quersnda

ulangan harian kini tengah berlangsung di seluruh kelas sma neo, tak terkecuali kelas yang di tempati oleh hazel.

ips bukan mata pelajaran yang mudah bagi seorang hazel, karena sejak duduk di bangku sekolah dasar ia sebenarnya sudah tertarik dengan pengetahuan alam, namun seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih untuk fokus menekuni pelajaran di bidang sosial. tidak semua mata pelajaran harus kita kuasai, cukup ambil beberapa mata pelajaran yang kita anggap mudah dan sanggup untuk kita kuasai, meski begitu kita tetap harus belajar di semua bidang mata pelajaran. anggap saja salah satu dari mata pelajaran itu adalah sumber dari masa depan kita.

jam ujian pertama sudah dimulai. hazel tidak terlalu menyukai sejarah, namun ia bisa sedikit sedikit mengenai sejarah karena kuncinya ada di belajar. jika ia belajar dengan giat, mungkin semua mata pelajaran akan sangat mudah di benaknya.

guru membagikan dua lembar kertas yang berisi soal-soal ujian sejarah. hazel mengambil kertas yang diulurkan oleh guru.

beberapa menit telah berlalu, hazel fokus kepada kertas ujian yang berada di atas mejanya. tanpa ia sadari ada sebuah gulungan kertas yang sudah berada di bawah kakinya, alhasil hazel terpaksa menunduk dan mengambilnya. saat ia membuka gulungan kertas tersebut, tulisan yang paling pertama hazel baca adalah, “gue lupa belajar tadi malem, kasih contekan dong –yasa”, hazel menengok ke belakang lebih tepatnya ke arah meja milik yasa. yasa yang menyadari bahwa hazel tengah menengok ke arahnya langsung memberi kode kepada hazel untuk memberinya contekan dengan memperlihatkan kertas ujiannya kepada dirinya.

hazel menggeleng ke arah yasa.

“sebentar, saya mau ke toilet. kalian jangan buat kelas ini rusuh saat saya tengah tidak berada di kelas”, ucap guru penjaga.

sesaat setelah guru penjaga pergi dari kelas, tidak sedikit siswa & siswi yang berhamburan dari bangkunya masing-masing untuk segera mencari contekan dari murid-murid lain, begitu juga yasa. ia segera menghampiri meja hazel dan segera duduk di sampingnya. hazel merasa risih karena yasa duduk terlalu dekat dengan dirinya.

“minggir!”, hazel mendorong lengan bagian kiri yasa agar dirinya sedikit bergeser ke arah kanan dan tidak mendesak-desak tempatnya.

“zel buruan gue tanya”

“yeuu, makanya belajar.”

“emang lo tadi malem belajar?”

“belajar lah, ya kali gak!”

yasa mencibir temannya itu dengan umpatan-umpatan ringan yang masih bisa di dengar jelas oleh hazel. hazel yang mendengarnya lebih memilih untuk tidak menganggapnya serius, mungkin ini hanya candaan semata yang dibuat oleh yasa kepada dirinya.

saat suasana kelas tengah kondusif, tiba-tiba handphone milih hazel yang berada di bawah meja bergetar, alhasil hazel dengan cekatan segera mengecek pesan yang masuk di ponselnya itu. saat ia membuka layar ponselnya, nama yang pertama kali ia baca adalah pesan milik cakra.

setelah membaca dan membalas beberapa pesan dari cakra, hazel menghela nafas malas.

cowok aneh.”, batin hazel.

...

– quersnda

ulangan harian kini tengah berlangsung di seluruh kelas sma neo, tak terkecuali kelas yang di tempati oleh hazel.

ips bukan mata pelajaran yang mudah bagi seorang hazel, karena sejak duduk di bangku sekolah dasar ia sebenarnya sudah tertarik dengan pengetahuan alam, namun seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih untuk fokus menekuni pelajaran di bidang sosial. tidak semua mata pelajaran harus kita kuasai, cukup ambil beberapa mata pelajaran yang kita anggap mudah dan sanggup untuk kita kuasai, meski begitu kita tetap harus belajar di semua bidang mata pelajaran. anggap saja salah satu dari mata pelajaran itu adalah sumber dari masa depan kita.

jam ujian pertama sudah dimulai. hazel tidak terlalu menyukai sejarah, namun ia bisa sedikit sedikit mengenai sejarah karena kuncinya ada di belajar. jika ia belajar dengan giat, mungkin semua mata pelajaran akan sangat mudah di benaknya.

guru membagikan dua lembar kertas yang berisi soal-soal ujian sejarah. hazel mengambil kertas yang diulurkan oleh guru.

beberapa menit telah berlalu, hazel fokus kepada kertas ujian yang berada di atas mejanya. tanpa ia sadari ada sebuah gulungan kertas yang sudah berada di bawah kakinya, alhasil hazel terpaksa menunduk dan mengambilnya. saat ia membuka gulungan kertas tersebut, tulisan yang paling pertama hazel baca adalah, “gue lupa belajar tadi malem, kasih contekan dong –yasa”, hazel menengok ke belakang lebih tepatnya ke arah meja milik yasa. yasa yang menyadari bahwa hazel tengah menengok ke arahnya langsung memberi kode kepada hazel untuk memberinya contekan dengan memperlihatkan kertas ujiannya kepada dirinya.

hazel menggeleng ke arah yasa.

“sebentar, saya mau ke toilet. kalian jangan buat kelas ini rusuh saat saya tengah tidak berada di kelas”, ucap guru penjaga.

sesaat setelah guru penjaga pergi dari kelas, tidak sedikit siswa & siswi yang berhamburan dari bangkunya masing-masing untuk segera mencari contekan dari murid-murid lain, begitu juga yasa. ia segera menghampiri meja hazel dan segera duduk di sampingnya. hazel merasa risih karena yasa duduk terlalu dekat dengan dirinya.

“minggir!”, hazel mendorong lengan bagian kiri yasa agar dirinya sedikit bergeser ke arah kanan dan tidak mendesak-desak tempatnya.

“zel buruan gue tanya”

“yeuu, makanya belajar.”

“emang lo tadi malem belajar?”

“belajar lah, ya kali gak!”

yasa mencibir temannya itu dengan umpatan-umpatan ringan yang masih bisa di dengar jelas oleh hazel. hazel yang mendengarnya lebih memilih untuk tidak menganggapnya serius, mungkin ini hanya candaan semata yang dibuat oleh yasa kepada dirinya.

saat suasana kelas tengah kondusif, tiba-tiba handphone milih hazel yang berada di bawah meja bergetar, alhasil hazel dengan cekatan segera mengecek pesan yang masuk di ponselnya itu. saat ia membuka layar ponselnya, nama yang pertama kali ia baca adalah pesan milik cakra.

setelah membaca dan membalas beberapa pesan dari cakra, hazel menghela nafas malas.

“cowok aneh.”, batin hazel.

...

– quersnda

ulangan harian kini tengah berlangsung di seluruh kelas sma neo, tak terkecuali kelas yang di tempati oleh hazel.

ips bukan mata pelajaran yang mudah bagi seorang hazel, karena sejak duduk di bangku sekolah dasar ia sebenarnya sudah tertarik dengan pengetahuan alam, namun seiring berjalannya waktu, ia lebih memilih untuk fokus menekuni pelajaran di bidang sosial. tidak semua mata pelajaran harus kita kuasai, cukup ambil beberapa mata pelajaran yang kita anggap mudah dan sanggup untuk kita kuasai, meski begitu kita tetap harus belajar di semua bidang mata pelajaran. anggap saja salah satu dari mata pelajaran itu adalah sumber dari masa depan kita.

jam ujian pertama sudah dimulai. hazel tidak terlalu menyukai sejarah, namun ia bisa sedikit sedikit mengenai sejarah karena kuncinya ada di belajar. jika ia belajar dengan giat, mungkin semua mata pelajaran akan sangat mudah di benaknya.

guru membagikan dua lembar kertas yang berisi soal-soal ujian sejarah. hazel mengambil kertas yang diulurkan oleh guru.

beberapa menit telah berlalu, hazel fokus kepada kertas ujian yang berada di atas mejanya. tanpa ia sadari ada sebuah gulungan kertas yang sudah berada di bawah kakinya, alhasil hazel terpaksa menunduk dan mengambilnya. saat ia membuka gulungan kertas tersebut, tulisan yang paling pertama hazel baca adalah, “gue lupa belajar tadi malem, kasih contekan dong –yasa”, hazel menengok ke belakang lebih tepatnya ke arah meja milik yasa. yasa yang menyadari bahwa hazel tengah menengok ke arahnya langsung memberi kode kepada hazel untuk memberinya contekan dengan memperlihatkan kertas ujiannya kepada dirinya.

hazel menggeleng ke arah yasa.

“sebentar, saya mau ke toilet. kalian jangan buat kelas ini rusuh saat saya tengah tidak berada di kelas”, ucap guru penjaga.

sesaat setelah guru penjaga pergi dari kelas, tidak sedikit siswa & siswi yang berhamburan dari bangkunya masing-masing untuk segera mencari contekan dari murid-murid lain, begitu juga yasa. ia segera menghampiri meja hazel dan segera duduk di sampingnya. hazel merasa risih karena yasa duduk terlalu dekat dengan dirinya.

“minggir!”, hazel mendorong lengan bagian kiri yasa agar dirinya sedikit bergeser ke arah kanan dan tidak mendesak-desak tempatnya.

“zel buruan gue tanya”

“yeuu, makanya belajar.”

“emang lo tadi malem belajar?”

“belajar lah, ya kali gak!”

yasa mencibir temannya itu dengan umpatan-umpatan ringan yang masih bisa di dengar jelas oleh hazel. hazel yang mendengarnya lebih memilih untuk tidak menganggapnya serius, mungkin ini hanya candaan semata yang dibuat oleh yasa kepada dirinya.

saat suasana kelas tengah kondusif, tiba-tiba handphone milih hazel yang berada di bawah meja bergetar, alhasil hazel dengan cekatan segera mengecek pesan yang masuk di ponselnya itu. saat ia membuka layar ponselnya, nama yang pertama kali ia baca adalah pesan milik cakra.

setelah membaca dan membalas beberapa pesan dari cakra, hazel menghela nafas malas.

“cowok aneh.”, batin hazel.

...

– quersnda

“darimana?”, cakra bertanya kepada hazel yang akhirnya kembali ke hadapannya, setelah beberapa menit yang lalu ia pergi meninggalkannya sendiri.

tanpa menjawab hazel langsung menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi obat-obatan kepada cakra.

cakra mengambil kantong plastik yang diberikan oleh hazel kepadanya. ia membuka dan melihat apa isi di dalamnya, cakra melihat ada beberapa obat-obatan seperti salep dan anti septik.

“makasih”, ucap cakra.

bukannya menjawab ucapan terimakasih dari cakra, hazel malah menunduk dan segera melangkahkan kakinya pergi. namun sebelum dirinya pergi, tangan kekar cakra segera menahannya untuk tidak pergi.

“duduk”, cakra menahan tangan hazel dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

hazel menggeleng, dirinya tidak ingin duduk di samping cakra untuk saat ini.

“gue tau lo habis nangis”

hazel terkejut mendengar pernyataan dari cakra.

“sini duduk, gue gak keberatan kalo lo mau nangis di depan gue”, cakra menepuk kursi kosong di sebelahnya, memberi isyarat agar hazel segera duduk disampingnya.

“gue gak nangis, jangan sok tau.”, sewot hazel.

kebenaran saat ini adalah, memang benar hazel baru saja menangis saat perjalanan menuju ke apotek, namun bukannya jujur kepada cakra ia malah mengelak dengan menunduk dan menutupi mata sembap nya. tapi disisi lain, ada sesuatu yang membuat hazel curiga. bagaimana cakra tau kalo dia habis nangis?, apakah cakra mengikutinya dari tadi?, pikirnya.

“jangan nunduk”

“nggak.”

“lo yakin mau terus berdiri sambil nunduk sampek leher lo cengeng?”

oke fine, kini hazel harus segera duduk. kakinya mulai terasa pegal, begitu juga dengan telinganya yang sudah panas mendengar celotehan dari cakra.

“dari tadi kek”, cakra melepaskan genggamannya dari tangan hazel dan membiarkan hazel duduk di sampingnya. namun bukannya melihat ke arahnya, hazel tetap menunduk ke arah bawah.

“yang tadinya cuma main-main, sekarang malah dimainin”...“dari kepercayaan, jadi penghianatan”, ujar cakra sembari melihat ke arah hazel.

hazel yang mendengarnya pun langsung mendongak, dan menatap intens wajah cakra.

“maksut lo?”, hazel bertanya kepada cakra, apa maksut dari perkataannya barusan.

“jelek banget muka lo kalo habis nangis”, cakra terkekeh setelah melihat wajah hazel yang memang benar adanya, kalau ia baru saja menangis dan matanya terlihat sembab.

“lo tuh!”, hazel geram sendiri dengan cakra, ingin rasanya hazel menoyor kepala cakra sekarang juga.

“muka lo merah semua”

“diam. jelasin apa maksut perkataan lo tadi!?”

“obati dulu muka gue”, cakra malah meminta hazel untuk mengobati lebam di wajahnya daripada menjawab pertanyaan darinya.

“jawab gue.”

“obati dulu, jawabnya bisa ntar”

“cakra.”

“buruan, muka gue bonyok semua”

dengan sangat terpaksa akhirnya hazel memutuskan untuk membantu cakra mengobati luka lebam di wajahnya. ia mengambil kantong plastik yang berisi obat-obatan di sampingnya dan segera mengoleskan salep ke wajah cakra yang terdapat luka dan lebam.

saat hazel tengah meniup luka di wajah cakra, matanya tanpa sengaja saling menatap antara satu sama lain, hingga membuat hazel menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap netra hitam cakra. sama halnya dengan cakra, ia juga menatap lekat netra hitam hazel. satu hembusan angin yang lewat diantara mereka membuat tatapan itu buyar seketika, dan membuat mereka berdua saling membelakangi antara satu sama lain.

“ud-udah gue obati”

kejadian barusan mengantarkan mereka berdua pada kecanggungan sesaat.

“gue dulu cuma main-main sama perasaan cewek, dan dalam sekejap gue bisa naroh perasaan yang sesungguhnya sama cila. tapi semua itu dibuang begitu aja, tanpa mikirin perasaan yang masih gue jaga buat dia... ternyata, sekarang malah dia yang mainin perasaan gue.“, gak ada angin gak ada hujan, cakra menjelaskan sedikit perihal perasaannya kepada cila dihadapan hazel.

“awalnya gue kenal cila karena keluarga dari kecil. kita dulu sering banget berantem cuma gara-gara masalah sepele. papa cila pergi ke luar negeri sejak dia masih kecil, dan sejak itu juga bokap gue udah anggep cila sebagai anaknya sendiri. bokap gue lebih sering merhatiin cila daripada anaknya sendiri, tapi seiring berjalannya waktu, cila udah mulai gak perduli sama bokap gue. disaat-saat itu gue udah mulai bisa ngerasain kasih sayang orang tua yang sesungguhnya.”, kini giliran hazel yang menceritakan sedikit demi sedikit mengenai cila dan dirinya.

“lo keberatan gak kalo seandainya bokap lo balik kayak dulu lagi, lebih sayang cila daripada anaknya sendiri?”

“gue gak keberatan.”

“gue gak terlalu tau latar belakang cila lebih dalam kayak lo. tapi gue sempet lihat dia bareng bokap sama nyokap nya di rumah, dinner bareng, ketawa-ketawa bareng, nonton bareng, selayaknya keluarga biasa”

“bentar, ini maksut lo keluarga cila lengkap gitu?”, hazel tidak tahu harus kaget atau bingung kali ini. bagaimana bisa cakra mengatakan keluarga cila masih lengkap dan seperti keluarga biasanya. setahu hazel, keluarga cila yang berada di indonesia hanya dirinya dan mama nya. sudah lama hazel tidak mendengar kabar perihal kedatangan atau keadaan papa cila.

sekejap cakra mengangkat kedua bahunya.

melihatnya, hazel menghela nafas berat.

“ternyata gue salah nge nilai cila dari hatinya”

“lo gak salah nge nilai cila. cila dulu emang sebaik itu”

“baik?, gue rasa nggak. dia gak cuma nge bohongin satu perasaan, tapi lebih dari ini.”

setelah mendengar penjelasan dari mulut cakra, hazel mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cakra. ia benar-benar menaruh hati kepada sang sahabat, cila. namun apa yang cila lakukan kepada cakra, dirinya malah tega menduakan perasaan yang telah ia jaga mati-matian demi dirinya.

“gue tau lo se sayang apa sama cila, walau itu cuma pertemuan sesaat”

“lo cuma bisa nebak keadaan gue dari luar, bukan dari hati”

hazel cengo sendiri mendengar ucapan cakra. situasi macam apa ini?, kenapa semakin waktu berjalan, semakin dalam juga keduanya mengkulik masalah pribadi masing-masing.

“ternyata gak selamanya orang yang kita percayai, bisa tulus ngejaga kepercayaan ini”

“gak seharusnya lo mudah percaya sama tiap orang”

“maksut lo?”

cakra yang ditodong pertanyaan itu seketika bungkam.

“cak?”

“bantu gue buat lupain kejadian hari ini”

“gue nggak bisa”

“taruhan itu—”

please stop talking about this problem. gue minta tolong sekali lagi sama lo, gue mau lo selesain taruhan ini sampek disini”

“gue nggak bisa.”

...

– quersnda

cakra kini tengah melamun sambil memainkan pulpen ditangannya. saat ia tengah melamun, tiba-tiba ponsel di depannya berbunyi, alhasil suara itu membuat lamunannya buyar.

cakra membuka pesan dari hazel yang tertera di layar ponselnya. ia tidak tahu link apa yang di kirimkan oleh hazel, namun saat ia buka link tersebut, dirinya malah diarahkan untuk masuk ke dalam aplikasi spotify.

ajarkan aku...

semua yang ku mau, hanya sedikit waktumu, untukku hanya satu pesan singkat, Sedang apa dirimu?

awal pertemuan kau sangat peka padaku, dan itu dulu rasa yang terlanjur dalam, kau buatku semakin bodoh

oh mengapa harus kulihat kau dengan dirinya Terluka tapi tak berdarah

ajarkan aku cara tuk melupakanmu bila membencimu tak pernah cukup 'tuk hilangkan kamu ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya sebelum aku trauma mencintai sosok yang baru lagi...

sesaat lagu itu di putar, dan belum sampai lagu itu habis cakra segera menghentikannya. sekarang cakra tau apa maksut hazel, mengapa ia merekomendasikan lagu ini kepada dirinya. keadaan cakra saat ini sangat relate dengan lagu yang baru saja ia dengarkan.

cakra kembali memutar lagu yang tadi sempat ia jeda dan kembali menelaah lirik demi lirik dari lagu yang berjudul ajarkan aku...

tanpa cakra sadari, ada seorang wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya. wanita paruh baya itu tiba-tiba menghentikan lagu yang tengah di putar oleh cakra dari ponselnya. cakra menoleh ke belakang, dan melihat sosok sang bunda yang tengah berdiri sambil memperhatikan dirinya.

“tidur, udah malem.”, pinta sang bunda.

setelah meminta cakra untuk tidur, bundanya langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat malam atau memastikan dirinya sudah tidur apa belum. cakra menghela nafas berat saat mendapati bahwa sang bunda telah pergi dari kamarnya. ia memilih untuk segera meninggalkan meja belajar dan berbaring di kasur lalu tidur.

...

– quersnda & azmrnda

“darimana?”, cakra bertanya kepada hazel yang akhirnya kembali ke hadapan cakra setelah beberapa menit yang lalu ia pergi meninggalkannya sendiri.

tanpa menjawab hazel langsung menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi obat-obatan kepada cakra.

cakra mengambil kantong plastik yang diberikan oleh hazel kepadanya. ia membuka dan melihat apa isi di dalamnya. cakra melihat ada beberapa obat-obatan seperti salep dan anti septik.

“makasih”, ucap cakra.

bukannya menjawab ucapan terimakasih dari cakra, hazel malah menunduk dan segera melangkahkan kakinya pergi. namun sebelum dirinya pergi, tangan kekar cakra segera menahannya untuk tidak pergi.

“duduk”, cakra menahan tangan hazel dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

hazel menggeleng, dirinya tidak ingin duduk di samping cakra untuk saat ini.

“gue tau lo habis nangis”

hazel terkejut mendengar pernyataan yang dikatakan oleh cakra.

“sini duduk, gue gak keberatan kalo lo mau nangis di depan gue”

“gue gak nangis, jangan sok tau.”

kebenaran saat ini adalah, memang benar hazel baru saja menangis saat perjalanan menuju ke apotek, namun bukannya jujur kepada cakra ia malah mengelak dengan menunduk dan menutupi mata sembap nya. tapi disisi lain, ada sesuatu yang membuat hazel curiga. bagaimana cakra tau kalo dia habis nangis?, apakah cakra mengikutinya dari tadi?, pikirnya.

“jangan nunduk”

“gak.”

“lo yakin mau nunduk terus sambil berdiri sampek bulan ganti jadi matahari?”

oke fine, kini hazel harus segera duduk. kakinya mulai terasa pegal, begitu juga dengan telinganya yang sudah panas mendengar celotehan dari cakra.

“dari tadi kek”, cakra melepaskan genggamannya dari tangan hazel dan membiarkan hazel duduk di sampingnya. namun bukannya melihat ke arahnya, hazel tetap menunduk ke arah bawah.

“yang tadinya cuma main-main, sekarang malah dimainin”...“dari kepercayaan, jadi penghianatan”, ujar cakra sembari melihat ke arah hazel.

hazel yang mendengarnya pun langsung mendongak, dan menatap intens wajah cakra.

“maksut lo?”, hazel bertanya kepada cakra, apa maksut dari perkataannya barusan.

“obati dulu muka gue”, cakra malah meminta hazel untuk mengobati lebam di wajahnya daripada menjawab pertanyaan darinya.

“jawab gue.”

“obati dulu, jawabnya bisa ntar”

“cakra.”

“buruan, muka gue bonyok semua”

dengan sangat terpaksa akhirnya hazel memutuskan untuk membantu cakra mengobati luka lebam di wajahnya. ia mengambil kantong plastik yang berisi obat-obatan di sampingnya dan segera mengoleskan salep ke wajah cakra yang terdapat luka dan lebam.

saat hazel tengah meniup luka di wajah cakra, matanya tanpa sengaja saling menatap antara satu sama lain, hingga membuat hazel menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap netra hitam cakra. sama halnya dengan cakra, ia juga menatap lekat netra hitam hazel. satu hembusan angin yang lewat diantara mereka membuat tatapan itu buyar seketika, dan membuat mereka berdua saling membelakangi antara satu sama lain.

“ud-udah gue obati”

kejadian barusan mengantarkan mereka berdua pada kecanggungan sesaat.

“gue dulu cuma main-main sama perasaan cewek, dan dalam sekejap gue bisa naroh perasaan sama cila. tapi perasaan itu dibuang begitu aja sama dia, tanpa mikirin perasaan yang masih gue simpen dan jaga sampek sejauh ini”, gak ada petir gak hujan, tiba-tiba saja cakra menjelaskan panjang lebar perihal kisah cintanya dengan cila kepada hazel.

setelah mendengar cerita panjang lebar yang keluar dari mulut cakra, hazel mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cakra. ia benar-benar menaruh hati kepada sang sahabat, cila. namun apa yang cila lakukan kepada cakra, dirinya malah tega menduakan perasaan yang telah ia jaga mati-matian demi dirinya.

“ternyata gak selamanya orang yang kita percayai, bisa tulus ngejaga kepercayaan ini”

“gak seharusnya lo percaya sama setiap orang yang lo anggep baik”

“kenapa lo bisa ngomong gini?”

cakra yang ditodong pertanyaan itu seketika bungkam.

“cak?”

“ajarin gue buat bisa lupain dia.”

“cakra...”

“gue cuma gak mau nginget sosok wanita yang udah nge duain perasaan gue sama laki-laki lain”

sorry cak, gue beneran gak mau ikut campur urusan lo sama cila”

“kontrak...”

please stop bicarain ini cak. jangan bahas masalah ini di depan gue lagi. kalo perlu gue bakal bayar semau lo, asal kita udahin taruhan ini.”

“gue gak bisa.”

...

– quersnda

“darimana?”, cakra bertanya kepada hazel yang akhirnya kembali ke hadapan cakra setelah beberapa menit yang lalu ia pergi meninggalkannya sendiri.

tanpa menjawab hazel langsung menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi obat-obatan kepada cakra.

cakra mengambil kantong plastik yang diberikan oleh hazel kepadanya. ia membuka dan melihat apa isi di dalamnya. cakra melihat ada beberapa obat-obatan seperti salep dan anti septik.

“makasih”, ucap cakra.

bukannya menjawab ucapan terimakasih dari cakra, hazel malah menunduk dan segera melangkahkan kakinya pergi. namun sebelum dirinya pergi, tangan kekar cakra segera menahannya untuk tidak pergi.

“duduk”, cakra menahan tangan hazel dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

hazel menggeleng, dirinya tidak ingin duduk di samping cakra untuk saat ini.

“gue tau lo habis nangis”

hazel terkejut mendengar pernyataan yang dikatakan oleh cakra.

“sini duduk, gue gak keberatan kalo lo mau nangis di depan gue”

“gue gak nangis, jangan sok tau.”

kebenaran saat ini adalah, memang benar hazel baru saja menangis saat perjalanan menuju ke apotek, namun bukannya jujur kepada cakra ia malah mengelak dengan menunduk dan menutupi mata sembap nya. tapi disisi lain, ada sesuatu yang membuat hazel curiga. bagaimana cakra tau kalo dia habis nangis?, apakah cakra mengikutinya dari tadi?, pikirnya.

“jangan nunduk”

“gak.”

“lo yakin mau nunduk terus sambil berdiri sampek bulan ganti jadi matahari?”

oke fine, kini hazel harus segera duduk. kakinya mulai terasa pegal, begitu juga dengan telinganya yang sudah panas mendengar celotehan dari cakra.

“dari tadi kek”, cakra melepaskan genggamannya dari tangan hazel dan membiarkan hazel duduk di sampingnya. namun bukannya melihat ke arahnya, hazel tetap menunduk ke arah bawah.

“yang tadinya cuma main-main, sekarang malah dimainin”...“dari kepercayaan, jadi penghianatan”, ujar cakra sembari melihat ke arah hazel.

hazel yang mendengarnya pun langsung mendongak, dan menatap intens wajah cakra.

“maksut lo?”, hazel bertanya kepada cakra, apa maksut dari perkataannya barusan.

“obati dulu muka gue”, cakra malah meminta hazel untuk mengobati lebam di wajahnya daripada menjawab pertanyaan darinya.

“jawab gue.”

“obati dulu, jawabnya bisa ntar”

“cakra.”

“buruan, muka gue bonyok semua”

dengan sangat terpaksa akhirnya hazel memutuskan untuk membantu cakra mengobati luka lebam di wajahnya. ia mengambil kantong plastik yang berisi obat-obatan di sampingnya dan segera mengoleskan salep ke wajah cakra yang terdapat luka dan lebam.

saat hazel tengah meniup luka di wajah cakra, matanya tanpa sengaja saling menatap antara satu sama lain, hingga membuat hazel menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap netra hitam cakra. sama halnya dengan cakra, ia juga menatap lekat netra hitam hazel. satu hembusan angin yang lewat diantara mereka membuat tatapan itu buyar seketika, dan membuat mereka berdua saling membelakangi antara satu sama lain.

“ud-udah gue obati”

kejadian barusan mengantarkan mereka berdua pada kecanggungan sesaat.

“gue dulu cuma main-main sama perasaan cewek, dan dalam sekejap gue bisa naroh perasaan sama cila. tapi perasaan itu dibuang begitu aja sama dia, tanpa mikirin perasaan yang masih gue simpen dan jaga sampek sejauh ini”, gak ada petir gak hujan, tiba-tiba saja cakra menjelaskan panjang lebar perihal kisah cintanya dengan cila kepada hazel.

setelah mendengar cerita panjang lebar yang keluar dari mulut cakra, hazel mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cakra. ia benar-benar menaruh hati kepada sang sahabat, cila. namun apa yang cila lakukan kepada cakra, dirinya malah tega menduakan perasaan yang telah ia jaga mati-matian demi dirinya.

“ternyata gak selamanya orang yang kita percayai, bisa tulus ngejaga kepercayaan ini”

“gak seharusnya lo percaya sama setiap orang yang lo anggep baik”

“kenapa lo bisa ngomong gini?”

cakra yang ditodong pertanyaan itu seketika bungkam.

“cak?”

“ajarin gue buat bisa lupain dia.”

“cakra...”

“gue cuma gak mau nginget sosok wanita yang udah nge duain perasaan gue sama laki-laki lain”

sorry cak, gue beneran gak mau ikut campur urusan lo sama cila”

“kontrak...”

please stop bicarain ini cak. jangan bahas masalah ini di depan gue lagi. kalo perlu gue bakal bayar semau lo, asal kita udahin taruhan ini.”

“gue gak bisa.”

...

– quersnda

“darimana?”, cakra bertanya kepada hazel yang akhirnya kembali ke hadapan cakra setelah beberapa menit yang lalu ia pergi meninggalkannya sendiri.

tanpa menjawab hazel langsung menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi obat-obatan kepada cakra.

cakra mengambil kantong plastik yang diberikan oleh hazel kepadanya. ia membuka dan melihat apa isi di dalamnya. cakra melihat ada beberapa obat-obatan seperti salep dan anti septik.

“makasih”, ucap cakra.

bukannya menjawab ucapan terimakasih dari cakra, hazel malah menunduk dan segera melangkahkan kakinya pergi. namun sebelum dirinya pergi, tangan kekar cakra segera menahannya untuk tidak pergi.

“duduk”, cakra menahan tangan hazel dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

hazel menggeleng, dirinya tidak ingin duduk di samping cakra untuk saat ini.

“gue tau lo habis nangis”

hazel terkejut mendengar pernyataan yang dikatakan oleh cakra.

“sini duduk, gue gak keberatan kalo lo mau nangis di depan gue”

“gue gak nangis, jangan sok tau.”

kebenaran saat ini adalah, memang benar hazel baru saja menangis saat perjalanan menuju ke apotek, namun bukannya jujur kepada cakra ia malah mengelak dengan menunduk dan menutupi mata sembap nya. tapi disisi lain, ada sesuatu yang membuat hazel curiga. bagaimana cakra tau kalo dia habis nangis?, apakah cakra mengikutinya dari tadi?, pikirnya.

“jangan nunduk”

“gak.”

“lo yakin mau nunduk terus sambil berdiri sampek bulan ganti jadi matahari?”

oke fine, kini hazel harus segera duduk. kakinya mulai terasa pegal, begitu juga dengan telinganya yang sudah panas mendengar celotehan dari cakra.

“dari tadi kek”, cakra melepaskan genggamannya dari tangan hazel dan membiarkan hazel duduk di sampingnya. namun bukannya melihat ke arahnya, hazel tetap menunduk ke arah bawah.

“yang tadinya cuma main-main, sekarang malah dimainin”...“dari kepercayaan, jadi penghianatan”, ujar cakra sembari melihat ke arah hazel.

hazel yang mendengarnya pun langsung mendongak, dan menatap intens wajah cakra.

“maksut lo?”, hazel bertanya kepada cakra, apa maksut dari perkataannya barusan.

“obati dulu muka gue”, cakra malah meminta hazel untuk mengobati lebam di wajahnya daripada menjawab pertanyaan darinya.

“jawab gue.”

“obati dulu, jawabnya bisa ntar”

“cakra.”

“buruan, muka gue bonyok semua”

dengan sangat terpaksa akhirnya hazel memutuskan untuk membantu cakra mengobati luka lebam di wajahnya. ia mengambil kantong plastik yang berisi obat-obatan di sampingnya dan segera mengoleskan salep ke wajah cakra yang terdapat luka dan lebam.

saat hazel tengah meniup luka di wajah cakra, matanya tanpa sengaja saling menatap antara satu sama lain, hingga membuat hazel menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap netra hitam cakra. sama halnya dengan cakra, ia juga menatap lekat netra hitam hazel. satu hembusan angin yang lewat diantara mereka membuat tatapan itu buyar seketika, dan membuat mereka berdua saling membelakangi antara satu sama lain.

“ud-udah gue obati”

thanks

kejadian barusan mengantarkan mereka berdua pada kecanggungan sesaat.

“gue dulu cuma main-main sama perasaan cewek, dan dalam sekejap gue bisa naroh perasaan sama cila. tapi perasaan itu dibuang begitu aja sama dia, tanpa mikirin perasaan yang masih gue simpen dan jaga sampek sejauh ini”, gak ada petir gak hujan, tiba-tiba saja cakra menjelaskan panjang lebar perihal kisah cintanya dengan cila kepada hazel.

setelah mendengar cerita panjang lebar yang keluar dari mulut cakra, hazel mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cakra. ia benar-benar menaruh hati kepada sang sahabat, cila. namun apa yang cila lakukan kepada cakra, dirinya malah tega menduakan perasaan yang telah ia jaga mati-matian demi dirinya.

“ternyata gak selamanya orang yang kita percayai, bisa tulus ngejaga kepercayaan ini”

“gak seharusnya lo percaya sama setiap orang yang lo anggep baik”

“kenapa lo bisa ngomong gini?”

cakra yang ditodong pertanyaan itu seketika bungkam.

“cak?”

“ajarin gue buat bisa lupain dia.”

“cakra...”

“gue cuma gak mau nginget sosok wanita yang udah nge duain perasaan gue sama laki-laki lain”

sorry cak, gue beneran gak mau ikut campur urusan lo sama cila”

“kontrak...”

please stop bicarain ini cak. jangan bahas masalah ini di depan gue lagi. kalo perlu gue bakal bayar semau lo, asal kita udahin taruhan ini.”

“gue gak bisa.”

...

– quersnda

“darimana?”, cakra bertanya kepada hazel yang akhirnya kembali ke hadapan cakra setelah beberapa menit yang lalu ia pergi meninggalkannya sendiri.

tanpa menjawab hazel langsung menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi obat-obatan kepada cakra.

cakra mengambil kantong plastik yang diberikan oleh hazel kepadanya. ia membuka dan melihat apa isi di dalamnya. cakra melihat ada beberapa obat-obatan seperti salep dan anti septik.

“makasih”, ucap cakra.

bukannya menjawab ucapan terimakasih dari cakra, hazel malah menunduk dan segera melangkahkan kakinya pergi. namun sebelum dirinya pergi, tangan kekar cakra segera menahannya untuk tidak pergi.

“duduk”, cakra menahan tangan hazel dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.

hazel menggeleng, dirinya tidak ingin duduk di samping cakra untuk saat ini.

“gue tau lo habis nangis”

hazel terkejut mendengar pernyataan yang dikatakan oleh cakra.

“sini duduk, gue gak keberatan kalo lo mau nangis di depan gue”

“gue gak nangis, jangan sok tau.”

kebenaran saat ini adalah, memang benar hazel baru saja menangis saat perjalanan menuju ke apotek, namun bukannya jujur kepada cakra ia malah mengelak dengan menunduk dan menutupi mata sembap nya. tapi disisi lain, ada sesuatu yang membuat hazel curiga. bagaimana cakra tau kalo dia habis nangis?, apakah cakra mengikutinya dari tadi?, pikirnya.

“jangan nunduk”

“gak.”

“lo yakin mau nunduk terus sambil berdiri sampek bulan ganti jadi matahari?”

oke fine, kini hazel harus segera duduk. kakinya mulai terasa pegal, begitu juga dengan telinganya yang sudah panas mendengar celotehan dari cakra.

“dari tadi kek”, cakra melepaskan genggamannya dari tangan hazel dan membiarkan hazel duduk di sampingnya. namun bukannya melihat ke arahnya, hazel tetap menunduk ke arah bawah.

“yang tadinya cuma main-main, sekarang malah dimainin”...“dari kepercayaan, jadi penghianatan”, ujar cakra sembari melihat ke arah hazel.

hazel yang mendengarnya pun langsung mendongak, dan menatap intens wajah cakra.

“maksut lo?”, hazel bertanya kepada cakra, apa maksut dari perkataannya barusan.

“obati dulu muka gue”, cakra malah meminta hazel untuk mengobati lebam di wajahnya daripada menjawab pertanyaan darinya.

“jawab gue.”

“obati dulu, jawabnya bisa ntar”

“cakra.”

“buruan, muka gue bonyok semua”

dengan sangat terpaksa akhirnya hazel memutuskan untuk membantu cakra mengobati luka lebam di wajahnya. ia mengambil kantong plastik yang berisi obat-obatan di sampingnya dan segera mengoleskan salep ke wajah cakra yang terdapat luka dan lebam.

saat hazel tengah meniup luka di wajah cakra, matanya tanpa sengaja saling menatap antara satu sama lain, hingga membuat hazel menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap netra hitam cakra. sama halnya dengan cakra, ia juga menatap lekat netra hitam hazel. satu hembusan angin yang lewat diantara mereka membuat tatapan itu buyar seketika, dan membuat mereka berdua saling membelakangi antara satu sama lain.

“ud-udah gue obati”

“thanks”

kejadian barusan mengantarkan mereka berdua pada kecanggungan sesaat.

“gue dulu cuma main-main sama perasaan cewek, dan dalam sekejap gue bisa naroh perasaan sama cila. tapi perasaan itu dibuang begitu aja sama dia, tanpa mikirin perasaan yang masih gue simpen dan jaga sampek sejauh ini”, gak ada petir gak hujan, tiba-tiba saja cakra menjelaskan panjang lebar perihal kisah cintanya dengan cila kepada hazel.

setelah mendengar cerita panjang lebar yang keluar dari mulut cakra, hazel mengerti apa yang tengah dirasakan oleh cakra. ia benar-benar menaruh hati kepada sang sahabat, cila. namun apa yang cila lakukan kepada cakra, dirinya malah tega menduakan perasaan yang telah ia jaga mati-matian demi dirinya.

“ternyata gak selamanya orang yang kita percayai, bisa tulus ngejaga kepercayaan ini”

“gak seharusnya lo percaya sama setiap orang yang lo anggep baik”

“kenapa lo bisa ngomong gini?”

cakra yang ditodong pertanyaan itu seketika bungkam.

“cak?”

“ajarin gue buat lupain kejadian ini”

“cakra...”

“gue cuma gak mau nginget sosok wanita yang udah nge duain perasaan gue sama laki-laki lain”

sorry cak, gue beneran gak mau ikut campur urusan lo sama cila”

“kontrak...”

please stop bicarain ini cak. jangan bahas masalah ini di depan gue lagi. kalo perlu gue bakal bayar semau lo, asal kita udahin taruhan ini.”

“gue gak bisa.”

...

– quersnda

hazel segera berlari dari taman menuju cafe untuk menemui cakra disana. namun saat ia tiba di sana, matanya menangkap sesosok wanita yang sangat lekat di ingatannya. hazel sempat berfikir siapa dia, namun dari postur tubuh dan rambutnya, ia bisa menebak dengan cepat siapa wanita itu, meski hanya dari kejauhan. langkah demi langkah ia ambil, berjalan mendekati kerumunan, yang sudah ia pastikan bahwa mereka semua tengah menonton aksi antara cakra dan bagas.

hazel menerobos kerumunan, dan betapa terkejutnya ia melihat seluruh wajah cakra sudah dipenuhi oleh luka lebam. hazel segera berlari dan menghentikan perkelahian tersebut. diibaratkan kucing yang masuk ke dalam kandang singa.

hazel menerobos ke tengah-tengah antara cakra dan bagas. hal ini juga yang membuat seisi cafe terdiam, begitu juga cakra dan bagas.

“minggir.”, cakra berujar kepada hazel dengan suara lantang.

“lo ngapain sih cari masalah sama orang lain?”...“ngaca cak, muka lo udah babak belur gini masih mau lanjut?”

“gue bilang jangan masuk”

“jadi, lo nyuruh gue buat tunggu di luar, supaya lo bisa baku hantam sama orang lain!?”

cakra seketika membisu.

“tau gini gue gak bakal masuk”...“sekarang lanjut aja kalo mau berantem, gue bakal pergi dan gak bakal ganggu lo lagi”

hazel berbalik membelakangi tubuh cakra, ia ingin segera pergi dari cafe ini, namun ada hal yang menahannya untuk tidak pergi dari sini. hazel melihat dengan jelas wajah wanita yang ia maksut tadi. selangkah ia maju, semakin dekat juga ia dengan wanita itu.

betapa terkejutnya hazel mendapati sahabat yang akhir-akhir ini sangat ia tunggu dan rindukan malah jalan bersama dua orang laki-laki, bahkan dua laki-laki ini adalah orang yang hazel benci.

“cil?”, hazel menghampiri cila dan menatap netra hitam miliknya.

cila yang dipanggil malah mengelak, dirinya ingin segera pergi dari hadapan hazel, namun hazel segara menahan tangannya. alhasil usaha cila untuk kabur gagal.

“jawab gue cila!”

“gue harus jawab apa!?”

“kenapa lo ngelak dari gue akhir-akhir ini?!”

cila terdiam.

“jawab gue cil...”

sorry”, gumamnya pelan.

“jelasin semuanya ke gue”

“seminggu yang lalu gue jadian sama cila”, sahut cakra.

“dan tiga hari lalu dia jadian sama gue.”, imbuh bagas.

hazel tidak bisa berkata-kata lagi. hatinya tidak bisa menahan rasa sakit yang diberikan oleh cila. begitu besar rahasia yang disembunyikan olehnya kepada dirinya, sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. ingin rasanya hazel menampar pipi cila sekarang juga, namun hazel tau, menampar bukanlah hal yang bisa menyelesaikan masalah ini, yang ada masalah akan menjadi tambah rumit jika ia bermain menggunakan kekerasan.

hazel menghela nafas berat, beberapa tetes air mata mulai membasahi kedua pipinya.

“pilih antara kita bertiga.”, hazel menatap lekat wajah cila sembari menahan tangisnya.

“bagas, ayo kita pergi dari sini”

bukannya menjawab, cila malah memilih untuk pergi dari cafe bersama dengan bagas. namun dengan ini juga, hazel sudah bisa menebak jawaban cila, bahwa dirinya lebih memilih bagas ketimbang persahabatannya.

“lo benar-benar udah nge hancurin kepercayaan gue selama ini, cuma gara-gara satu orang cowok?”

tanpa menjawab, cila segera menarik tangan bagas dan membawanya pergi keluar dari cafe.

kini pandangan seisi cafe tertuju pada hazel dan cakra. hazel yang tadi hanya diam menahan rasa sakitnya, kini ingin sekali menangis dan meluapkan rasa sakitnya.

disisi lain, cakra melihat bagaimana gerak gerik hazel dari belakang. dirinya menghampiri hazel dan segera menarik tangannya pelan untuk membawanya keluar dari dalam cafe. hazel yang menyadarinya pun hanya diam dan mengikut saja.

cakra membawa hazel ke taman belakang cafe. suasana angin malam mungkin akan membuat keadaan hazel menjadi lebih tenang, pikir cakra.

“nangis aja”, ujar cakra.

hazel hanya menunduk dan diam tak menggubris perkataan cakra. dadanya terasa sesak saat dirinya mencoba menahan air mata.

cakra melihat sekilas ke arah hazel.

“gue tau lo bingung sama situasi ini”...“sama halnya kayak lo, gue juga bingung sama semua ini.”

hazel mendongak, menatap lekat wajah cakra yang sedang berbicara dengannya. begitu juga dengan cakra, ia menatap balik wajah hazel dengan lekat, hingga membuat mereka berdua melakukan kontak mata dan terbawa dalam suasana malam.

“gue pacaran sama cila, seminggu yang lalu”...“awalnya gue cuma pura-pura”

“mak-maksut lo?”

cakra kembali melihat ke depan dengan pandangan kosong, “cila minta bantuan gue buat jadi pacarnya, seminggu”.

“jadi kalian?”

“kita cuma pura-pura”

“tapi...”

“gue jatuh cinta sama cila dalam sekejap, dan gue lupa akan semuanya”...“semakin gue larut dalam kisah cinta ini, semakin dalam juga rasa sayang gue ke dia”, cakra kini mulai membongkar sedikit demi sedikit rahasia cila dan dirinya kepada hazel, tanpa ada beban sedikit pun yang mengganjal di hatinya. rasanya cakra ingin meluapkan semua isi hatinya sekarang juga dihadapkan hazel, entah hazel itu orang asing atau bukan baginya. namun yang pasti kini ia tengah membutuhkan teman bicara.

“cak...”, hazel memanggil nama cakra dengan lemah lembut, tidak seperti hazel yang biasanya.

cakra menoleh ke arah hazel.

“muka lo lebam semua, apa gak sebaiknya lo obati dulu?”

“rasa sakit di muka gue gak ada apa-apanya, ketimbang rasa sakit di hati gue”

hazel kini bingung harus menjawab apa. sebenarnya tidak cuma cakra yang terluka dalam situasi ini, namun hazel juga.

“kalo mau nangis jangan ditahan, gue disini gak keberatan buat denger rasa sakit lo”, cakra tersenyum sekilas ke arah hazel dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan.

hazel sebenarnya ingin sekali menangis, tapi ia tidak bisa. entah apa yang membuatnya tidak bisa menangis kali ini.

“cak, gue pergi bentar, lo jangan kemana-mana”, tanpa menunggu jawaban dari cakra, hazel segera pergi dan berlari meninggalkan cakra sendirian di tengah gelapnya malam.

read more...