quersnda

Hidup. Setiap manusia pasti lahir dari rahim seorang ibu, dan dari seorang ibu pula kita bisa mendapatkan kehidupan.

“Jidan, jangan lari-lari sayang...”

Hidup. Setiap manusia pasti lahir dari rahim seorang ibu, dan dari seorang ibu pula kita bisa mendapatkan kehidupan.

“Jidan, jangan lari-lari sayang...”

Hidup. Setiap manusia pasti lahir dari rahim seorang ibu, dan dari seorang ibu pula kita bisa mendapatkan kehidupan.

hazel berjalan keluar dari kelas dengan suasana hati yang buruk. mulut yang sedari tidak berhenti ngedumel membuat hazel tidak fokus pada jalannya dan tanpa sengaja kakinya menginjak tali sepatu miliknya sendiri hingga membuat hazel jatuh tersungkur. tawa yang keluar dari mulut siswa & siswi di sekitarnya membuat hazel merasa geram, mereka bukannya menolong tapi malah mentertawakan penderitaan orang lain. hazel segera bangkit dan membenarkan tali sepatunya, meski di sekitarnya masih banyak para syaitan yang masih membicarakan dirinya. hazel tidak berniat menggubris omongan mereka semua, ia lebih memilih untuk segera meninggalkan tempat ini.

tidak memakan waktu yang cukup lama akhirnya hazel tiba di halaman belakang sekolah yang keadaannya kini mulai sepi, di tambah lagi dengan suasana angin kencang dan langit yang kini di penuhi oleh awan hitam membuat kawasan ini terlihat lebih horor dari biasanya. tanpa menunggu lebih lama lagi hazel segera mencari keberadaan orang yang sedari tadi sudah menunggunya, ia celingak-celinguk mencari dan menulusuri kawasan belakang sekolah, namun nihil, tidak ada satu orang pun yang bisa ia temui sama sekali. dirinya berdecak kesal. tak kenal lelah dan ingin segera menyelesaikan urusannya hazel kembali berjalan menyusuri halaman dan mencari dimana sosok laki-laki yang sudah menunggunya sedari tadi. lelah, hazel berhenti di depan gudang usang yang sudah tidak terurus. matanya melirik ke arah pintu gudang tersebut, hingga pada akhirnya hazel mencoba untuk memberanikan diri membuka pintu gudang tersebut. namun saat dirinya ingin membuka pintu tersebut tiba-tiba sebuah tangan kekar mendarat tepat di bahu kanannya dan membuat hazel terkejut setengah mati. ia menoleh ke belakang dan melihat siapa yang berani memegang bahunya itu.

“cakra anjing.” hazel mengumpat dengan jelas ketika mengetahui siapa yang saat ini tengah berada di depannya.

“kaget? pasti lo mikir gue setan” cakra meledek wanita di depannya yang kini tengah memasang muka sok jutek kepada dirinya.

“sok tau.” singkat hazel dengan raut wajah yang memang ia buat se-jutek mungkin.

cakra tertawa pelan melihat raut wajah hazel, bukannya terlihat galak tapi malah terlihat lucu di mata cakra.

“muka lo gak cocok jadi sok jutek, gue lihat nya jadi mirip muka emak-emak mau tawuran pakek sapu”

dukk!

tanpa aba-aba hazel langsung menendang lutut cakra dengan keras hingga membuat sang empu terjatuh dan merintih kesakitan.

hazel tertawa puas melihat cakra merintih kesakitan di hadapannya.

“ups! sorry gak sengaja, kaki gue refleks nendang lutut lo. kalo mau marahin, marahin aja kaki gue”

“bangsat.”

“sakit ya? pasti lo gak bisa berdiri? kasihan banget sih...”

cakra mengertakkan rahang nya melihat wanita di depannya ini semakin tidak tahu diri kepada dirinya. tidak mau harga dirinya semakin di injak-injak, cakra segera berdiri dan menebahi bokongnya.

“berani juga lo jadi cewek.” cakra berjalan maju mendekati hazel dan menaruh tangan kanannya pada pundak kiri hazel.

hazel mengerutkan keningnya melihat tingkah cakra.

“tendangan lo gak ada apa-apanya buat gue. lain kali kalo nendang pakek tenaga, jangan modal suara.” ucap cakra sambil memperlihatkan smrik nya.

hazel mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menonjok wajah laki-laki yang saat ini tengah berada tepat di depannya.

cakra melihat ke bawah, tepat pada kedua tangan hazel yang saat ini tengah mengepal. cakra terkekeh melihatnya.

“jadi gimana? mau pipi kanan atau kiri? atau mau perut? lengan?”

“gak jelas lo.”

“gue kirain malah lo yang gak jelas”

“ck. rese banget sih,” hazel berdecak kesal melihat tingkah cakra yang terus-menerus membela dirinya sendiri hingga membuat hazel kehabisan kata-kata.

melihat ekspresi wajah hazel, cakra tersenyum sekilas. bukan senyum biasa, namun senyum kemenangan.

“urusan kita belum selesai, ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo,”

“tinggal ngomong aja apa susahnya, ck.”

“lo tunggu aja sampek bintang jadi bulet” cakra menepuk pundak kiri hazel sambil tersenyum simpul kepada dirinya.

“breng—huft...” tidak ingin kalimat itu keluar dari mulutnya, hazel segera memotongnya dan menghela nafas pasrah saat melihat wajah sombong cakra yang saat ini tengah menatap dirinya.

“camkan ini baik-baik. jangan buang tenaga lo cuma buat bales dendam sama gue.” ucap cakra lalu pergi begitu saja meninggalkan hazel sendirian.

hazel mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut cakra. dirinya sedikit bingung dengan apa yang cakra maksud, namun dari ucapan cakra barusan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa lebih baik diam daripada membangunkan singa yang tengah tertidur. mungkin seperti ini yang cakra maksudkan.

...

– quersnda

hazel berjalan keluar dari kelas dengan suasana hati yang buruk. mulut yang sedari tidak berhenti ngedumel membuat hazel tidak fokus pada jalannya dan tanpa sengaja kakinya menginjak tali sepatu miliknya sendiri hingga membuat hazel jatuh tersungkur. tawa yang keluar dari mulut siswa & siswi di sekitarnya membuat hazel merasa geram, mereka bukannya menolong tapi malah mentertawakan penderitaan orang lain. hazel segera bangkit dan membenarkan tali sepatunya, meski di sekitarnya masih banyak para syaitan yang masih membicarakan dirinya. hazel tidak berniat menggubris omongan mereka semua, ia lebih memilih untuk segera meninggalkan tempat ini.

tidak memakan waktu yang cukup lama akhirnya hazel tiba di halaman belakang sekolah yang keadaannya kini mulai sepi, di tambah lagi dengan suasana angin kencang dan langit yang kini di penuhi oleh awan hitam membuat kawasan ini terlihat lebih horor dari biasanya. tanpa menunggu lebih lama lagi hazel segera mencari keberadaan orang yang sedari tadi sudah menunggunya, ia celingak-celinguk mencari dan menulusuri kawasan belakang sekolah, namun nihil, tidak ada satu orang pun yang bisa ia temui sama sekali. dirinya berdecak kesal. tak kenal lelah dan ingin segera menyelesaikan urusannya hazel kembali berjalan menyusuri halaman dan mencari dimana sosok laki-laki yang sudah menunggunya sedari tadi. lelah, hazel berhenti di depan gudang usang yang sudah tidak terurus. matanya melirik ke arah pintu gudang tersebut, hingga pada akhirnya hazel mencoba untuk memberanikan diri membuka pintu gudang tersebut. namun saat dirinya ingin membuka pintu tersebut tiba-tiba sebuah tangan kekar mendarat tepat di bahu kanannya dan membuat hazel terkejut setengah mati. ia menoleh ke belakang dan melihat siapa yang berani memegang bahunya itu.

“cakra anjing.” hazel mengumpat dengan jelas ketika mengetahui siapa yang saat ini tengah berada di depannya.

“kaget? pasti lo mikir gue setan” cakra meledek wanita di depannya yang kini tengah memasang muka sok jutek kepada dirinya.

“sok tau.” singkat hazel dengan raut wajah yang memang ia buat se-jutek mungkin.

cakra tertawa pelan melihat raut wajah hazel, bukannya terlihat galak tapi malah terlihat lucu di mata cakra.

“muka lo gak cocok jadi sok jutek, gue lihat nya jadi mirip muka emak-emak mau tawuran pakek sapu”

dukk!

tanpa aba-aba hazel langsung menendang lutut cakra dengan keras hingga membuat sang empu terjatuh dan merintih kesakitan.

hazel tertawa puas melihat cakra merintih kesakitan di hadapannya.

“ups! sorry gak sengaja, kaki gue refleks nendang lutut lo. kalo mau marahin, marahin aja kaki gue”

“bangsat.”

“sakit ya? pasti lo gak bisa berdiri? kasihan banget sih...”

cakra mengertakkan giginya melihat wanita di depannya ini semakin tidak tahu diri kepada dirinya. tidak mau harga dirinya semakin di injak-injak, cakra segera berdiri dan menebahi bokongnya.

“berani juga lo jadi cewek.” cakra berjalan maju mendekati hazel dan menaruh tangan kanannya pada pundak kiri hazel.

hazel mengerutkan keningnya melihat tingkah cakra.

“tendangan lo gak ada apa-apanya buat gue. lain kali kalo nendang pakek tenaga, jangan modal suara.” ucap cakra sambil memperlihatkan smrik nya.

hazel mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menonjok wajah laki-laki yang saat ini tengah berada tepat di depannya.

cakra melihat ke bawah, tepat pada kedua tangan hazel yang saat ini tengah mengepal. cakra terkekeh melihatnya.

“jadi gimana? mau pipi kanan atau kiri? atau mau perut? lengan?”

“gak jelas lo.”

“gue kirain malah lo yang gak jelas”

“ck. rese banget sih,” hazel berdecak kesal melihat tingkah cakra yang terus-menerus membela dirinya sendiri hingga membuat hazel kehabisan kata-kata.

melihat ekspresi wajah hazel, cakra tersenyum sekilas. bukan senyum biasa, namun senyum kemenangan.

“urusan kita belum selesai, ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo,”

“tinggal ngomong aja apa susahnya, ck”

“lo tunggu aja sampek bintang jadi bulet” cakra menepuk pundak kiri hazel sambil tersenyum simpul kepada dirinya.

“serah.” pasrah hazel.

“camkan ini baik-baik. jangan buang tenaga lo cuma buat bales dendam sama gue.” ucap cakra lalu pergi begitu saja meninggalkan hazel sendirian.

hazel mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut cakra. dirinya sedikit bingung dengan apa yang cakra maksud, namun dari ucapan cakra barusan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa lebih baik diam daripada membangunkan singa yang tengah tertidur. mungkin seperti ini yang cakra maksudkan.

...

– quersnda

waktu istirahat belum usai, oleh karena itu sehabis dari kantin hazel memutuskan untuk pergi ke halaman belakang sekolah, yang mana di sana terdapat sebuah gudang usang, tempat dimana hazel, yasa, dan cila melarikan diri dari bisingnya suasana sekolah, dulu.

sudah lama hazel tidak menjenguk gudang usang tersebut sejak satu tahun yang lalu, dimana dirinya, yasa, dan cila mengalami kejadian aneh di dalam gudang itu.

saat hazel tengah berjalan sambil memperhatikan depan, tanpa sengaja ia melihat sesosok laki-laki berseragam yang tengah duduk sambil bersandar di tembok. hazel penasaran dengan sosok laki-laki tersebut, namun saat hazel ingin melangkahkan kakinya menghampiri laki-laki itu, ponsel yang ia genggam bergetar. hazel mendapat pesan dari temannya yasa. sejenak hazel membalas pesan dari temannya tersebut, setelah itu ia kembali fokus pada laki-laki yang jaraknya lumayan jauh dari posisinya saat ini.

“permisi...” hazel menghampiri laki-laki itu dan menyamakan posisinya dengan laki-laki di depannya.

terlihat bahwa laki-laki didepannya ini terus menundukkan kepalanya meski tahu bahwa ada orang didepannya. kini hazel tengah berusaha untuk melihat siapa laki-laki yang sedari tadi hanya menunduk tanpa mendongak ke arahnya. namun dilain itu, hazel tanpa sengaja melihat tembok di depannya atau bisa dikatakan tembok yang digunakan untuk bersandar laki-laki ini penuh dengan darah. hazel seketika panik dan ketakutan setelah melihat darah yang kini menempel pada tembok didepannya.

grep...

tiba-tiba tangan kanan laki-laki itu memegang lengan kiri milik hazel. hazel yang mengetahuinya terkejut bukan main, pasalnya tangan yang kini tengah memegang lengannya ini dipenuhi oleh darah.

hazel mencoba melepaskan tangan laki-laki itu dari lengannya.

“kenapa?” laki-laki itu akhirnya membuka suara dan mendongak ke arah hazel.

hazel melongo mengetahui siapa laki-laki yang kini tengah duduk di depannya dengan tangan penuh darah.

“kaget?” cakra tertawa pelan melihat ekspresi kaget hazel.

“l-lo ngapain disini?” tanya hazel dengan nada gagap nya.

“harusnya gue yang nanya gitu ke lo” bukannya menjawab, cakra malah membalikkan pertanyaan itu kepada hazel.

“gue cuma mau cari udara segar biar gak sumpek di dalem...”

“oh”

“tangan lo kenapa?”

cakra yang menyadari pertanyaan hazel mengarah pada darah di tangannya segera melepaskan genggamannya dari lengan hazel.

“lo gak habis mukul itu tembok kan?” tanya hazel sambil melirik ke arah tembok di samping cakra.

tak menggubris pertanyaan dari hazel, cakra memilih untuk berdiri dan segera meninggalkan tempat ini.

“gue minta maaf...” hazel meminta maaf perihal kejadian tadi pagi, dimana ia sudah salah melayangkan tuduhan kepada cakra.

cakra terdiam sejenak, namun tak selang beberapa saat ia sudah pergi meninggalkan hazel sendiri tanpa memperdulikan permintaan maafnya barusan.

hazel yang melihatnya hanya menghela nafas pasrah, mengingat orang yang tengah ia mintai permohonan maaf ini adalah cakra, bukan malaikat. terlepas dari permintaan maaf, hazel dibuat bingung oleh darah di tangan cakra. mungkin benar adanya bahwa darah yang ia lihat di tembok saat ini adalah ulah dari cakra.

sebelum meninggalkan tempat ini dan kembali ke kelas, sekilas hazel terus memperhatikan darah yang saat ini masih menempel kuat di kulit lengannya.

...

– quersnda

yasa kembali ke dalam kantin tanpa ditemani oleh hazel. pandangannya mulai menelusuri seluruh isi kantin. kini ia tengah mencari keberadaan cakra dan antek-anteknya. beberapa menit ia berdiri dan mencari, akhirnya yasa menemukan keberadaan teman-teman cakra. sesaat dirinya menyadari, yang ia temukan saat ini bukanlah cakra, namun hanya teman-temannya yang tengah makan sambil berbincang santai.

“gue boleh join?” tanya yasa kepada naren yang kini posisinya tengah bermain ponsel.

naren mendongak mendengar suara yasa, begitu juga dengan teman-temannya.

“duduk aja” naren menarik kursi di sebelahnya dan meminta yasa untuk duduk.

thanks” yasa berterimakasih kepada naren dan segera duduk di sebelahnya, “gue mau minta tolong sama lo semua” imbuhnya.

candra, jidan, haksa dan naren yang tadinya tidak peduli kini langsung fokus kepada yasa.

“minta tolong apaan?” tanya candra.

“sebenarnya bukan gue yang mau minta tolong, tapi hazel”...“dia mau minta maaf sama cakra, tapi dia gak tau harus minta maaf gimana” jelas yasa kepada teman-teman cakra.

“minta maaf?” tanya naren, haksa, jidan, dan candra serentak.

yasa mengangguk.

“gue baru tau hazel punya salah sama si cakra” ucap jidan sambil tertawa hambar.

“dia ada salah apa?” tanya naren.

“udah nuduh cakra sembarangan”...“menurut gue masalah ini gak terlalu berat, tapi buat hazel sendiri ini udah keterlaluan”

haksa yang tengah meminum teh anget hampir tersedak karena mendengar pertanyaan yasa.

“salah nuduh doang sampek bikin lo kesini?”...“ck..ck..ck” candra berdecak heran.

yasa mengangkat kedua bahunya.

“cakra udah pergi dari tadi, kalo mau suruh aja hazel minta maaf lewat chat. ini gak jadi masalah kan?” usul naren.

“mungkin gak.”

“atau mau gue titipin permintaan maaf ini sama cakra?” tawar haksa.

“boleh juga. tapi lebih baiknya hazel sendiri yang minta maaf sama cakra”

sebenarnya yasa tidak keberatan dengan tawaran haksa, malah ia pikir bahwa tawaran haksa cukup baik untuk hazel, namun dirinya sempat berfikir sejenak, jika orang lain yang mengungkapkan permintaan maafnya kepada cakra, mungkin hazel tidak akan puas dengan ini dan akan terus merasa bersalah kepada cakra.

“oke aja sih gue”...“kalo lo berubah pikiran bisa hubungi gue” ucap haksa.

“yoi”...“kalo gitu gue pergi dulu, thanks buat bantuannya.” setalah urusannya selesai, yasa memilih untuk segera pergi dan meninggalkan teman-teman cakra.

“lo gak mau makan dulu?” tanya naren kepada yasa.

“gue udah, lo lanjut aja” jawab yasa.

naren mengangguk pelan lalu kembali fokus ke ponselnya.

...

– quersnda

hazel berjalan menyusuri lorong sekolah untuk segera menuju ke ruang bk. suasana yang hazel rasakan ditengah perjalanannya saat ini hanyalah keheningan. kelas lainnya tengah melakukan ujian, mungkin ini juga yang membuat keadaan menjadi sepi dan hening, tidak seperti hari biasanya yang sangat berisik dan rusuh karena ulah murid-murid.

saat hazel sampai di depan kantor kepala sekolah, tanpa sengaja ia melihat beberapa guru tengah berbincang-bincang santai dengan pemilik sekolah ini. bukannya segera pergi dari sana hazel malah dibuat salah fokus oleh laki-laki yang kini tengah duduk di samping pak direktur. jika dilihat-lihat lebih intens, wajah itu tidak asing dimata hazel, sepertinya itu adalah anak pak direktur yang dulu sempat menjadi kakak kelasnya.

beberapa saat hazel berdiri di depan kantor kepala sekolah, tiba-tiba ia teringat akan niatnya pergi meninggalkan kelas. hazel teringat akan panggilan dari pak bimo, dirinya segera bergegas pergi ke ruang bk untuk menemui pak bimo.

“permisi, pak”, ucap hazel sopan sambil berdiri di depan pintu.

“masuk zel”, perintahnya.

mendengar perintah dari pak bimo hazel segera masuk dan menemui laki-laki yang kini tengah duduk di kursi guru.

“maaf pak, kalo boleh tau kenapa saya di panggil kesini?”, hazel bertanya kepada pak bimo perihal panggilan mengenai dirinya ini. sebenarnya hazel sudah menebak, kenapa ia bisa berada disini, pasti ini semua ulah seorang cakra. namun agar lebih jelasnya lagi, hazel memilih untuk menanyakannya kembali.

“saya manggil kamu kesini cuma buat minta tolong, tolong kamu kumpulin lembar ujian anak-anak yang udah selesai ngerjainnya—dan ya, kalo udah kamu bawa lagi kesini.”

mata hazel melotot mendengar penjelasan dari pak bimo, kenapa pak bimo malah menyuruh nya?, bukannya ia disini untuk dihukum bersama dengan cakra?.

“bapak cuma mau nyuruh saya?”, hazel kembali memastikan apa yang dikatakan oleh pak bimo itu benar atau malah hazel yang tadi salah dengar.

“iya HAZEL. kamu mau saya ngomong sambil teriak biar tambah jelas?!“, ucap pak bimo sembari menekan kata “hazel”.

“eh ngga pak. siap laksanakan pak. kalo gitu saya permisi dulu pak...”

hazel segera meninggalkan ruangan setelah mendapat penjelasan dari pak bimo untuk segera kembali ke kelas.

saat dalam perjalanan kembali ke kelas, hazel merasa ada yang janggal dalam ruangan tadi. ia tidak melihat sama sekali sosok seorang cakra yang sudah ia tuduh karena panggilan ini.

hazel merasa sangat bersalah karena telah menuduh cakra tanpa bukti apapun, mungkin dirinya harus meminta maaf kepada cakra saat jam istirahat nanti, pikirnya.

...

– quersnda

hazel berjalan menyusuri lorong sekolah untuk segera menuju ke ruang bk. suasana yang hazel rasakan ditengah perjalanannya saat ini hanyalah keheningan. kelas lainnya tengah melakukan ujian, mungkin ini juga yang membuat keadaan menjadi sepi dan hening, tidak seperti hari biasanya yang sangat berisik dan rusuh karena ulah murid-murid.

saat hazel sampai di depan kantor kepala sekolah, tanpa sengaja ia melihat beberapa guru tengah berbincang-bincang santai dengan pemilik sekolah ini. bukannya segera pergi dari sana hazel malah dibuat salah fokus oleh laki-laki yang kini tengah duduk di samping pak direktur. jika dilihat-lihat lebih intens, wajah itu tidak asing dimata hazel, sepertinya itu adalah anak pak direktur yang dulu sempat menjadi kakak kelasnya.

beberapa saat ia berdiri di depan kantor, hazel teringat akan tujuannya kenapa ia meninggalkan kelas, saat ia mengingatnya kembali, hazel segera bergegas ke ruang bk untuk menemui pak bimo dan menyelesaikan permasalahannya dengan cakra.

“permisi, pak”, ucap hazel sopan sambil berdiri di depan pintu.

“masuk zel”, pak bimo menyuruh hazel masuk dengan pandangan mata yang masih fokus dengan gadget di tangannya.

mendengar perintah dari pak bimo hazel segera masuk dan menemui laki-laki yang kini tengah duduk di kursi guru.

“maaf pak, kalo boleh tau kenapa saya di panggil kesini?”, hazel bertanya kepada pak bimo perihal panggilan mengenai dirinya sekarang. sebenarnya hazel sudah menebak, kenapa ia bisa berada disini, pasti ini semua ulah seorang cakra. namun agar lebih jelasnya lagi, hazel memilih untuk menanyakannya kembali.

“saya manggil kamu kesini cuma bbuat minta tolong, tolong kamu kumpulin lembar ujian anak-anak yang udah selesai ngerjainnya—dan ya, kalo udah kamu bawa lagi kesini.”

mata hazel melotot mendengar penjelasan dari pak bimo, kenapa pak bimo malah menyuruh nya?, bukannya ia disini untuk dihukum bersama dengan cakra?.

“bapak cuma mau nyuruh saya?”, hazel kembali memastikan apa yang dikatakan oleh pak bimo itu benar dan yang hazel dengar barusan tidak salah.

“iya hazel—nut...”

“itu nama mak—”

“sekali lagi kamu ngomong, turun nilai kamu”

“eh jangan pak. iya ini saya mau balik. kalo gitu permisi pak...”

setelah memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar, hazel memilih untuk segera pergi meninggalkan pak bimo sendiri di ruang bk.

saat dalam perjalanan kembali ke kelas, hazel merasa ada yang janggal dalam ruangan tadi. ia tidak melihat sama sekali sosok seorang cakra yang sudah ia tuduh, karena ia pikir cakra lah yang membuat dirinya mendapat panggilan dari bk. namun ternyata tuduhannya salah besar, ia telah menuduh cakra tanpa bukti apapun. hazel merasa sangat bersalah kepada cakra karena telah menuduhnya. bukannya cakra yang mencemarkan nama baiknya, tapi kini malah sebaliknya.

...

– quersnda

hazel berjalan menyusuri lorong sekolah untuk segera menuju ke ruang bk. suasana yang hazel rasakan ditengah perjalanannya saat ini hanyalah keheningan. kelas lainnya tengah melakukan ujian, mungkin ini juga yang membuat keadaan menjadi sepi dan hening, tidak seperti hari biasanya yang sangat berisik dan rusuh karena ulah murid-murid.

saat hazel sampai di depan kantor kepala sekolah, tanpa sengaja ia melihat beberapa guru tengah berbincang-bincang santai dengan pemilik sekolah ini. bukannya segera pergi dari sana hazel malah dibuat salah fokus oleh laki-laki yang kini tengah duduk di samping pak direktur. jika dilihat-lihat lebih intens, wajah itu tidak asing dimata hazel, sepertinya itu adalah anak pak direktur yang dulu sempat menjadi kakak kelasnya.

tidak kurang dari 1 menit hazel sudah meninggalkan kantor dan segera bergegas ke ruang bk untuk menemui pak bimo dan menyelesaikan permasalahannya dengan cakra.

“permisi, pak”, ucap hazel sopan sambil berdiri di depan pintu.

“masuk zel”, perintahnya.

mendengar perintah dari pak bimo hazel segera masuk dan menemui laki-laki yang kini tengah duduk di kursi guru.

“maaf pak, kalo boleh tau kenapa saya di panggil kesini?”, hazel bertanya kepada pak bimo perihal panggilan mengenai dirinya ini. sebenarnya hazel sudah menebak, kenapa ia bisa berada disini, pasti ini semua ulah seorang cakra. namun agar lebih jelasnya lagi, hazel memilih untuk menanyakannya kembali.

“saya manggil kamu kesini cuma buat ngasih tau, tolong kamu kumpulin lembar ujian anak-anak yang udah selesai ngerjainnya—dan ya, kalo udah kamu bawa lagi kesini.”

mata hazel melotot mendengar penjelasan dari pak bimo, kenapa pak bimo malah menyuruh nya?, bukannya ia disini untuk dihukum bersama dengan cakra?.

“bapak cuma mau nyuruh saya?”, hazel kembali memastikan apa yang dikatakan oleh pak bimo itu benar atau malah hazel yang tadi salah dengar.

“iya HAZEL. kamu mau saya ngomong sambil teriak biar tambah jelas?!“, ucap pak bimo sembari menekan kata “hazel”.

“eh ngga pak. siap laksanakan pak. kalo gitu saya permisi dulu pak...”

setelah memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar, hazel segera bergegas pergi meninggalkan ruang bk.

saat dalam perjalanan kembali ke kelas, hazel merasa ada yang janggal dalam ruangan tadi. ia tidak melihat sama sekali sosok seorang cakra yang sudah ia tuduh, karena ia pikir cakra lah yang membuat dirinya mendapat panggilan dari bk. namun ternyata tuduhannya salah besar, ia telah menuduh cakra tanpa bukti apapun. hazel merasa sangat bersalah kepada cakra karena telah menuduhnya. bukannya cakra yang mencemarkan nama baiknya, tapi kini malah sebaliknya.

...

– quersnda