?, siapa dia?, sepertinya ia baru melihatnya kali ini?. bentar, bukannya mereka yang tadi bertanding di arena melawan bagas dan anggotanya?, pikir hazel. dua laki-laki itu menatap datar hazel, sepertinya mereka tidak peduli dengan keberadaan hazel.

“oke.”...“berhubung balapan hari ini lo yang menang–”, bagas membuka pembicaraan pertama kali dan membubarkan keheningan di ruangan ini, namun saat di akhri pembicaraannya, dia mengehentikannya dan terdengar seperti menggantung kan.

“gue lupa, kenalin dulu nama lo bro”

bagas terlihat basa-basi kepada dua laki-laki yang berada tidak jauh darinya. terlihat jelas di mata hazel bahwa dua laki-laki itu tidak menggubris sama sekali perkataan yang di lontarkan oleh bagas kepadanya.

“tudep.”, salah satu dari dua laki-laki itu membuka suara.

hazel melihat ada aura yang tidak biasa diantara mereka berdua, sepertinya mereka bermusuhan?, pikir hazel.

“oke tudep.”...“cewek yang gue janjiin buat taruhan sekarang ada di depan lo.”, ucap bagas santai sambil tersenyum kemenangan.

what!, taruhan?, siapa?, gue!?.

...

– quersnda

permainan telah berakhir, arena kini sudah mulai cukup sepi dengan penonton/pengunjung. hazel yang merasa ini sudah cukup malam segera memutuskan untuk berdiri dan segera meninggalkan tempat yang sedari tadi hanya di penuhi dengan suara kenalpot motor. baru saja hazel ingin melangkahkan kaki pergi, terdengar suara yang menahan langkah kakinya.

“hazel”, hazel menoleh dan melihat satu orang laki-laki yang tap asing di kepalanya, baru saja ia menemuinya barusan.

“bagas?”, ternyata bagas lah yang memanggil namanya, hazel tidak tahu kenapa laki-laki itu menghentikan langkahnya disaat ia ingin pergi, “eh iya, mau bicarain soal kerjaan?”, tebak hazel.

“ikut gue.”, ajaknya.

hazel sebenarnya tidak yakin dengan ajakan ini, namun siapa tau jika Bagas m mengajaknya untuk membicarakan tentang pekerjaan, jadi tidak ada salahnya jika dirinya ikut. hazel mencoba berfikir positif.

bagas berjalan memunggungi dirinya, hazel hanya mengikuti bagas saja.

***

basecamp?, hazel dibuat terkejut saat dirinya di bawa ke basecamp, dirinya tidak tahu jika ternyata di dekat arena ini terdapatbasecamp sebuah geng motor.

bagas berhenti di dalambasecamp dan mengajak hazel masuk. hazel hanya menurut dan dirinya mengikuti bagas untuk masuk ke dalam. saat hazel masuk ke dalam basecamp, terdapat empat laki-laki yang sudah ia kenali wajahnya, namun dua laki-laki?, siapa dia?, sepertinya ia baru melihatnya kali ini?. bentar, bukannya mereka yang tadi bertanding di arena melawan bagas dan anggotanya?, pikir hazel. dua laki-laki itu menatap datar hazel, sepertinya mereka tidak peduli dengan keberadaan hazel.

“oke.”...“berhubung balapan hari ini lo yang menang–”, bagas membuka pembicaraan pertama kali dan membubarkan keheningan di ruangan ini, namun saat di akhri pembicaraannya, dia mengehentikannya dan terdengar seperti menggantung kan.

“gue lupa, kenalin dulu nama lo bro”

bagas terlihat basa-basi kepada dua laki-laki yang berada tidak jauh darinya. terlihat jelas di mata hazel bahwa dua laki-laki itu tidak menggubris sama sekali perkataan yang di lontarkan oleh bagas kepadanya.

“tudep.”, salah satu dari dua laki-laki itu membuka suara.

hazel melihat ada aura yang tidak biasa diantara mereka berdua, sepertinya mereka bermusuhan?, pikir hazel.

“oke tudep.”...“cewek yang gue janjiin buat taruhan sekarang ada di depan lo.”, ucap bagas santai sambil tersenyum kemenangan.

what!, taruhan?, siapa?, gue!?.

...

– quersnda

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak meyakinkan, cuaca yang tadinya sangat panas kini berubah menjadi sangat gelap, bahkan terdengar beberapa kali suara kilat yang cukup keras. hazel yang berdiri sendiri di depan kelas miliknya sambil bermain ponsel dibuat terkejut saat ada notif pesan dari seseorang. dirinya menoleh ke belakang, tepat di belakang terdapat sebuah tangga, dan di tangga itu terdapat sesosok laki-laki yang sangat ia benci keberadaannya. hazel kembali membuang muka.

laki-laki itu turun dari tangga dan menghampirinya, “gue anterin”, tawar cakra kepada hazel.

namun tidak dengan hazel, saat cakra mendekatinya, wajahnya malah terlihat sangat sepet. hazel tidak peduli dengan keberadaan cakra di sampingnya.

“tinggal iyain aja, gengsi bener lo” ledek cakra.

hazel tetap tidak peduli, dirinya lebih memilih melihat ponsel daripada melihat wajah cakra.

“yaudah kalo emang gk mau. gue tinggal”...“btw, katanya ini sekolah kalo pas ujan banyak suara-suara sama penampakan aneh ya?”, cakra berusaha menakut-nakuti hazel, namun naas, usahanya tetap tidak berhasil, hazel tidak menggubris dirinya.

“bisa diem gk?.”, muak dengan celotehan cakra, hazel memilih untuk buka suara dan menyuruhnya diam.

tak ingin menjawabnya cakra lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan hazel sendirian di depan kelasnya dengan keadaan langit yang gelap, dan diperkirakan akan turun hujan lebat sebentar lagi.

hazel menghembuskan nafas pelan. suasana sekolah kini mulai cukup sepi, semua murid dan guru perlahan sudah mulai menghilang dari pandangannya, namun masih ada beberapa anak yang berlalu lalang. satu jam masih setia menunggu di depan kelas dengan keadaan langit yang mulai meneteskan air sedikit demi sedikit.

“masih disini?”

tanya seorang yang entah dari mana tiba-tiba berada di belakang punggungnya. suara yang tidak cukup asing, baru saja ia mendengarnya beberapa saat yang lalu. hazel menoleh ke belakang melihat sosok pria yang memanggilnya barusan. ternyata benar dugaannya, itu adalah suara cakra.

cakra terlihat tengah bersender santai di tembok tepat belakang hazel. hazel yang melihatnya tetap tidak memperdulikannya, ia lebih memilih untuk diam dan mendengarkan suara derasnya air hujan yang kini tengah turun membasahi bumi.

“pulang bareng gue?”, cakra memberi tawaran kembali kepada hazel agar dirinya mau untuk diajak pulang.

“maksa banget sih lo!?”, hazel sudah muak dengan keberadaan cakra di dekatnya, akhirnya dirinya kembali membuka suara, “pergi gak.”, bukannya menjawab dan pergi, laki-laki di depannya itu hanya diam dan menatapnya dengan tatapan malas. hazel yang melihatnya memilih untuk pergi meninggalkan cakra sendiri di depan kelasnya.

sialan banget, ngapain juga sih harus gue yang jadi taruhannya, seperti itulah isi hati hazel saat ini. sepanjang jalan hazel hanya menggerutu tidak jelas tanpa memperhatikan depan, dirinya hanya fokus pada lantai hingga pada akhirnya dia menabrak seorang tepat di depannya hingga membuat hazel terjatuh.

“aduh..”...“siapa sih yang mangkal depan gue?!”, hazel memegangi bokongnya yang terbentur lantai, ditambah dengan kondisi lantai licin karena air hujan yang menggenang. hazel mendongak melihat atas, berapa terkejutnya saat dirinya mendapati cakra lah yang menabrak dirinya.

“jalan yang fokus, gak usah pakek ngedumel gak jelas.”, ucap cakra dengan santai lalu pergi meninggalkan hazel yang terjatuh karena ulahnya tadi begitu saja tanpa meminta maaf atau menolongnya.

hazel tidak menyangka cakra akan melakukan ini kepadanya, rasanya detik ini juga hazel ingin menonjok muka sombong laki-laki itu, namun sayang cakra sudah pergi terlebih dahulu, alhasil hazel hanya bisa menyumpahinya dalam hati dan berusaha untuk berdiri sendiri.

“sukurin, tinggal ngikut aja susah”, sementara itu, jauh dari keberadaan hazel, di belakang sekolah terdapat cakra yang juga ikut ngedumel tidak jelas karena hazel. sebenarnya cakra juga ogah untuk mengajak hazel pulang bereng, tapi karena taruhan itu dia terpaksa.

“sialan bagas, gue harus ke basecamp dia.”, ucap cakra dengan sedikit emosi. dirinya langsung menyambar helm yang ada di spion motornya dan segera menyalakan motor untuk segera bergegas pergi dari sekolah.

...

– quersnda

baru saja hazel membicarakan yasa dengan cila lewat ponsel, namun ternyata orang yang dibicarakan sudah berada di depan pagar rumah hazel. hazel yang melihatnya segera bergegas keluar kamar dan menemui temannya itu, namun saat dirinya ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang.

“hazel?” panggil seorang wanita dibelakangnya, “mau kemana malem-malem?” tanyanya.

“eh bunda?” yup benar. suara itu berasal dari bunda hazel.

“kamu mau kemana keluar diem-diem?”

“aku mau keluar sama yasa bun”

“kemana?”

“eh itu, aku mau ngerjain tugas sama yasa”

“cila ikut?”

“cila lagi pergi sama keluarnya”

“WOII ZELL” terdengar teriakan dari luar rumahnya, benar saja itu suara yasa. “JADI KE ARENA GAK?” yasa berteriak cukup keras hingga membuat suaranya terdengar sangat jelas sampai ke dalam rumah hazel.

sang bunda yang mendengar kata “arena” itu menyeringai bingung, “arena?”

yasa sialan, gue sumpahin motor lo kejebur got besok berangkat sekolah, mungkin umpatan itu yang di lontarkan hazel dalam hatinya.

“eh itu bun maksudnya yasa mau ngajak nobar balapan di rumahnya, kan kalau balapan latarnya harus pake arena yang luas” hazel terpaksa berbohong kepada sang bunda, jika tidak mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah.

“hazel?” sang bunda menatap teduh netra hitam hazel.

hazel yang melihat dalam tatapan bundanya itu tidak bisa berbohong, dirinya menundukkan kepala karena merasa bersalah telah membohongi bundanya, “maaf” ucap hazel.

“kalo kamu emang mau ke arena sama yasa bunda gak bakal larang...” sang bunda kembali berbicara, “tapi kalau kamu bohong sama bunda, bunda bakal marah sama hazel” lanjutnya.

hazel yang mendengar itu pun merasa sangat bersalah, walau bundanya sudah berkali-kali menginginkannya jangan pernah berbohong kepadanya, namun dirinya tidak bisa. selalu ada hal yang tidak bisa ia katakan kepada sang bunda, entah itu urusannya pribadi atau dengan orang lain.

“lain kali jangan bohongin bunda ya?” bunda mengelus pelan pucuk rambut hazel lalu pergi meninggalkan dirinya.

“huft...” helaan nafas pelan terdengar dari diri hazel.

teringat janjinya dengan yasa beberapa jam yang lalu hazel segera membuka pintu rumahnya dan bergegas menghampiri yasa yang sedari tadi sudah menggedor-gedor pagar rumahnya dengan menggunakan palu. kebiasaan yang aneh namun nyata, yasa selalu membawa palu di jok motor nya untuk menggedor-gedor pagar rumahnya jika saja ia tidak segera keluar saat yasa panggil atau sekedar iseng. ngeselin banget gk sih?.

hazel segera membuka pintu gerbang rumahnya dan saat itu juga ia melihat diri yasa dengan wajah kusut dan palu di tangannya.

“sorry saa” hazel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “tadi ada masalah dikit”.

“lo liat ini jam berapa?!” yasa meninggikan suaranya kepada hazel, mungkin saking kesalnya yasa dengan hazel.

“baru juga jam delapan sa”

“tau gini gue berangkat duluan” yasa sudah bersiap menyalakan motornya, namun dihentikan sejenak oleh hazel.

“ngapain?”

“gue belum naik anjg, jangan main tinggal-tinggal”

“siapa sih zel yang mau ninggalin lo?, baru juga mau gue nyalain” hanya ada senyum paksaan di wajah yasa, “buruan naik, mau gue tinggal!?”, yasa terlihat geram sendiri dengan tingkah laku hazel, sepertinya malam ini akan panjang jika dirinya tidak mengakhiri semua ini dengan cepat.

“eh iya ini mau naik” baru saja hazel ingin naik dan yasa menyalakan motor, “eh bentar sa” seketika suara hazel mengentikan aktifitas yasa untuk segera menyalakan mesin motornya.

“lo mau gue tinggal apa lempar ke kali sih zel?!, bawel banget tinggal naik” kesabaran yasa sudah diambang batas, mungkin kini dirinya sudah tertinggal satu putaran karena temannya ini.

“helm gue mana?!” tidak disangka, ternyata yasa melupakan prioritas keselamatan dalam berkendara, helm milik hazel.

“zel...”

“jangan bilang lo lupa bawa helm gue?!” hazel menebak dengan tepat.

“gue lupa zel” kali ini bukan yasa yang geram, melainkan hazel yang geram dengan ulah lalai yasa.

“kok bisa sih?!”

“ya mana gue tau”

“terus gue gimana dong?!”

“rumah lo gak ada helm?”

“ya kali gue masuk lagi?”

“lo mau dicegat polisi?”

“ini udah malem, gak mungkin ada polisi”

“lo kira polisi cuma muncul pas siang doang?” tanya yasa, “polisi mau muncul pagi, siang, sore, malem, subuh kek serah dia” lanjutnya.

benar juga yang dikatakan yasa, polisi akan terus berjaga selama 24jam di negara hukum, jika dirinya melanggar dan tertangkap pasti akan sangat merepotkan orang tuanya. “yaudah gue ambil helm bentar ke dalem” hazel meninggalkan yasa di depan rumahnya sendiri dan segera bergegas masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil helm.

“telat dah gue, abis dah permainannya. nyesel gue iyain ajakan lo” gumam yasa.

...

– quersnda

setelah terlalu banyak drama dijalani oleh hazel dan yasa, mereka berdua memutuskan untuk segera ke area. saat mereka sampai ternyata suasana disana masih sepi, sepertinya belum di mulai?.

yasa yang biasanya ikut tanding kini lebih memilih untuk menonton saja, dirinya sedang sangat malas ntah itu karena apa hazel tidak tahu, karena hazel penasaran dengan itu dirinya pun kembali nyeloteh kepada yasa, “sa”...“kok lo gak ikut tanding sih?” imbuhnya.

“dih ngatur lo”

bukannya mendapat jawaban yang pasti, hazel malah dibuat kesal dengan jawaban yasa.

“gue nanya goblok, lo jawab yang bener dong”

“lah itu udah gue jawab”

“tau ah.”

kesal dengan yasa, hazel memutuskan untuk pergi dan duduk sendiri menjauh dari dirinya. saat hazel baru meletakkan bokongnya di rerumputan dekat arena, telfonnya bergetar, alhasil dia harus berdiri lagi dan pergi mengangkat nya. di sekitarnya sangat ramai anak-anak muda sedang duduk bergerombol atau sekedar bermain game online dan bercanda ria.

saat ia baru ingin mengangkat panggilan telefon, ia dibuat geram sendiri dengan nama yang tertera pada layar ponselnya, tanpa menunggu lagi dirinya mengangkatnya.

“kalo lo disini cuma buat mamerin ke bego–”

“gue mau masuk arena bentar, lo jangan kemana-mana”

“eh ngapain?. gue ditinggal?”

“lo duduk aja disitu, jgn ngilang-ngilang ntar gue susah nyarinya”

“jangan lama-lama, ntar kalo gue diculik om-om gimana?”

“gue jamin gak bakal. om-om juga milih-milih kali, yg pinter bukan yang bego kek lo”

“sialan yanto.”

“udh gue mau tutup”

“eh–”

tut...tut...tut...

sabar, seperti itulah yang harus dilakukan oleh hazel.

daripada ia memikirkan temannya terlalu lanjut, lebih baik ia duduk dan merilekskan pikirannya. sesekali melihat sekitar, dirinya melihat bahwa disekitarnya tidak terlalu banyak orang yang berdatangan, mungkin memang belum semuanya datang, pikir hazel.

merasa sangat bosan menunggu mulainya pertandingan, ia lebih memilih untuk bermain ponsel, dirinya membuka aplikasi yang memiliki icon burung dan didominasi warna biru. membuka, lalu menggulir nya ke bawah, banyak berita-berita terhangat dan lucu yang bisa dapatkan dari “twitter”, ia tertawa dalam saat melihat apa yang ada dalam layar ponselnya, penuh dengan lelucon membuatnya tergeletak.

orang-orang yang ada di sampingnya pun memandanginya dengan tatapan seolah berkata bahwa dirinya aneh. hazel yang merasa tak enak dengan tatapan tersebut menundukkan tubuhnya lalu meminta maaf pelan. hazel tersenyum canggung.

“hazel?”

hazel mendongak ketika ada yang memanggilnya, melihat dua pemuda yang terlihat masih seumuran dengannya.

“eh iya?”, hazel sedikit terkejut dengan keberadaan dua pemuda itu, darimana dua pemuda itu tau namanya?. apakah mereka teman yasa?.

“mau ikut kita gak?” tawarnya.

ikut?, ikut kemana, masa iya gue mau ikut balapan?, pikirnya.

“emang kemana?, terus lo berdua siapa?”

“oh kenalin, kita temennya yasa.”

nah kan apa gue tebak, pasti mereka temen yanto, hazel terus saja menggerutu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“terus sekarang yasa kemana?”, hazel menanyakan keberadaan temannya itu kepada dua pemuda di depannya, namun tidak ada sama sekali yang menjawabnya.

mereka berdua hanya diam.

“ngapain kalian diem?. kalian temen yasa kan?. pasti kalian tahu yasa kemana barusan”

“lo butuh lowongan kerja gk?”

tiba-tiba?. lowongan pekerjaan, hazel melongo mendengar mereka menawarkan pekerjaan kepadanya. dirinya kembali berfikir, selama dua minggu terakhir keuangannya dengan sang bunda sedikit terganggu karena masalah pribadinya dengan keluarga besar, dan satu-satu harapan sang bunda adalah dirinya. jika di pikir-pikir lagi tidak ada salahnya menerima tawaran dari mereka berdua.

“kerja apaan?”

“ikut kita dulu”

hazel sebenarnya sedikit ragu dengan tawaran tersebut, namun bagaimana lagi?, jika ada rejeki di depan mata apakah dirinya harus menolak?. hazel berfikir, jika pekerjaan ini tidak berpengaruh pada pendidikan dan keluarnya dia masih fine saja.

“oke.”, hazel berdiri lalu memasukkan ponselnya pada saku celana miliknya.

dua pria tersebut mulai pergi meninggalkan dirinya tanpa memberi aba-aba, namun hazel lebih memilih untuk mengikutinya.

...

– quersnda

setelah terlalu banyak drama dijalani oleh hazel dan yasa, mereka berdua memutuskan untuk segera ke area. saat mereka sampai ternyata suasana disana masih sepi, sepertinya belum di mulai?.

yasa yang biasanya ikut tanding kini lebih memilih untuk menonton saja, dirinya sedang sangat malas ntah itu karena apa hazel tidak tahu, karena hazel penasaran dengan itu dirinya pun kembali nyeloteh kepada yasa, “sa”...“kok lo gak ikut tanding sih?” imbuhnya.

“dih ngatur lo”

bukannya mendapat jawaban yang pasti, hazel malah dibuat kesal dengan jawaban yasa.

“gue nanya goblok, lo jawab yang bener dong”

“lah itu udah gue jawab”

“tau ah.”

kesal dengan yasa, hazel memutuskan untuk pergi dan duduk sendiri menjauh dari dirinya. saat hazel baru meletakkan bokongnya di rerumputan dekat arena, telfonnya bergetar, alhasil dia harus berdiri lagi dan pergi mengangkat nya. di sekitarnya sangat ramai anak-anak muda sedang duduk bergerombol atau sekedar bermain game online dan bercanda ria.

saat ia baru ingin mengangkat panggilan telefon, ia dibuat geram sendiri dengan nama yang tertera pada layar ponselnya, tanpa menunggu lagi dirinya mengangkatnya.

“kalo lo disini cuma buat mamerin ke bego–”

“gue mau masuk arena bentar, lo jangan kemana-mana”

“eh ngapain?. gue ditinggal?”

“lo duduk aja disitu, jgn ngilang-ngilang ntar gue susah nyarinya”

“jangan lama-lama, ntar kalo gue diculik om-om gimana?”

“gue jamin gak bakal. om-om juga milih-milih kali, yg pinter bukan yang bego kek lo”

“sialan yanto.”

“udh gue mau tutup”

“eh–”

tut...tut...tut...

sabar, seperti itulah yang harus dilakukan oleh hazel.

daripada ia memikirkan temannya terlalu lanjut, lebih baik ia duduk dan merilekskan pikirannya. sesekali melihat sekitar, dirinya melihat bahwa disekitarnya tidak terlalu banyak orang yang berdatangan, mungkin memang belum semuanya datang, pikir hazel.

merasa sangat bosan menunggu mulainya pertandingan, ia lebih memilih untuk bermain ponsel, dirinya membuka aplikasi yang memiliki icon burung dan didominasi warna biru. membuka, lalu menggulir nya ke bawah, banyak berita-berita terhangat dan lucu yang bisa dapatkan dari “twitter”, ia tertawa dalam saat melihat apa yang ada dalam layar ponselnya, penuh dengan lelucon membuatnya tergeletak.

orang-orang yang ada di sampingnya pun memandanginya dengan tatapan seolah berkata bahwa dirinya aneh. hazel yang merasa tak enak dengan tatapan tersebut menundukkan tubuhnya lalu meminta maaf pelan. hazel tersenyum canggung.

“hazel?”

hazel mendongak ketika ada yang memanggilnya, melihat dua pemuda yang terlihat masih seumuran dengannya.

“eh iya?”, hazel sedikit terkejut dengan keberadaan dua pemuda itu, darimana dua pemuda itu tau namanya?. apakah mereka teman yasa?.

“mau ikut kita gak?” tawarnya.

ikut?, ikut kemana, masa iya gue mau ikut balapan?, pikirnya.

“emang kemana?, terus lo berdua siapa?”

“oh kenalin, kita temennya yasa.”

nah kan apa gue tebak, pasti mereka temen yanto, hazel terus saja menggerutu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“terus sekarang yasa kemana?”, hazel menanyakan keberadaan temannya itu kepada dua pemuda di depannya, namun tidak ada sama sekali yang menjawabnya.

mereka berdua hanya diam.

“ngapain kalian diem?. kalian temen yasa kan?. pasti kalian tahu yasa kemana barusan”

“lo butuh lowongan kerja gk?”

tiba-tiba?. lowongan pekerjaan, hazel melongo mendengar mereka menawarkan pekerjaan kepadanya. dirinya kembali berfikir, selama dua minggu terakhir keuangannya dengan sang bunda sedikit terganggu karena masalah pribadinya dengan keluarga besar, dan satu-satu harapan sang bunda adalah dirinya. jika di pikir-pikir lagi tidak ada salahnya menerima tawaran dari mereka berdua.

“kerja apaan?”

“ikut kita dulu”

hazel sebenarnya sedikit ragu dengan tawaran tersebut, namun bagaimana lagi?, jika ada rejeki di depan mata apakah dirinya harus menolak?. hazel berfikir, jika pekerjaan ini tidak berpengaruh pada pendidikan dan keluarnya dia masih fine saja.

“oke.”, hazel berdiri lalu memasukkan ponselnya pada saku celana miliknya.

dua pria tersebut mulai pergi meninggalkan dirinya tanpa memberi aba-aba, namun hazel lebih memilih untuk mengikutinya.

...

– quersn