susana sekolah mulai sepi seiring berjalannya waktu. begitu juga ruang band yang terdapat di sma neo, hanya menyisakan beberapa anak, yaitu cakra dan haksa. cakra sedang memegang gitar sambil me-genjreng senar pada gitarnya hingga menciptakan alunan yang indah.
“cak”, panggil haksa yang kini tengah duduk di sampingnya sambil memakan cilor yang dibelinya saat istirahat.
cakra menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah haksa.
“lama banget lo bolos”, haksa melontarkan pertanyaan kepada cakra. pernyataan ini memang sangat perlu dipertanyakan, pasalnya cakra jarang sekali mengikuti kelas dan pergi ke sekolah, bahkan teman satu sekolahnya menganggap cakra asing dimata mereka.
cakra tidak menanggapi pertanyaan dari haksa, ia lebih memilih untuk mengabaikan pertanyaan tidak berguna itu dan kembali memainkan gitarnya.
“yaelah cak, gue nanya baik-baik bukannya dijawab...”
cakra kembali menghentikan aktivitasnya bermain gitar karena mulut haksa, “mending lo pulang.”
“tinggal jawab doang susah ben–”, belum sempat haksa melanjutkan kalimatnya namun cakra sudah menatapnya dengan sinis hingga membuatnya bungkam. “iya ini gue pergi anjg, mata lo minta di cong–”, tatapan itu kembali membuat haksa diam dan memilih untuk meninggalkan ruangan.
cakra yang melihat haksa pergi meninggalkannya sendiri menghela nafas berat. saat haksa bertanya tadi, sebetulnya ia ingin menjawab, namun mulutnya memaksanya untuk bungkam.
setiap orang pasti mempunyai keluh kesahnya sendiri. sedekat apa kamu dengan seseorang, pasti lebih memilih untuk memendam daripada mengungkapkannya. begitu juga dengan cakra.
cakra meletakkan gitar yang sedari tadi ia mainkan pada meja di depannya dan segera bergegas untuk meninggalkan ruangan. saat dirinya sudah berada di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sesosok wanita yang cukup asing dimatanya.
“cakra?”, tanya wanita didepannya.
masih dengan wajah datarnya, cakra memilih untuk tidak memperdulikan wanita yang sedang
“gue boleh minta tolong gak?”
“tudep.”
“gue mau kita pacaran–cuma pura-pura.”
cakra melotot ke arah wanita di depannya, bagaimana ia tidak terkejut jika tiba-tiba orang yang tidak dirinya kenal mengajaknya pacaran, walau itu hanya pura-pura.
“sopan gak lo ngomong gini ke gue?”
“gue tau lo gak kenal sama gue, tapi gue tau lo siapa. gue bakal ikut lo ke arena kalo emang lo ngebolehin”...“gue mohon banget.”
sekali lagi wanita didepannya ini membuatnya terkejut, bagaimana ia bisa tau kalo dirinya bermain di arena balap.
“mending lo cari yang lain”
“gak, gue maunya lo.”
“maksa banget”
“seminggu.”
cakra melihat wanita di depannya ini sudah memohonkan mati-matian kepadanya sedari tadi, hatinya ingin menolak, namun tidak dengan mulutnya kini. mulutnya masih ingin mengatakan iya, sedangkan hatinya tidak.
“nama lo?.”
“cila, XII IPS 2”
“balik sono, udah sore”
“lo mau kan?”
cakra tidak menjawab pertanyaan dari cila, ia lebih memilih untuk diam.
“gue mohon banget”, cila menampilkan wajah melas nya kepada cakra...
“mau lo?”
“lo terima ajakan gue.”
“yaudah”, hingga membuat cakra meng iyakan ajakan tersebut.
cakra melihat wanita di depannya sangat senang dan tersenyum sumringah kepada dirinya. namun cakra tetap mempertahankan wajah datarnya, walau kini bibirnya tengah mengulas sebuah senyum tipis, saking tipisnya mungkin orang yang berada di dekatnya tidak akan menyadarinya.
cakra merasakan sesuatu ketika melihat cila tersenyum kepadanya, seperti ada yang janggal di hatinya, dejavu?.
“kalo gitu gue bal–”
“gue anter”, belum selesai cila berbicara namun cakra sudah memotongnya.
“makasih.”
“cila ayo balik”
“bentar zel”
hazel dan cila masih berada di kelas. hazel yang menunggu cila di depan pintu, dan cila yang masih duduk di bangkunya merapikan semua buku-buku miliknya.
“yasa udah balik duluan”, hazel menghampiri cila yang masih duduk di bangkunya.
“tenang, gue telfon sopir bentar”, cila tersenyum ke arah hazel sembari mengotak-atik ponselnya untuk menelfon seseorang.
“lama aelah cil, mending jalan”, hazel tidak setuju dengan keputusan cila untuk menelfon sopirnya agar menjemput mereka berdua.
“sabar zel, in–”, belum selesai cila berbicara kepada hazel namun telfonnya sudah berbunyi terlebih dahulu, alhasil cila harus mengangkat nya.
hazel menyimak pembicaraan cila dengan seorang laki-laki?, dirinya tidak tau siapa laki-laki yang sedang berbicara dengan sahabat nya ini. namun yang membuat hazel merasa aneh, wajah cila yang awalnya terlihat sumringah kini menjadi murung dan jutek?.
“zel, lo balik dulu aja”
“kenapa?”
“gue ada urusan bentar”
hazel merasakan ada yang janggal dari raut wajah dan cara berbicara cila setelah menerima telfon barusan.
“lo gak papa gue tinggal sendiri?”
“it's oky“
“beneran?”
“iya gue gak papa lo buruan pergi aja.”
mendengar cila sudah berbicara lantang kepadanya, hazel lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan cila sendiri di dalam kelas.
...
– quersnda