quersnda

hazel segera berlari dari taman menuju cafe untuk menemui cakra disana. namun saat ia tiba di sana, matanya menangkap sesosok wanita yang sangat lekat di ingatannya. hazel sempat berfikir siapa dia, namun dari postur tubuh dan rambutnya, ia bisa menebak dengan cepat siapa wanita itu, meski hanya dari kejauhan. langkah demi langkah ia ambil, berjalan mendekati kerumunan, yang sudah ia pastikan bahwa mereka semua tengah menonton aksi antara cakra dan bagas.

hazel menerobos kerumunan, dan betapa terkejutnya ia melihat seluruh wajah cakra sudah dipenuhi oleh luka lebam. hazel segera berlari dan menghentikan perkelahian tersebut. diibaratkan kucing yang masuk ke dalam kandang singa.

hazel menerobos ke tengah-tengah antara cakra dan bagas. hal ini juga yang membuat seisi cafe terdiam, begitu juga cakra dan bagas.

“minggir.”, cakra berujar kepada hazel dengan suara lantang.

“lo ngapain sih cari masalah sama orang lain?”...“ngaca cak, muka lo udah babak belur gini masih mau lanjut?”

“gue bilang jangan masuk”

“jadi, lo nyuruh gue buat tunggu di luar, supaya lo bisa baku hantam sama orang lain!?”

cakra seketika membisu.

“tau gini gue gak bakal masuk”...“sekarang lanjut aja kalo mau berantem, gue bakal pergi dan gak bakal ganggu lo lagi”

hazel berbalik membelakangi tubuh cakra, ia ingin segera pergi dari cafe ini, namun ada hal yang menahannya untuk tidak pergi dari sini. hazel melihat dengan jelas wajah wanita yang ia maksut tadi. selangkah ia maju, semakin dekat juga ia dengan wanita itu.

betapa terkejutnya hazel mendapati sahabat yang akhir-akhir ini sangat ia tunggu dan rindukan malah jalan bersama dua orang laki-laki, bahkan dua laki-laki ini adalah orang yang hazel benci.

“cil?”, hazel menghampiri cila dan menatap netra hitam miliknya.

cila yang dipanggil malah mengelak, dirinya ingin segera pergi dari hadapan hazel, namun hazel segara menahan tangannya. alhasil usaha cila untuk kabur gagal.

“jawab gue cila!”

“gue harus jawab apa!?”

“kenapa lo ngelak dari gue akhir-akhir ini?!”

cila terdiam.

“jawab gue cil...”

sorry”, gumamnya pelan.

“jelasin semuanya ke gue”

“seminggu yang lalu gue jadian sama cila”, sahut cakra.

“dan tiga hari lalu dia jadian sama gue.”, imbuh bagas.

hazel tidak bisa berkata-kata lagi. hatinya tidak bisa menahan rasa sakit yang diberikan oleh cila. begitu besar rahasia yang disembunyikan olehnya kepada dirinya, sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. ingin rasanya hazel menampar pipi cila sekarang juga, namun hazel tau, menampar bukanlah hal yang bisa menyelesaikan masalah ini, yang ada masalah akan menjadi tambah rumit jika ia bermain menggunakan kekerasan.

hazel menghela nafas berat, beberapa tetes air mata mulai membasahi kedua pipinya.

“pilih antara kita bertiga.”, hazel menatap lekat wajah cila sembari menahan tangisnya.

“bagas, ayo kita pergi dari sini”

bukannya menjawab, cila malah memilih untuk pergi dari cafe bersama dengan bagas. namun dengan ini juga, hazel sudah bisa menebak jawaban cila, bahwa dirinya lebih memilih bagas ketimbang persahabatannya.

“lo benar-benar udah nge hancurin kepercayaan gue selama ini, cuma gara-gara satu orang cowok?”

tanpa menjawab, cila segera menarik tangan bagas dan membawanya pergi keluar dari cafe.

kini pandangan seisi cafe tertuju pada hazel dan cakra. hazel yang tadi hanya diam menahan rasa sakitnya, kini ingin sekali menangis dan meluapkan rasa sakitnya.

disisi lain, cakra melihat bagaimana gerak gerik hazel dari belakang. dirinya menghampiri hazel dan segera menarik tangannya pelan untuk membawanya keluar dari dalam cafe. hazel yang menyadarinya pun hanya diam dan mengikut saja.

cakra membawa hazel ke taman belakang cafe. suasana angin malam mungkin akan membuat keadaan hazel menjadi lebih tenang, pikir cakra.

“nangis aja”, ujar cakra.

hazel hanya menunduk dan diam tak menggubris perkataan cakra. dadanya terasa sesak saat dirinya mencoba menahan air mata.

cakra melihat sekilas ke arah hazel.

“gue tau lo bingung sama situasi ini”...“sama halnya kayak lo, gue juga bingung sama semua ini.”

hazel mendongak, menatap lekat wajah cakra yang sedang berbicara dengannya. begitu juga dengan cakra, ia menatap balik wajah hazel dengan lekat, hingga membuat mereka berdua melakukan kontak mata dan terbawa dalam suasana malam.

“gue pacaran sama cila, seminggu yang lalu”...“awalnya gue cuma pura-pura”

“mak-maksut lo?”

cakra kembali melihat ke depan dengan pandangan kosong, “cila minta bantuan gue buat jadi pacarnya, seminggu”.

“jadi kalian?”

“kita cuma pura-pura”

“tapi...”

“gue jatuh cinta sama cila dalam sekejap, dan gue lupa akan semuanya”...“semakin gue larut dalam kisah cinta ini, semakin dalam juga rasa sayang gue ke dia”, cakra kini mulai membongkar sedikit demi sedikit rahasia cila dan dirinya kepada hazel, tanpa ada beban sedikit pun yang mengganjal di hatinya. rasanya cakra ingin meluapkan semua isi hatinya sekarang juga dihadapkan hazel, entah hazel itu orang asing atau bukan baginya. namun yang pasti kini ia tengah membutuhkan teman bicara.

“cak...”, hazel memanggil nama cakra dengan lemah lembut, tidak seperti hazel yang biasanya.

cakra menoleh ke arah hazel.

“muka lo lebam semua, apa gak sebaiknya lo obati dulu?”

“rasa sakit di muka gue gak ada apa-apanya, ketimbang rasa sakit di hati gue”

hazel kini bingung harus menjawab apa. sebenarnya tidak cuma cakra yang terluka dalam situasi ini, namun hazel juga.

“kalo mau nangis jangan ditahan, gue disini gak keberatan buat denger rasa sakit lo”, cakra tersenyum sekilas ke arah hazel dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan.

hazel sebenarnya ingin sekali menangis, tapi ia tidak bisa. entah apa yang membuatnya tidak bisa menangis kali ini.

“cak, gue pergi bentar, lo jangan kemana-mana”, tanpa menunggu jawaban dari cakra, hazel segera pergi dan berlari meninggalkan cakra sendirian di tengah gelapnya malam.

read more...

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak bersahabat, terlebih lagi di sma neo yang kini tengah diguyur hujan lebat.

semakin berjalannya waktu, siswa & siswi di sma neo mulai meninggalkan sekolah, hanya menyisakan beberapa murid yang kini tengah meneduh, tak terkecuali hazel. dirinya menunggu hujan reda agar bisa berjalan pulang. bukannya menunjukkan tanda-tanda hujan akan berhenti, malah kini hujan semakin bertambah deras, dugaan hazel salah besar. saat hazel tengah berdiri sambil menatapi langit, tiba-tiba saja kilat menyambar hingga membuat dirinya terkejut setengah mati.

“ngapain disini?”, kejut cakra.

hampir saja hazel dibuat jantungan karena suara petir, kini dirinya malah dikejutkan dengan kedatangan seorang yang tak ia harapkan keberadaannya.

“harusnya gue yang nanya, ngapain lo disini?!”

bukannya menjawab pertanyaan cakra, hazel malah bertanya balik kepada cakra.

“gue anterin pulang”, ajak cakra.

tawaran dari seorang cakra kepada hazel berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata.

“niat gue baik”, imbuhnya.

“gak perlu”, tolak hazel.

“lo mau disini sampek beku?”

sejujurnya yang dikatakan oleh cakra ada benarnya juga. namun hazel tetaplah hazel, seorang gadis keras kepala. hazel tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap menolak ajakan cakra.

“tinggal jawab iya apa susahnya?”

cakra sudah bersiap ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapan hazel. beberapa langkah ia ambil dan...

“gue mau”

ajakannya diterima oleh hazel. cakra tersenyum sarkas dari balik tubuhnya.


“makasih.”, hazel turun dari jok motor cakra dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada cakra, karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat.

“makasih doang?”...“di dunia ini gak ada yang gratis”, imbuh cakra.

hazel sudah menebak dari awal, seorang cakra tidak mungkin mempunyai niat baik terhadap dirinya, pasti di balik niat baik itu terdapat lubang yang bisa cakra gunakan untuk menariknya masuk ke dalam.

“terus?”, tanya hazel.

“kontrak gue sam—”

“stop!”

belum sempat cakra melanjutkan kalimatnya, hazel sudah memotongnya lebih dulu, hal itu pula yang membuat seorang cakra geram terhadap hazel.

“sopan santun lo dimana pas orang ngomong?”, cakra turun dari motornya dan berdiri tepat di depan hazel.

tidak peduli dengan posisi cakra yang kini tengah berdiri di depannya, hazel menatap netra hitam cakra dengan tajam, “gue tau lo mau bicara soal taruhan tadi malem, tapi sorry, gue sekarang udah berubah pikiran. gue gak bakal mau lo jadiin babu buat setahun, mau lo bayar gue semahal apapun gue gak akan nerima tawaran lo”...“dan satu lagi, bukannya lo tadi pagi marah-marah gak jelas sama gue ya?, kenapa tiba-tiba sekarang jadi baik sama gue?”, timpal hazel.

selesai berbicara panjang lebar, hazel pergi begitu saja meninggalkan cakra seorang di depan gerbang rumahnya.

cakra menatapi punggung hazel yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. setelah hazel benar-benar hilang dari hadapannya, ia memilih untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman hazel dengan perasaan campur aduk, antara marah dan bingung.

read more...

hari yang cukup melelahkan bagi seorang hazel, mulai dari bangun pagi, bantuin masak bunda, sekolah dari pagi sampek sore, pulang, mandi, makan, belajar, lalu hal yang paling ia nantikan adalah tidur. setiap hari pun juga sama seperti ini, mungkin ini sudah menjadi roda kehidupan bagi hazel.

berjalan gontai dari meja belajar menuju kasur yang sangat ia rindukan. tanpa aba-aba lagi hazel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. merebahkan tubuhnya sambil melihat langit-langit kamarnya, mencoba untuk menenangkan sejenak pikiran dan melupakan semua masalah yang ia lewati hari ini.

saat hazel tengah memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat, ponsel di sampingnya bergetar, alhasil ia harus bangun dan melihat siapa yang menelfon nya malam-malam seperti ini.

cakra is calling...

terkejut?, pasti. panggilan dari nama yang tertera di layar ponselnya itu membuat mood hazel menjadi buruk.

hazel tidak mengangkat panggilan tersebut, ia lebih memilih untuk mendiamkannya. mau berapa kali nomernya terus di panggil, ia tetap tidak akan menggubrisnya. beberapa menit setelahnya tidak ada getaran sama sekali dari ponselnya, mungkin laki-laki itu sudah tidak menelfon nya lagi, pikir hazel.

“hazel...”, panggil sang bunda dari balik pintu kamarnya.

mendengar itu hazel segera bergegas dari atas tempat tidur untuk segera membukakan pintu kamarnya.

cklek...

“kenapa bun?”, tanyanya kepada bunda.

“temen kamu nyariin dari tadi di bawah”

terdiam sejenak, hazel berfikir siapa teman yang datang ke rumahnya malem-malem seperti ini tanpa mengabari dirinya. apakah itu yasa?.

“turun dulu zel, kasian dia nunggu kamu dari tadi”, bunda menyuruhnya untuk segera turun, “zel, kamu kok gak pernah bilang sama bunda kalo punya temen cowok selain yasa”, imbuhnya.

“bun, temen aku cowok cuma yasa doang...”

mendengar itu bunda menaikkan kedua bahunya, seperti memberi isyarat bahwa dirinya juga tidak tahu.

hazel penasaran dengan laki-laki yang di maksud bundanya itu, akhirnya ia segera bergegas turun dari kamarnya menuju ruang tamu agar bisa melihat siapa orang yang di maksud sang bunda, dan saat dirinya tiba di bawah...

“cakra?”, gumamnya.

cakra yang tengah menunduk sambil bermain ponsel, mendongak melihat sosok hazel di depannya.

“lo ngapain anjg di rumah gue!?”, hazel berjalan mendekat ke arah cakra dan menatapnya dengan tajam.

“numpang makan”, cakra balik menatap netra hitam hazel dengan tatapan datar, seolah tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh hazel.

hazel yang mendengar jawaban cakra sempat ingin menonjok wajahnya, namun usahanya gagal karena sang bunda tiba-tiba turun dan menemui mereka berdua.

“kalian kenapa berdiri?, ayo duduk dulu, bunda bikinin minum”, titah sang bunda.

“maaf tante, niat saya kesini cuma mau ngajak hazel pergi”, cakra to the point dengan urusannya kali ini. dirinya ke rumah hazel karena ada niatan, bukan sekedar ingin bertamu.

hazel yang mendengarnya melongo, matanya melotot menatap cakra.

“kalian mau pergi kemana malem-malem gini?”, tanya bunda kepada hazel dan cakra.

“bun—”, baru saja hazel ingin menjawabnya, namun cakra sudah lebih dulu buka suara.

“ngajak makan ke cafe!”, sahut cakra.

hazel menatap cakra lalu mengerutkan keningnya. tak berselang lama cakra balik menatap dirinya dan tersenyum penuh arti, seolah dirinya harus meng-iyakan perkataan cakra.

“kalau gitu kalian pergi aja sekarang, nanti keburu malem”

mendengar persetujuan dari sang bunda, hazel rasanya ingin mencabik-cabik mulut cakra. bisa-bisanya dia berbohong kepada bundanya, dan bodohnya lagi kenapa bunda harus percaya kepada cakra.

lain hal nya cakra, dirinya tersenyum manis kepada bunda hazel, seolah sangat berterimakasih karena telah mengizinkannya untuk membawa hazel pergi dengannya malam ini.

“bunda...”, hazel merengek kepada sang bunda agar tidak jadi mengizinkannya pergi dengan cakra.

“sana ganti baju, kasian temen kamu udah nungguin”

namun nihil, usahanya merengek kepada sang bunda sia-sia, ia tetap harus pergi dengan cakra. cowok paling nyebelin yang pernah ia temui, lebih nyebelin dari yasa.

“buruan, waktu gue mepet”, cakra berbisik kepada hazel.

hazel berdecak kesal.

“kalau gitu bunda pergi dulu ke kamar, kalian hati-hati di jalan”

bunda pergi meninggalkan hazel sendiri di bawah bersama cakra seorang.

“buruan ganti”

“gak.”

“zel”

“najis, jangan manggil nama gue.”

“sok suci”

“daripada lo sok iya”

“waktu gue mepet”

“bukan urusan gue”

“belagu banget lo jadi cewek”

“daripada lo, jadi cowok sombong banget”

cakra menghela nafas pendek, ternyata tidak mudah untuk mengajak seorang hazel pergi keluar dengannya.

“sekali ini aja lo tolongin gue. gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo, apalagi minta lo buat jadi babu gue”, jelas cakra.

“pokoknya gue gak mau.”, hazel tetaplah hazel, ia menolak mentah-mentah ajakan cakra. dirinya berfikir bahwa cakra hanya berkata manis di awal dan akan berakhir pahit di belakang.

“gue bayar”

“gue bilang gak mau.”

cakra sudah hampir menyerah untuk mengajak hazel pergi, namun ia teringat dengan tujuannya. dirinya tidak boleh pergi sebelum bisa membawa hazel ikut dengannya.

tidak ada cara lain, kini hanya ada satu cara di benak cakra, yaitu, menarik paksa hazel keluar rumah.

tanpa berfikir dua kali, cakra menarik salah satu pergelangan tangan hazel keluar rumah hingga membuat sang empu berteriak supaya melepaskan tangannya.

“eh anjg lo mau bawa gue kemana!?”

“diem.”

sesampainya di luar rumah cakra melepaskan pergelangan tangan hazel. namun kini hazel malah memaki-maki dirinya.

“sakit anjg main tarik tangan orang”, protes hazel.

“harusnya tadi lo nurut, kalo iya gak bakal gue tarik-tarik tangan lo”

cakra menatap datar hazel, dirinya tidak lagi ingin berdebat dengannya.

“naik.”, cakra sudah memberi isyarat agar hazel segera ke atas jok motornya. namun sayang, hazel tetap diam di tempat dan tak menggubris dirinya.

kembali menghela nafas, cakra hanya bisa sabar kali ini menghadapi hazel. untung saja cuma satu malam ini.

cakra menghampiri hazel yang berada di belakangnya dan langsung memakaikan helm di kepalanya. hal ini juga yang membuat hazel menatap kaget dirinya.

“muka gue seganteng itu?”

suara dari cakra berhasil membuyarkan tatapan hazel.

“dih pede banget!”, hazel mencoba terlihat untuk tetap calm dihadapan cakra, walau kini jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

cakra terkekeh sekejap melihat ekspresi wajah panik hazel yang dirinya anggap lucu.

“lo ketawa?”

“buruan naik, waktu gue hampir habis”

“lo beneran ketawa?”

“zel.”

“jangan manggil nama gue!”

“terus?”

“panggil aja mbak, kan bisa”

“gue seumuran”

“intinya jangan manggil gue hazel, mau disini apa dimana aja”

“serah”

“lo mau ajak gue kemana, sih?”

“banyak bacot lo, buruan naik atau gue tinggal!?”

“tinggal aja gapapa”, hazel menjawab dengan melampirkan senyum manisnya.

terlalu lama bagi cakra menunggu hazel berkata iya. jika dirinya tidak segera bertindak, mungkin hazel tidak akan pernah naik ke atas jok motor nya.

cakra sudah berdiri di depan hazel. dengan sangat terpaksa, dirinya mendekat ke arah hazel. jarak antara mereka berdua hampir tidak memiliki celah. saat cakra ingin maju selangkah lagi...

stop. lo mau ngapain!?”

hazel berhasil menahannya.

“gendong, kenapa?”

kini hazel dibuat bungkam oleh cakra, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi. entah apa yang membuatnya bungkam kali ini. namun intinya hari ini ia tengah dibuat shock oleh seorang cakra.

“lo mau naik apa lanjut gue gendong?”

“hah?”...“eh iya ini mau naik”

akhirnya, setelah usaha yang cukup panjang bagi cakra untuk bisa mengajak hazel pergi dengannya.

...

– quersnda

hari yang cukup melelahkan bagi seorang hazel, mulai dari bangun pagi, bantuin masak bunda, sekolah dari pagi sampek sore, pulang, mandi, makan, belajar, lalu hal yang paling ia nantikan adalah tidur. setiap hari pun juga sama seperti ini, mungkin ini sudah menjadi roda kehidupan bagi hazel.

berjalan gontai dari meja belajar menuju kasur yang sangat ia rindukan. tanpa aba-aba lagi hazel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. merebahkan tubuhnya sambil melihat langit-langit kamarnya, mencoba untuk menenangkan sejenak pikiran dan melupakan semua masalah yang ia lewati hari ini.

saat hazel tengah memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat, ponsel di sampingnya bergetar, alhasil ia harus bangun dan melihat siapa yang menelfon nya malam-malam seperti ini.

cakra is calling...

terkejut?, pasti. panggilan dari nama yang tertera di layar ponselnya itu membuat mood hazel menjadi buruk.

hazel tidak mengangkat panggilan tersebut, ia lebih memilih untuk mendiamkannya. mau berapa kali nomernya terus di panggil, ia tetap tidak akan menggubrisnya. beberapa menit setelahnya tidak ada getaran sama sekali dari ponselnya, mungkin laki-laki itu sudah tidak menelfon nya lagi, pikir hazel.

“hazel...”, panggil sang bunda dari balik pintu kamarnya.

mendengar itu hazel segera bergegas dari atas tempat tidur untuk segera membukakan pintu kamarnya.

cklek...

“kenapa bun?”, tanyanya kepada bunda.

“temen kamu nyariin dari tadi di bawah”

terdiam sejenak, hazel berfikir siapa teman yang datang ke rumahnya malem-malem seperti ini tanpa mengabari dirinya. apakah itu yasa?.

“turun dulu zel, kasian dia nunggu kamu dari tadi”, bunda menyuruhnya untuk segera turun, “zel, kamu kok gak pernah bilang sama bunda kalo punya temen cowok selain yasa”, imbuhnya.

“bun, temen aku cowok cuma yasa doang...”

mendengar itu bunda menaikkan kedua bahunya, seperti memberi isyarat bahwa dirinya juga tidak tahu.

hazel penasaran dengan laki-laki yang di maksud bundanya itu, akhirnya ia segera bergegas turun dari kamarnya menuju ruang tamu agar bisa melihat siapa orang yang di maksud sang bunda, dan saat dirinya tiba di bawah...

“cakra?”, gumamnya.

cakra yang tengah menunduk sambil bermain ponsel, mendongak melihat sosok hazel di depannya.

“lo ngapain anjg di rumah gue!?”, hazel berjalan mendekat ke arah cakra dan menatapnya dengan tajam.

“numpang makan”, cakra balik menatap netra hitam hazel dengan tatapan datar, seolah tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh hazel.

hazel yang mendengar jawaban cakra sempat ingin menonjok wajahnya, namun usahanya gagal karena sang bunda tiba-tiba turun dan menemui mereka berdua.

“kalian kenapa berdiri?, ayo duduk dulu, bunda bikinin minum”, titah sang bunda.

“maaf tante, niat saya kesini cuma mau ngajak hazel pergi”, cakra to the point dengan urusannya kali ini. dirinya ke rumah hazel karena ada niatan, bukan sekedar ingin bertamu.

hazel yang mendengarnya melongo, matanya melotot menatap cakra.

“kalian mau pergi kemana malem-malem gini?”, tanya bunda kepada hazel dan cakra.

“bun—”, baru saja hazel ingin menjawabnya, namun cakra sudah lebih dulu buka suara.

“ngajak makan ke cafe!”, sahut cakra.

hazel menatap cakra lalu mengerutkan keningnya. tak berselang lama cakra balik menatap dirinya dan tersenyum penuh arti, seolah dirinya harus meng-iyakan perkataan cakra.

“kalau gitu kalian pergi aja sekarang, nanti keburu malem”

mendengar persetujuan dari sang bunda, hazel rasanya ingin mencabik-cabik mulut cakra. bisa-bisanya dia berbohong kepada bundanya, dan bodohnya lagi kenapa bunda harus percaya kepada cakra.

lain hal nya cakra, dirinya tersenyum manis kepada bunda hazel, seolah sangat berterimakasih karena telah mengizinkannya untuk membawa hazel pergi dengannya malam ini.

“bunda...”, hazel merengek kepada sang bunda agar tidak jadi mengizinkannya pergi dengan cakra.

“sana ganti baju, kasian temen kamu udah nungguin”

namun nihil, usahanya merengek kepada sang bunda sia-sia, ia tetap harus pergi dengan cakra. cowok paling nyebelin yang pernah ia temui, lebih nyebelin dari yasa.

“buruan, waktu gue mepet”, cakra berbisik kepada hazel.

hazel berdecak kesal.

“kalau gitu bunda pergi dulu ke kamar, kalian hati-hati di jalan”

bunda pergi meninggalkan hazel sendiri di bawah bersama cakra seorang.

“buruan ganti”

“gak.”

“zel”

“najis, jangan manggil nama gue.”

“sok suci”

“daripada lo sok iya”

“waktu gue mepet”

“bukan urusan gue”

“belagu banget lo jadi cewek”

“daripada lo, jadi cowok sombong banget”

cakra menghela nafas pendek, ternyata tidak mudah untuk mengajak seorang hazel pergi keluar dengannya.

“sekali ini aja lo tolongin gue. gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo, apalagi minta lo buat jadi babu gue”, jelas cakra.

“pokoknya gue gak mau.”, hazel tetaplah hazel, ia menolak mentah-mentah ajakan cakra. dirinya berfikir bahwa cakra hanya berkata manis di awal dan akan berakhir pahit di belakang.

“gue bayar”

“gue bilang gak mau.”

cakra sudah hampir menyerah untuk mengajak hazel pergi, namun ia teringat dengan tujuannya. dirinya tidak boleh pergi sebelum bisa membawa hazel ikut dengannya.

tidak ada cara lain, kini hanya ada satu cara di benak cakra, yaitu, menarik paksa hazel keluar rumah.

tanpa berfikir dua kali, cakra menarik salah satu pergelangan tangan hazel keluar rumah hingga membuat sang empu berteriak supaya melepaskan tangannya.

“eh anjg lo mau bawa gue kemana!?”

“diem.”

sesampainya di luar rumah cakra melepaskan pergelangan tangan hazel. namun kini hazel malah memaki-maki dirinya.

“sakit anjg main tarik tangan orang”, protes hazel.

“harusnya tadi lo nurut, kalo iya gak bakal gue tarik-tarik tangan lo”

cakra menatap datar hazel, dirinya tidak lagi ingin berdebat dengannya.

“naik.”, cakra sudah memberi isyarat agar hazel segera ke atas jok motornya. namun sayang, hazel tetap diam di tempat dan tak menggubris dirinya.

kembali menghela nafas, cakra hanya bisa sabar kali ini menghadapi hazel. untung saja cuma satu malam ini.

cakra menghampiri hazel yang berada di belakangnya dan langsung memakaikan helm di kepalanya. hal ini juga yang membuat hazel menatap kaget dirinya.

“muka gue seganteng itu?”

suara dari cakra berhasil membuyarkan tatapan hazel.

“dih pede banget!”, hazel mencoba terlihat untuk tetap calm dihadapan cakra, walau kini jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

cakra terkekeh sekejap melihat ekspresi wajah panik hazel yang dirinya anggap lucu.

“lo ketawa?”

“buruan naik, waktu gue hampir habis”

“lo beneran ketawa?”

“zel.”

“jangan manggil nama gue!”

“terus?”

“panggil aja mbak, kan bisa”

“gue seumuran”

“intinya jangan manggil gue hazel, mau disini apa dimana aja”

“serah”

“lo mau ajak gue kemana, sih?”

“banyak bacot lo, buruan naik atau gue tinggal!?”

“tinggal aja gapapa”, hazel menjawab dengan melampirkan senyum manisnya.

terlalu lama bagi cakra menunggu hazel berkata iya. jika dirinya tidak segera bertindak, mungkin hazel tidak akan pernah naik ke atas jok motor nya.

cakra sudah berdiri di depan hazel. dengan sangat terpaksa, dirinya mendekat ke arah hazel. jarak antara mereka berdua hampir tidak memiliki celah. saat cakra ingin maju selangkah lagi...

stop. lo mau ngapain!?”

hazel berhasil menahannya.

“gendong, kenapa?”

kini hazel dibuat bungkam oleh cakra, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi. entah apa yang membuatnya bungkam kali ini. namun intinya hari ini ia tengah dibuat shock oleh seorang cakra.

“lo mau naik apa lanjut gue gendong?”

“hah?”...“eh iya ini mau naik”

akhirnya, setelah usaha yang cukup panjang bagi cakra untuk bisa mengajak hazel pergi dengannya.

...

– quersnda

hari yang cukup melelahkan bagi seorang hazel, mulai dari bangun pagi, bantuin masak bunda, sekolah dari pagi sampek sore, pulang, mandi, makan, belajar, lalu hal yang paling ia nantikan adalah tidur. setiap hari pun juga sama seperti ini, mungkin ini sudah menjadi roda kehidupan bagi hazel.

berjalan gontai dari meja belajar menuju kasur yang sangat ia rindukan. tanpa aba-aba lagi hazel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. merebahkan tubuhnya sambil melihat langit-langit kamarnya, mencoba untuk menenangkan sejenak pikiran dan melupakan semua masalah yang ia lewati hari ini.

saat hazel tengah memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat, ponsel di sampingnya bergetar, alhasil ia harus bangun dan melihat siapa yang menelfon nya malam-malam seperti ini.

*cakra is calling...

terkejut?, pasti. panggilan dari nama yang tertera di layar ponselnya itu membuat mood hazel menjadi buruk.

hazel tidak mengangkat panggilan tersebut, ia lebih memilih untuk mendiamkannya. mau berapa kali nomernya terus di panggil, ia tetap tidak akan menggubrisnya. beberapa menit setelahnya tidak ada getaran sama sekali dari ponselnya, mungkin laki-laki itu sudah tidak menelfon nya lagi, pikir hazel.

“hazel...”, panggil sang bunda dari balik pintu kamarnya.

mendengar itu hazel segera bergegas dari atas tempat tidur untuk segera membukakan pintu kamarnya.

cklek...

“kenapa bun?”, tanyanya kepada bunda.

“temen kamu nyariin dari tadi di bawah”

terdiam sejenak, hazel berfikir siapa teman yang datang ke rumahnya malem-malem seperti ini tanpa mengabari dirinya. apakah itu yasa?.

“turun dulu zel, kasian dia nunggu kamu dari tadi”, bunda menyuruhnya untuk segera turun, “zel, kamu kok gak pernah bilang sama bunda kalo punya temen cowok selain yasa”, imbuhnya.

“bun, temen aku cowok cuma yasa doang...”

mendengar itu bunda menaikkan kedua bahunya, seperti memberi isyarat bahwa dirinya juga tidak tahu.

hazel penasaran dengan laki-laki yang di maksud bundanya itu, akhirnya ia segera bergegas turun dari kamarnya menuju ruang tamu agar bisa melihat siapa orang yang di maksud sang bunda, dan saat dirinya tiba di bawah...

“cakra?”, gumamnya.

cakra yang tengah menunduk sambil bermain ponsel, mendongak melihat sosok hazel di depannya.

“lo ngapain anjg di rumah gue!?”, hazel berjalan mendekat ke arah cakra dan menatapnya dengan tajam.

“numpang makan”, cakra balik menatap netra hitam hazel dengan tatapan datar, seolah tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh hazel.

hazel yang mendengar jawaban cakra sempat ingin menonjok wajahnya, namun usahanya gagal karena sang bunda tiba-tiba turun dan menemui mereka berdua.

“kalian kenapa berdiri?, ayo duduk dulu, bunda bikinin minum”, titah sang bunda.

“maaf tante, niat saya kesini cuma mau ngajak hazel pergi”, cakra to the point dengan urusannya kali ini. dirinya ke rumah hazel karena ada niatan, bukan sekedar ingin bertamu.

hazel yang mendengarnya melongo, matanya melotot menatap cakra.

“kalian mau pergi kemana malem-malem gini?”, tanya bunda kepada hazel dan cakra.

“bun—”, baru saja hazel ingin menjawabnya, namun cakra sudah lebih dulu buka suara.

“ngajak makan ke cafe!”, sahut cakra.

hazel menatap cakra lalu mengerutkan keningnya. tak berselang lama cakra balik menatap dirinya dan tersenyum penuh arti, seolah dirinya harus meng-iyakan perkataan cakra.

“kalau gitu kalian pergi aja sekarang, nanti keburu malem”

mendengar persetujuan dari sang bunda, hazel rasanya ingin mencabik-cabik mulut cakra. bisa-bisanya dia berbohong kepada bundanya, dan bodohnya lagi kenapa bunda harus percaya kepada cakra.

lain hal nya cakra, dirinya tersenyum manis kepada bunda hazel, seolah sangat berterimakasih karena telah mengizinkannya untuk membawa hazel pergi dengannya malam ini.

“bunda...”, hazel merengek kepada sang bunda agar tidak jadi mengizinkannya pergi dengan cakra.

“sana ganti baju, kasian temen kamu udah nungguin”

namun nihil, usahanya merengek kepada sang bunda sia-sia, ia tetap harus pergi dengan cakra. cowok paling nyebelin yang pernah ia temui, lebih nyebelin dari yasa.

“buruan, waktu gue mepet”, cakra berbisik kepada hazel.

hazel berdecak kesal.

“kalau gitu bunda pergi dulu ke kamar, kalian hati-hati di jalan”

bunda pergi meninggalkan hazel sendiri di bawah bersama cakra seorang.

“buruan ganti”

“gak.”

“zel”

“najis, jangan manggil nama gue.”

“sok suci”

“daripada lo sok iya”

“waktu gue mepet”

“bukan urusan gue”

“belagu banget lo jadi cewek”

“daripada lo, jadi cowok sombong banget”

cakra menghela nafas pendek, ternyata tidak mudah untuk mengajak seorang hazel pergi keluar dengannya.

“sekali ini aja lo tolongin gue. gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo, apalagi minta lo buat jadi babu gue”, jelas cakra.

“pokoknya gue gak mau.”, hazel tetaplah hazel, ia menolak mentah-mentah ajakan cakra. dirinya berfikir bahwa cakra hanya berkata manis di awal dan akan berakhir pahit di belakang.

“gue bayar”

“gue bilang gak mau.”

cakra sudah hampir menyerah untuk mengajak hazel pergi, namun ia teringat dengan tujuannya. dirinya tidak boleh pergi sebelum bisa membawa hazel ikut dengannya.

tidak ada cara lain, kini hanya ada satu cara di benak cakra, yaitu, menarik paksa hazel keluar rumah.

tanpa berfikir dua kali, cakra menarik salah satu pergelangan tangan hazel keluar rumah hingga membuat sang empu berteriak supaya melepaskan tangannya.

“eh anjg lo mau bawa gue kemana!?”

“diem.”

sesampainya di luar rumah cakra melepaskan pergelangan tangan hazel. namun kini hazel malah memaki-maki dirinya.

“sakit anjg main tarik tangan orang”, protes hazel.

“harusnya tadi lo nurut, kalo iya gak bakal gue tarik-tarik tangan lo”

cakra menatap datar hazel, dirinya tidak lagi ingin berdebat dengannya.

“naik.”, cakra sudah memberi isyarat agar hazel segera ke atas jok motornya. namun sayang, hazel tetap diam di tempat dan tak menggubris dirinya.

kembali menghela nafas, cakra hanya bisa sabar kali ini menghadapi hazel. untung saja cuma satu malam ini.

cakra menghampiri hazel yang berada di belakangnya dan langsung memakaikan helm di kepalanya. hal ini juga yang membuat hazel menatap kaget dirinya.

“muka gue seganteng itu?”

suara dari cakra berhasil membuyarkan tatapan hazel.

“dih pede banget!”, hazel mencoba terlihat untuk tetap calm dihadapan cakra, walau kini jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

cakra terkekeh sekejap melihat ekspresi wajah panik hazel yang dirinya anggap lucu.

“lo ketawa?”

“buruan naik, waktu gue hampir habis”

“lo beneran ketawa?”

“zel.”

“jangan manggil nama gue!”

“terus?”

“panggil aja mbak, kan bisa”

“gue seumuran”

“intinya jangan manggil gue hazel, mau disini apa dimana aja”

“serah”

“lo mau ajak gue kemana, sih?”

“banyak bacot lo, buruan naik atau gue tinggal!?”

“tinggal aja gapapa”, hazel menjawab dengan melampirkan senyum manisnya.

terlalu lama bagi cakra menunggu hazel berkata iya. jika dirinya tidak segera bertindak, mungkin hazel tidak akan pernah naik ke atas jok motor nya.

cakra sudah berdiri di depan hazel. dengan sangat terpaksa, dirinya mendekat ke arah hazel. jarak antara mereka berdua hampir tidak memiliki celah. saat cakra ingin maju selangkah lagi...

stop. lo mau ngapain!?”

hazel berhasil menahannya.

“gendong, kenapa?”

kini hazel dibuat bungkam oleh cakra, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi. entah apa yang membuatnya bungkam kali ini. namun intinya hari ini ia tengah dibuat shock oleh seorang cakra.

“lo mau naik apa lanjut gue gendong?”

“hah?”...“eh iya ini mau naik”

akhirnya, setelah usaha yang cukup panjang bagi cakra untuk bisa mengajak hazel pergi dengannya.

...

– quersnda

hari yang cukup melelahkan bagi seorang hazel, mulai dari bangun pagi, bantuin masak bunda, sekolah dari pagi sampek sore, pulang, mandi, makan, belajar, lalu hal yang paling ia nantikan adalah tidur. setiap hari pun juga sama seperti ini, mungkin ini sudah menjadi roda kehidupan bagi hazel.

berjalan gontai dari meja belajar menuju kasur yang sangat ia rindukan. tanpa aba-aba lagi hazel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. merebahkan tubuhnya sambil melihat langit-langit kamarnya, mencoba untuk menenangkan sejenak pikiran dan melupakan semua masalah yang ia lewati hari ini.

saat hazel tengah memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat, ponsel di sampingnya bergetar, alhasil ia harus bangun dan melihat siapa yang menelfon nya malam-malam seperti ini.

cakra is calling...*

terkejut?, pasti. panggilan dari nama yang tertera di layar ponselnya itu membuat mood hazel menjadi buruk.

hazel tidak mengangkat panggilan tersebut, ia lebih memilih untuk mendiamkannya. mau berapa kali nomernya terus di panggil, ia tetap tidak akan menggubrisnya. beberapa menit setelahnya tidak ada getaran sama sekali dari ponselnya, mungkin laki-laki itu sudah tidak menelfon nya lagi, pikir hazel.

“hazel...”, panggil sang bunda dari balik pintu kamarnya.

mendengar itu hazel segera bergegas dari atas tempat tidur untuk segera membukakan pintu kamarnya.

cklek...

“kenapa bun?”, tanyanya kepada bunda.

“temen kamu nyariin dari tadi di bawah”

terdiam sejenak, hazel berfikir siapa teman yang datang ke rumahnya malem-malem seperti ini tanpa mengabari dirinya. apakah itu yasa?.

“turun dulu zel, kasian dia nunggu kamu dari tadi”, bunda menyuruhnya untuk segera turun, “zel, kamu kok gak pernah bilang sama bunda kalo punya temen cowok selain yasa”, imbuhnya.

“bun, temen aku cowok cuma yasa doang...”

mendengar itu bunda menaikkan kedua bahunya, seperti memberi isyarat bahwa dirinya juga tidak tahu.

hazel penasaran dengan laki-laki yang di maksud bundanya itu, akhirnya ia segera bergegas turun dari kamarnya menuju ruang tamu agar bisa melihat siapa orang yang di maksud sang bunda, dan saat dirinya tiba di bawah...

“cakra?”, gumamnya.

cakra yang tengah menunduk sambil bermain ponsel, mendongak melihat sosok hazel di depannya.

“lo ngapain anjg di rumah gue!?”, hazel berjalan mendekat ke arah cakra dan menatapnya dengan tajam.

“numpang makan”, cakra balik menatap netra hitam hazel dengan tatapan datar, seolah tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh hazel.

hazel yang mendengar jawaban cakra sempat ingin menonjok wajahnya, namun usahanya gagal karena sang bunda tiba-tiba turun dan menemui mereka berdua.

“kalian kenapa berdiri?, ayo duduk dulu, bunda bikinin minum”, titah sang bunda.

“maaf tante, niat saya kesini cuma mau ngajak hazel pergi”, cakra to the point dengan urusannya kali ini. dirinya ke rumah hazel karena ada niatan, bukan sekedar ingin bertamu.

hazel yang mendengarnya melongo, matanya melotot menatap cakra.

“kalian mau pergi kemana malem-malem gini?”, tanya bunda kepada hazel dan cakra.

“bun—”, baru saja hazel ingin menjawabnya, namun cakra sudah lebih dulu buka suara.

“ngajak makan ke cafe!”, sahut cakra.

hazel menatap cakra lalu mengerutkan keningnya. tak berselang lama cakra balik menatap dirinya dan tersenyum penuh arti, seolah dirinya harus meng-iyakan perkataan cakra.

“kalau gitu kalian pergi aja sekarang, nanti keburu malem”

mendengar persetujuan dari sang bunda, hazel rasanya ingin mencabik-cabik mulut cakra. bisa-bisanya dia berbohong kepada bundanya, dan bodohnya lagi kenapa bunda harus percaya kepada cakra.

lain hal nya cakra, dirinya tersenyum manis kepada bunda hazel, seolah sangat berterimakasih karena telah mengizinkannya untuk membawa hazel pergi dengannya malam ini.

“bunda...”, hazel merengek kepada sang bunda agar tidak jadi mengizinkannya pergi dengan cakra.

“sana ganti baju, kasian temen kamu udah nungguin”

namun nihil, usahanya merengek kepada sang bunda sia-sia, ia tetap harus pergi dengan cakra. cowok paling nyebelin yang pernah ia temui, lebih nyebelin dari yasa.

“buruan, waktu gue mepet”, cakra berbisik kepada hazel.

hazel berdecak kesal.

“kalau gitu bunda pergi dulu ke kamar, kalian hati-hati di jalan”

bunda pergi meninggalkan hazel sendiri di bawah bersama cakra seorang.

“buruan ganti”

“gak.”

“zel”

“najis, jangan manggil nama gue.”

“sok suci”

“daripada lo sok iya”

“waktu gue mepet”

“bukan urusan gue”

“belagu banget lo jadi cewek”

“daripada lo, jadi cowok sombong banget”

cakra menghela nafas pendek, ternyata tidak mudah untuk mengajak seorang hazel pergi keluar dengannya.

“sekali ini aja lo tolongin gue. gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo, apalagi minta lo buat jadi babu gue”, jelas cakra.

“pokoknya gue gak mau.”, hazel tetaplah hazel, ia menolak mentah-mentah ajakan cakra. dirinya berfikir bahwa cakra hanya berkata manis di awal dan akan berakhir pahit di belakang.

“gue bayar”

“gue bilang gak mau.”

cakra sudah hampir menyerah untuk mengajak hazel pergi, namun ia teringat dengan tujuannya. dirinya tidak boleh pergi sebelum bisa membawa hazel ikut dengannya.

tidak ada cara lain, kini hanya ada satu cara di benak cakra, yaitu, menarik paksa hazel keluar rumah.

tanpa berfikir dua kali, cakra menarik salah satu pergelangan tangan hazel keluar rumah hingga membuat sang empu berteriak supaya melepaskan tangannya.

“eh anjg lo mau bawa gue kemana!?”

“diem.”

sesampainya di luar rumah cakra melepaskan pergelangan tangan hazel. namun kini hazel malah memaki-maki dirinya.

“sakit anjg main tarik tangan orang”, protes hazel.

“harusnya tadi lo nurut, kalo iya gak bakal gue tarik-tarik tangan lo”

cakra menatap datar hazel, dirinya tidak lagi ingin berdebat dengannya.

“naik.”, cakra sudah memberi isyarat agar hazel segera ke atas jok motornya. namun sayang, hazel tetap diam di tempat dan tak menggubris dirinya.

kembali menghela nafas, cakra hanya bisa sabar kali ini menghadapi hazel. untung saja cuma satu malam ini.

cakra menghampiri hazel yang berada di belakangnya dan langsung memakaikan helm di kepalanya. hal ini juga yang membuat hazel menatap kaget dirinya.

“muka gue seganteng itu?”

suara dari cakra berhasil membuyarkan tatapan hazel.

“dih pede banget!”, hazel mencoba terlihat untuk tetap calm dihadapan cakra, walau kini jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

cakra terkekeh sekejap melihat ekspresi wajah panik hazel yang dirinya anggap lucu.

“lo ketawa?”

“buruan naik, waktu gue hampir habis”

“lo beneran ketawa?”

“zel.”

“jangan manggil nama gue!”

“terus?”

“panggil aja mbak, kan bisa”

“gue seumuran”

“intinya jangan manggil gue hazel, mau disini apa dimana aja”

“serah”

“lo mau ajak gue kemana, sih?”

“banyak bacot lo, buruan naik atau gue tinggal!?”

“tinggal aja gapapa”, hazel menjawab dengan melampirkan senyum manisnya.

terlalu lama bagi cakra menunggu hazel berkata iya. jika dirinya tidak segera bertindak, mungkin hazel tidak akan pernah naik ke atas jok motor nya.

cakra sudah berdiri di depan hazel. dengan sangat terpaksa, dirinya mendekat ke arah hazel. jarak antara mereka berdua hampir tidak memiliki celah. saat cakra ingin maju selangkah lagi...

stop. lo mau ngapain!?”

hazel berhasil menahannya.

“gendong, kenapa?”

kini hazel dibuat bungkam oleh cakra, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi. entah apa yang membuatnya bungkam kali ini. namun intinya hari ini ia tengah dibuat shock oleh seorang cakra.

“lo mau naik apa lanjut gue gendong?”

“hah?”...“eh iya ini mau naik”

akhirnya, setelah usaha yang cukup panjang bagi cakra untuk bisa mengajak hazel pergi dengannya.

...

– quersnda

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak bersahabat, terlebih lagi di sma neo yang kini tengah diguyur hujan lebat.

semakin berjalannya waktu, siswa & siswi di sma neo mulai meninggalkan sekolah, hanya menyisakan beberapa murid yang kini tengah meneduh, tak terkecuali hazel. dirinya menunggu hujan reda agar bisa berjalan pulang. bukannya menunjukkan tanda-tanda hujan akan berhenti, malah kini hujan semakin bertambah deras, dugaan hazel salah besar. saat hazel tengah berdiri sambil menatapi langit, tiba-tiba saja kilat menyambar hingga membuat dirinya terkejut setengah mati.

“ngapain disini?”, kejut cakra.

hampir saja hazel dibuat jantungan karena suara petir, kini dirinya malah dikejutkan dengan kedatangan seorang yang tak ia harapkan keberadaannya.

“harusnya gue yang nanya, ngapain lo disini?!”

bukannya menjawab pertanyaan cakra, hazel malah bertanya balik kepada cakra.

“gue anterin pulang”, ajak cakra.

tawaran dari seorang cakra kepada hazel berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata.

“niat gue baik”, imbuhnya.

“gak perlu”, tolak hazel.

“lo mau disini sampek beku?”

sejujurnya yang dikatakan oleh cakra ada benarnya juga. namun hazel tetaplah hazel, seorang gadis keras kepala. hazel tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap menolak ajakan cakra.

“tinggal jawab iya apa susahnya?”

cakra sudah bersiap ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapan hazel. beberapa langkah ia ambil dan...

“gue mau”

ajakannya diterima oleh hazel. cakra tersenyum sarkas dari balik tubuhnya.


“makasih.”, hazel turun dari jok motor cakra dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada cakra, karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat.

“makasih doang?”...“di dunia ini gak ada yang gratis”, imbuh cakra.

hazel sudah menebak dari awal, seorang cakra tidak mungkin mempunyai niat baik terhadap dirinya, pasti di balik niat baik itu terdapat lubang yang bisa cakra gunakan untuk menariknya masuk ke dalam.

“terus?”, tanya hazel.

“kontrak gue sam—”

“stop!”

belum sempat cakra melanjutkan kalimatnya, hazel sudah memotongnya lebih dulu, hal itu pula yang membuat seorang cakra geram terhadap hazel.

“sopan santun lo dimana pas orang ngomong?”, cakra turun dari motornya dan berdiri tepat di depan hazel.

tidak peduli dengan posisi cakra yang kini tengah berdiri di depannya, hazel menatap netra hitam cakra dengan tajam, “gue tau lo mau bicara soal taruhan tadi malem, tapi sorry, gue sekarang udah berubah pikiran. gue gak bakal mau lo jadiin babu buat setahun, mau lo bayar gue semahal apapun gue gak akan nerima tawaran lo”...“dan satu lagi, bukannya lo tadi pagi marah-marah gak jelas sama gue ya?, kenapa tiba-tiba sekarang jadi baik sama gue?”, timpal hazel.

selesai berbicara panjang lebar, hazel pergi begitu saja meninggalkan cakra seorang di depan gerbang rumahnya.

cakra menatapi punggung hazel yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. setelah hazel benar-benar hilang dari hadapannya, ia memilih untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman hazel dengan perasaan campur aduk, antara marah dan bingung.

read more...

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak bersahabat, terlebih lagi di sma neo yang kini tengah diguyur hujan lebat.

semakin berjalannya waktu, siswa & siswi di sma neo mulai meninggalkan sekolah, hanya menyisakan beberapa murid yang kini tengah meneduh, tak terkecuali hazel. dirinya menunggu hujan reda agar bisa berjalan pulang. bukannya menunjukkan tanda-tanda hujan akan berhenti, malah kini hujan semakin bertambah deras, dugaan hazel salah besar. saat hazel tengah berdiri sambil menatapi langit, tiba-tiba saja kilat menyambar hingga membuat dirinya terkejut setengah mati.

“ngapain disini?”, kejut cakra.

hampir saja hazel dibuat jantungan karena suara petir, kini dirinya malah dikejutkan dengan kedatangan seorang yang tak ia harapkan keberadaannya.

“harusnya gue yang nanya, ngapain lo disini?!”

bukannya menjawab pertanyaan cakra, hazel malah bertanya balik kepada cakra.

“gue anterin pulang”, ajak cakra.

tawaran dari seorang cakra kepada hazel berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata.

“niat gue baik”, imbuhnya.

“gak perlu”, tolak hazel.

“lo mau disini sampek beku?”

sejujurnya yang dikatakan oleh cakra ada benarnya juga. namun hazel tetaplah hazel, seorang gadis keras kepala. hazel tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap menolak ajakan cakra.

“tinggal jawab iya apa susahnya?”

cakra sudah bersiap ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapan hazel. beberapa langkah ia ambil dan...

“gue mau”

ajakannya diterima oleh hazel. cakra tersenyum sarkas dari balik tubuhnya.


“makasih.”, hazel turun dari jok motor cakra dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada cakra, karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat.

“makasih doang?”...“di dunia ini gak ada yang gratis”, imbuh cakra.

hazel sudah menebak dari awal, seorang cakra tidak mungkin mempunyai niat baik terhadap dirinya, pasti di balik niat baik itu terdapat lubang yang bisa cakra gunakan untuk menariknya masuk ke dalam.

“terus?”, tanya hazel.

“kontrak gue sam—”

“stop!”

belum sempat cakra melanjutkan kalimatnya, hazel sudah memotongnya lebih dulu, hal itu pula yang membuat seorang cakra geram terhadap hazel.

“sopan santun lo dimana pas orang ngomong?”, cakra turun dari motornya dan berdiri tepat di depan hazel.

tidak peduli dengan posisi cakra yang kini tengah berdiri di depannya, hazel menatap netra hitam cakra dengan tajam, “gue tau lo mau bicara soal taruhan tadi malem, tapi sorry, gue sekarang udah berubah pikiran. gue gak bakal mau lo jadiin babu buat setahun, mau lo bayar gue semahal apapun gue gak akan nerima tawaran lo”...“dan satu lagi, bukannya lo tadi pagi marah-marah gak jelas sama gue ya?, kenapa tiba-tiba sekarang jadi baik sama gue?”, timpal hazel.

selesai berbicara panjang lebar, hazel pergi begitu saja meninggalkan cakra seorang di depan gerbang rumahnya.

cakra menatapi punggung hazel yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. setelah hazel benar-benar hilang dari hadapannya, ia memilih untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman hazel dengan perasaan campur aduk, antara marah dan bingung.

Read more...

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak bersahabat, terlebih lagi di sma neo yang kini tengah diguyur hujan lebat.

semakin berjalannya waktu, siswa & siswi di sma neo mulai meninggalkan sekolah, hanya menyisakan beberapa murid yang kini tengah meneduh, tak terkecuali hazel. dirinya menunggu hujan reda agar bisa berjalan pulang. bukannya menunjukkan tanda-tanda hujan akan berhenti, malah kini hujan semakin bertambah deras, dugaan hazel salah besar. saat hazel tengah berdiri sambil menatapi langit, tiba-tiba saja kilat menyambar hingga membuat dirinya terkejut setengah mati.

“ngapain disini?”, kejut cakra.

hampir saja hazel dibuat jantungan karena suara petir, kini dirinya malah dikejutkan dengan kedatangan seorang yang tak ia harapkan keberadaannya.

“harusnya gue yang nanya, ngapain lo disini?!”

bukannya menjawab pertanyaan cakra, hazel malah bertanya balik kepada cakra.

“gue anterin pulang”, ajak cakra.

tawaran dari seorang cakra kepada hazel berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata.

“niat gue baik”, imbuhnya.

“gak perlu”, tolak hazel.

“lo mau disini sampek beku?”

sejujurnya yang dikatakan oleh cakra ada benarnya juga. namun hazel tetaplah hazel, seorang gadis keras kepala. hazel tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap menolak ajakan cakra.

“tinggal jawab iya apa susahnya?”

cakra sudah bersiap ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapan hazel. beberapa langkah ia ambil dan...

“gue mau”

ajakannya diterima oleh hazel. cakra tersenyum sarkas dari balik tubuhnya.


“makasih.”, hazel turun dari jok motor cakra dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada cakra, karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat.

“makasih doang?”...“di dunia ini gak ada yang gratis”, imbuh cakra.

hazel sudah menebak dari awal, seorang cakra tidak mungkin mempunyai niat baik terhadap dirinya, pasti di balik niat baik itu terdapat lubang yang bisa cakra gunakan untuk menariknya masuk ke dalam.

“terus?”, tanya hazel.

“kontrak gue sam—”

“stop!”

belum sempat cakra melanjutkan kalimatnya, hazel sudah memotongnya lebih dulu, hal itu pula yang membuat seorang cakra geram terhadap hazel.

“sopan santun lo dimana pas orang ngomong?”, cakra turun dari motornya dan berdiri tepat di depan hazel.

tidak peduli dengan posisi cakra yang kini tengah berdiri di depannya, hazel menatap netra hitam cakra dengan tajam, “gue tau lo mau bicara soal taruhan tadi malem, tapi sorry, gue sekarang udah berubah pikiran. gue gak bakal mau lo jadiin babu buat setahun, mau lo bayar gue semahal apapun gue gak akan nerima tawaran lo”...“dan satu lagi, bukannya lo tadi pagi marah-marah gak jelas sama gue ya?, kenapa tiba-tiba sekarang jadi baik sama gue?”, timpal hazel.

selesai berbicara panjang lebar, hazel pergi begitu saja meninggalkan cakra seorang di depan gerbang rumahnya.

cakra menatapi punggung hazel yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. setelah hazel benar-benar hilang dari hadapannya, ia memilih untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman hazel dengan perasaan campur aduk, antara marah dan bingung.

Read more...

cuaca di kota jakarta kini tengah tidak bersahabat, terlebih lagi di sma neo yang kini tengah diguyur hujan lebat.

semakin berjalannya waktu, siswa & siswi di sma neo mulai meninggalkan sekolah, hanya menyisakan beberapa murid yang kini tengah meneduh, tak terkecuali hazel. dirinya menunggu hujan reda agar bisa berjalan pulang. bukannya menunjukkan tanda-tanda hujan akan berhenti, malah kini hujan semakin bertambah deras, dugaan hazel salah besar. saat hazel tengah berdiri sambil menatapi langit, tiba-tiba saja kilat menyambar hingga membuat dirinya terkejut setengah mati.

“ngapain disini?”, kejut cakra.

hampir saja hazel dibuat jantungan karena suara petir, kini dirinya malah dikejutkan dengan kedatangan seorang yang tak ia harapkan keberadaannya.

“harusnya gue yang nanya, ngapain lo disini?!”

bukannya menjawab pertanyaan cakra, hazel malah bertanya balik kepada cakra.

“gue anterin pulang”, ajak cakra.

tawaran dari seorang cakra kepada hazel berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata.

“niat gue baik”, imbuhnya.

“gak perlu”, tolak hazel.

“lo mau disini sampek beku?”

sejujurnya yang dikatakan oleh cakra ada benarnya juga. namun hazel tetaplah hazel, seorang gadis keras kepala. hazel tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap menolak ajakan cakra.

“tinggal jawab iya apa susahnya?”

cakra sudah bersiap ingin melangkahkan kakinya pergi dari hadapan hazel. beberapa langkah ia ambil dan...

“gue mau”

ajakannya diterima oleh hazel. cakra tersenyum sarkas dari balik tubuhnya.


“makasih.”, hazel turun dari jok motor cakra dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada cakra, karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat.

“makasih doang?”...“di dunia ini gak ada yang gratis”, imbuh cakra.

hazel sudah menebak dari awal, seorang cakra tidak mungkin mempunyai niat baik terhadap dirinya, pasti di balik niat baik itu terdapat lubang yang bisa cakra gunakan untuk menariknya masuk ke dalam.

“terus?”, tanya hazel.

“kontrak gue sam—”

“stop!”

belum sempat cakra melanjutkan kalimatnya, hazel sudah memotongnya lebih dulu, hal itu pula yang membuat seorang cakra geram terhadap hazel.

“sopan santun lo dimana pas orang ngomong?”, cakra turun dari motornya dan berdiri tepat di depan hazel.

tidak peduli dengan posisi cakra yang kini tengah berdiri di depannya, hazel menatap netra hitam cakra dengan tajam, “gue tau lo mau bicara soal taruhan tadi malem, tapi sorry, gue sekarang udah berubah pikiran. gue gak bakal mau lo jadiin babu buat setahun, mau lo bayar gue semahal apapun gue gak akan nerima tawaran lo”...“dan satu lagi, bukannya lo tadi pagi marah-marah gak jelas sama gue ya?, kenapa tiba-tiba sekarang jadi baik sama gue?”, timpal hazel.

selesai berbicara panjang lebar, hazel pergi begitu saja meninggalkan cakra seorang di depan gerbang rumahnya.

cakra menatapi punggung hazel yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. setelah hazel benar-benar hilang dari hadapannya, ia memilih untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman hazel dengan perasaan campur aduk, antara marah dan bingung.